Everything Is Love [2/2]

Everything Is Love [2/2]

 

******

 

Jessica’s POV

 

Aku menatap Yul yang sedang makan dengan lahapnya. Tak terasa sudah 3 bulan ia tinggal bersamaku, dan entah mengapa perasaanku terhadapnya semakin memuncak. Dari rasa kagum, suka, lalu mungkin sekarang aku sudah mencintainya. Tapi, apakah dia punya perasaan yang sama untukku? Aku jadi teringat kata-katanya, kalau malaikat tidak bisa jatuh cinta. It

 

“Hey…”

 

Suaranya menyadarkan lamunanku.

 

“Kenapa menatapku seperti itu? Kau tidak makan makananmu?”

 

“Ah? I-iya..”

 

Dengan gugup aku mulai menyantap makananku. Ia menghentikan aktivitas makannya dan tertawa kecil.

 

“Ada apa?”tanyaku.

 

“Tidak apa-apa, aku hanya ingat kali pertama kau mencoba memasak untukku. Wow, aku tak pernah menyangka memasak dapat menyebabkan ledakan seperti itu…”

 

Aku memajukan bibirku. Dia menyebalkan, aku sudah pernah katakan untuk jangan mengungkit kejadian dimana aku hampir meledakan dapur.

“Jangan melakukan itu dengan bibirmu…aku tidak suka…”ujarnya.

 

“Kenapa?”ketusku.

 

“Karena itu selalu membuat sesuatu ingin keluar dari tubuhku. Rasanya aku akan meledak.”

 

Meledak?

 

Aku menatapnya yang kembali makan dengan lahap.

 

“Ah iya. Kau tau? Sebenarnya kalau aku berhasil dengan misiku, aku dapat meminta satu permohonan…”

 

“Benarkah? Lalu, apa yang akan kau minta?”

 

“Hmm, entahlah aku belum memikirkannya.”

 

“Tentu saja, kau terlalu sibuk makan. Hey, beratku naik 3 kg karenamu.”

 

“Benarkah? Tidak terlihat, kau tetap terlihat memukau…”

 

Aku terdiam, dan mencerna ucapannya. Apa yang baru saja dia katakan?

 

“Huahh! Aku kenyang! Terima kasih!”

 

Ia bangkit dari kursi dan mengelus kepalaku, lalu duduk di depan tv. Ia sangat menyukai cartoon klasik, salah satunya Mickey Mouse.

‘Manusia sangat kreatif’ begitu katanya.

 

Aku duduk di sebelahnya.

 

“Kau benar-benar menyukai film ini,huh?”tanyaku.

“Ya. Begitulah”jawabnya, seraya menariku kepelukannya.

 

Lagi-lagi, jantungku berdetak lebih cepat.

 

“Biarkan seperti ini. Entah kenapa aku menyukainya.”

 

“H-Huh?”

 

Aku hanya diam dan merasakan kehangatannya.

 

“Sica..”

 

“Hm?”

 

“Bagaimana rasanya….jatuh cinta?”

 

Aku melepas pelukannya dan menatapnya. Kami sama-sama terdiam.

 

Tak berapa lama kemudia kesadaranku kembali dan aku memukul pelan kepalanya seraya terkekeh.

 

“Kau ini…belajar darimana?”

 

“Aku? Aku belajar dari manusia tentunya..”ia tersenyum, senyum yang sangat aku sukai.

 

“Hmm…”aku berpikir sejenak.

 

“Bagaimana? Kau tidak pernah jatuh cinta ya, Sica?”ia menggodaku dan mengacak rambutku.

 

“T-Tentu saja pernah!”aku menepis pelan tangannya,”jatuh cinta itu akan membuat jantungmu berdetak lebih cepat, kau bersemangat dan saat melihat orang yang kau cintai kau selalu ingin berada di dekatnya.”

 

Ia mengangguk seperti anak kecil. Membuat bibirku menyunggingkan senyum tipis.

 

“Kalau begitu artinya….”

 

“Apa? Kau mencintai seseorang?”

 

“Aku mencintaimu.”

 

“A-Apa?!”

 

“Yeah…karena kau bilang seperti itu lah rasanya jatuh cinta, jadi aku menyimpulkan kalau aku mencintaimu. Karena aku merasa seperti itu setiap aku bersama denganmu…”

 

Aku terdiam. Mencerna setiap kata-katanya.

 

Apa dia bilang…dia mencintaiku?

 

“Nah sekarang…bagaimana cara memperlakukan orang yang dicintai?”

 

Aku terdiam. Aku masih merasa sangat terkejut.

 

“Kau tidak tahu ya?”

 

Aku menunduk, dan mengangguk pelan.

 

“Hmm tidak apa-apa. Aku…cepat belajar kkk”

 

Ia memelukku.

 

 

Jantungku rasanya mau lepas.

 

“Pertanyaannya adalah, apa kau merasakan hal yang sama terhadapku?”

 

Aku tak menjawabnya, tapi membalas pelukannya.

 

“Aku anggap itu sebagai iya hehe”

 

——

 

1 tahun belakangan ini, aku sangat bahagia bersama Yul. Sampai akhirnya ia mengatakan padaku dengan sangat bahagia kalau hukumannya sudah selesai.

