[DRABLE] Simple Love Story

32

[DRABLE]Simple Love Story

 

GENDER BENDER

 

YULSIC

 

*****

 

 

Author’s POV

 

“Hey lihat! Anak ini mengompol!”ujar seorang anak laki-laki berumur sekitar 11 tahun dan berkulit kecoklatan itu.

“Jessica Jung mengompol! Hahahaha”ujarnya membuat seisi kelas ikut tertawa.

“KWON YURI!”

“M-Ms.Lee?”

“Tidak seharusnya kau melakukan itu, Mr.Kwon. Seharusnya kau Jessica.”ujar Ms.Lee seraya membawa Jessica ke toilet.

 

—–

 

“Naik.”ketus Yuri pada seorang gadis berambut coklat di sebelahnya.

 

Gadis itu hanya diam.

 

“Hey, Jessica Jung. Kau mau naik atau tidak? Ibumu bisa marah kalau kita pulang terlambat”

 

Dengan ragu Jessica menaiki sepeda Yuri.

 

“Pegangan yang kuat, orang tuamu sudah baik padaku karena menampungku di saat orang tuaku sudah tidak ada. Jadi aku tidak ingin kau terjatuh atau apapun. Walaupun aku sangat membencimu.”ujar anak laki-laki itu.

 

7 years later…

 

“Yul, itu Jessica.”ujar Taeyeon salah satu teman Yuri.

Yuri menanggapinya dengan tersenyum jahil lalu ia menuju tempat Jessica dan teman-temannya seraya membawa botol berisi air.

Dingin.

 

Itulah yang Jessica rasakan saat ini saat air yang Yuri tumpahkan itu mengenai hampir seluruh badannya.

“Kwon Yul!”Tiffany menggertak Yuri, tetapi pria itu hanya menyeringai. Membuat Tiffany dan Jessica segera meninggalkan kantin.

——

“Yul? Ada apa dengan Jessica?”tanya Mrs.Jung

“Hm? Memang ada apa, Mrs.Jung?”

“Entahlah, dia pulang dan menangis.”

Yuri tidak menjawab, dia langsung menghampiri Jessica ke kamarnya.

Dan benar, Jessica sedang menangis.

“Maaf.”ujar Yuri. Suaranya mengagetkan gadis yang sedang menangis itu.

“Y-Yul?”

“Maafkan aku.”

Jessica tidak menjawab, melainkan diam dan menatap Yuri. Sedangkan, Yuri sudah meninggalkan Jessica dan masuk ke dalam kamarnya.

——

“Sooyeon, cepat turun kau tidak mau terlambat kan?”ujar Mr.Jung dari lantai bawah.

Jessica setengah berlari menuruni anak tangga.

Daddy akan mengantarmu, Yul sakit jadi dia tidak bisa sekolah.”jelas Mr.Jung.

“Kwon Yul? Sakit?”pikir Jessica.

——–

“Jessie? Kau pasti merasa damai ya? Kwon Yuri sakit hahaha. Setidaknya dia tidak akan mengganggumu untuk hari ini.”ujar Tiffany.

“Hey, Donghae melihatmu terus, Jessie…”bisik Sunny. Dan beberapa saat setelah itu, pria yang baru saja disebutkan namanya itu menghampiri mereka dan duduk di sebelah Jessica.

“Hai, Jessica. Bagaimana kalau nanti kita pulang bersama?”ujar Donghae dengan senyum yang menjijikkan.

Jessica mengangguk. Melihat itu Donghae tersenyum puas dan pergi.

What the- Hey! Kau menerima ajakkannya begitu saja?! Gosh! Kau lihat betapa menjijikkannya senyum Donghae?! Kau lihatkan Sunny?”ujar Tiffany, setengah-berbisik.

“Aku melihatnya, Tiff. Jessie, apa yang kau pikirkan?”

“Tidak ada, sepertinya dia baik.”ujar Jessica lalu menyeruput juice strawberry-nya.

Kedua temannya hanya menatap heran.

——-

“Sooyeon, bawakan makan malam Yuri ke kamarnya ya.”ujar Mrs.Jung.

“A-Aku? Tapi, Mom…”

“Ada apa? Ini, Yul pasti sudah lapar…dan demamnya tinggi sekali”

Jessica akhirnya menuruti permintaan ibunya.

Ia membuka pelan pintu kamar Yuri dan mendapati pria yang sering menjahilinya itu tertidur lelap dengan wajah yang tampak pucat.

Jessica meletakan nampan berisi makanan Yul di atas meja.

“Yul…”Jessica berusaha membangunkan Yuri. Tetapi, pria itu tak kunjung bangun dari tidurnya sampai akhirnya Jessica memutuskan untuk keluar.

Saat Jessica akan berjalan pergi, ia merasakan tangan yang hangat menggenggam pergelangan tangannya.

“Yul? Kenapa?”Jessica berbalik dan mendapati Yuri menatapnya lemah dan menggenggam pergelangan tangannya.

“Kau harus menemaniku makan malam.”ujar pria itu dengan dingin.

“T-Tapi…Baiklah”Jessica duduk di tempat tidur Yuri.

Hening. Tak ada satupun diantara mereka yang berbicara. Yuri sibuk dengan makanan dan pikirannya. Sementara Jessica heran mengapa Yuri sangat lama menghabiskan makanannya.