 

“Itu artinya…kita akan berpisah, Yul…”

 

“A-apa?”

 

Aku hanya menatapnya.

 

Ia memelukku dengan erat.

 

“Tidak, tidak mau! Aku lebih baik begini selamanya daripada aku harus berpisah denganmu, Sica baby!”

 

“Tapi tujuanmu kan memang menyelesaikan hukumanmu, Yul…aku senang kalau kau mendapatkan apa yang kau mau..”

 

Aku berusaha menahan air mataku.

 

Aku dan Yul terus berdebat hingga tiba-tiba cahaya yang sangat terang muncul dan menghempasku ke dinding dengan keras.

 

“SICA!”

 

Pandanganku mulai tak jelas saat Yul memanggilku. Lalu aku melihat beberapa pria berpakaian putih mendekatiku, dan semuanya menjadi gelap.

 

——-

 

Aku mengerjapkan mataku beberapa kali.

 

 

Hanya mimpi.

 

Semua itu terasa nyata bagiku.

 

Aku terbangun dari lamunanku saat aku sadar kalau aku terlambat ke kantor. Aku lompat dari kasurku dan berlari ke kamar mandi.

 

Kulajukan mobilku dengan cepat ke kantor. Dan saat sampai aku berlari menuju ruanganku.

 

“Astaga! Hei, Jessie! Akhirnya kau di sini juga. Kau tahu? Tadi CEO mencarimu dan ia ingin memperkenalkan partnermu.”ujar Tiffany.

 

“Hah? Ah tamatlah sudah! Sekarang di mana mereka?”

 

“CEO sedang meeting..sedangkan partnermu itu sudah berada di dalam ruanganmu.”

 

Aku berjalan ke ruanganku bersama Tiffany.

 

“Mr.Kwon?”ujar Tiffany.

 

BRAKK!

 

Kwon?

 

Hmm, mengingatkanku pada seseorang.

 

Sepertinya dia orangnya ceroboh, aku tidak bisa melihat wajahnya karena ia sibuk menunduk merapikan files.

 

“I-iya, Ms.Hwang?”

 

DEG!

 

Y-Yul?

 

Ah..apa aku salah?

 

Aku melihatnya dari atas sampai bawah. Sedikit berbeda. Dia…berantakan dan kacamata yang besar itu membuatnya terlihat culun.

 

“Nah, Jessica ini Yuri..Yuri ini Jessica..pembimbingmu. aku akan tinggalkan kalian berdua..”

 

Tiffany membisikan ‘good luck’ padaku saat ia berjalan keluar.

 

Saat Tiffany sudah benar-benar keluar. Aku kembali menatapnya, dan memeriksa file mengenai dirinya.

 

“Baiklah, Mr.Kwon…Yuri? Mohon kerja samanya.”ujarku dingin.

 

“Bagaimana kalau mulai dari awal lagi?”aku langsung mengalihkan pandanganku dari file dan menatapnya.

 

Ia tersenyum dan melepas kacamatanya. Ia berjalan pelan ke arahku lalu mengulurkan tangannya.

 

“Hai, aku Kwon Yul…Kau mengingatku? Sica baby?”

 

Air mataku mengalir, dan dengan cepat aku memeluknya.

 

“Aku merindukanmu…”bisiknya.

 

Aku menatapnya.

 

“Bagaimana kau-“

 

“Yeah..banyak yang harus kujelaskan padamu…”ia menggaruk tengkuknya,”tapi pertama-tama aku harus melakukan ini.”

 

Chu~

 

Ia mengecup bibirku.

 

“Iiish! Ini kantor, Mr.Kwon!”aku memukul-mukul dadanya, ia hanya tertawa.

 

“Aku tidak tahan untuk mengecupnya. Hey, maaf kan aku haha”

 

Ia mendekapku lagi.

 

“Jangan pergi lagi…”

 

Tidak akan…”

 

“Always?”

 

“Always.”

 

-END-

Another FF pendek._.

 

STAY AWESOME, SONEs

 

-Kaz

 

 

 

 

 

 

 

 

 

22 thoughts on “Everything Is Love [2/2]

  1. hahaha itu yg diatas minta sequel ya?? hahhaah,, padahal si authornya masih ngutang sana sini hahahah
    hmm,,, wow aku yakin kwon yuri tampil seperti itu supaya semua nggak tertarik ama si kwon seobang,, right??? hahahah

  2. kyaaaaaakkk~ kwonyull sangat sangat menyebalkan karena dia romantis banget!!!!! hhhaa always?? always byunyul.😀

  3. jd nih cerita yuri kyk 49 days itu ya.. cuman terima hukuman n klo udh selesai tugasnya lgsg balik ke surga gtu.. bbrp thn kemudian, yuri tiba2 muncul kyk org culun gtu..
    keren nih..

  4. Hhhaa gue ngakak pas cerita Sica msak sampe mau meledakkan dapur.. emg Sica ga bsa msak dri dlu..
    Eyyy cie akhirny nyatu jg mreka.. tpi kn bysany mlaikat yg jdi mnusia itu ga inget kjadian yg lalu.. tpi daebak thor..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s