“Aku lihat kau pulang dengan Donghae tadi”Yuri membuka pembicaraan tetapi matanya melihat kea rah makanannya.

“Ehm..Ya…Begitulah”

Yuri mengepalkan tangannya sekuat mungkin.

“Aku sudah selesai”Yuri meletakan makanannya di meja sebelah tempat tidurnya.

“Kau tidak menghabiskan makananmu?”

Pertanyaan Jessica dibalas Yuri dengan tatapan dingin.

“B-Baiklah aku keluar.”

Lagi-lagi Yuri menahan Jessica. Tapi kali ini Yuri menarik gadis itu sehingga Jessica jatuh ke dalam pelukannya.

Jarak mereka sangat dekat, rasanya bisa mendengarkan detak jantuk masing-masing.

“Y-Yul…”

Yuri tidak menjawab, ia malah mendekap Jessica semakin erat.

“Jangan pergi dengan Donghae lagi. Aku akan masuk besok dan kau akan pulang bersamaku. Ingat itu…”

“Tapi, kau…sakit..”

“Tidak apa-apa.”Yuri mengendurkan pelukannya dan menatap Jessica seraya tersenyum kecil.

Jessica terkejut. Karena ini adalah pertama kalinya Yul tersenyum tulus padanya.

“Maaf karena memelukmu. Sekarang tidurlah. Dan, terima kasih sudah menemaniku makan…”

Jessica kembali ke kamarnya tanpa berkata apa-apa. Ia terlalu kaget.

Saat sampai di kamarnya, ia menghela nafas dan memegang dadanya.

“Kenapa…jantungku tidak mau berdetak normal…”gadis itu merebahkan diri di kasurnya dan tertidur.

——-

Di pelajaran biology, Yuri merasakan kepalanya sakit. Itu karena ia belum benar-benar sembuh dan memaksakan diri untuk masuk sekolah.

Ia melihat Jessica yang serius mencatat apa yang dijelaskan Mr.Kim.

Yuri membuka kacamatanya dan menyandarkan kepalanya pada pundak Jessica, membuat gadis itu merasakan nafas hangat Yuri di lehernya.

“Y-Yul…kau merasa tidak baik?”

Yul mengangguk pelan.

“Beristirahatlah sebentar..”ujar Jessica.

“Aku sedang melakukannya”balas Yuri.

‘Tidak di pundakku, Kwon Yul…”Jessica mendorong pelan kepala Yuri.

Yuri terkekeh pelan dan menjatuhkan kepalanya di atas meja. Tidak hanya sampai di sana, ia mengambil tangan kiri Jessica dan menggenggamnya.

“Aku butuk kehangatanmu, Jung Sooyeon…”bisik Yuri tepat di telinga Jessica.

Jessica merasa wajahnya sangat panas dan ia yakin wajahnya sangat merah sekarang.

——

Yuri menghampiri Jessica saat istirahat.

“Ehm, Sica?”

“Sica?”

 

“Ya, Yul?”

“Nanti sepertinya kau tidak bisa pulang denganku. Maaf”

“Kenapa?”

Yuri tersenyum bodoh,”ban sepedaku kempes jadi sepertinya harus berjalan kaki. Aku tidak ingin kau lelah”

Melihat perlakuan Yuri, Jessica merasa sangat bingung. Termasuk teman-temannya.

“Tidak apa-apa, Yul. Ayo berjalan”ujar Jessica dan membalas senyum Yuri.

—–

“Siap?”Yuri mengulurkan tangannya pada Jessica.

Jessica ragu untuk memegang tangan Yuri.

“Seperti ini…”Yuri mengambil tangan Jessica dan mengaitkannya dengan lengan miliknya.

Sekali lagi, Yuri berhasil membuat pipi Jessica bersemu merah.

——

“Yul, kenapa kau selalu menjahiliku?”akhirnya Jessica memberanikan diri untuk bertanya pada Yuri.

“Hm? Ya, itu salahmu. Kkk”

Jessica kesal karena Yuri tak serius menanggapinya.

“Salahku? Kaulah satu-satunya yang salah Kwon Yul”ketusnya.

“Itu salahmu. Salahmu karena kau terlalu cantik sehingga aku ingin terus menjahilimu”

Kata-kata Yuri membuat Jessica melihat ke arah pria itu.

“M-Maksudmu?”

Yuri mengelus kepala Jessica,”tidakkah kau melihat kalau aku benar-benar mencintaimu?”

“A-Apa? Bohong. Berhentilah menjahiliku Kwon Yul.”

“Aku serius, Jessica Jung..”Yuri memebelai pipi Jessica dengan lembut lalu memeluk Jessica.

I love you…right now and forever”bisiknya

“T-Tapi Yul…Donghae..”

“Aku tahu. Aku sudah tahu hehe.”

Yuri menatap Jessica.

“Berjanjilah kau bahagia bersama Donghae. Mencintai tak harus memiliki bukan? Kkk”

“Aku berjanji, Kwon Yul”

“Bagus. Kkk”

Entah kenapa, tawa Yuri terdengar seperti tangisan di telinga Jessica.

——-

“Jessica sendirian?”

 

“Sepertinya. Menyedihkan sekali dia harus menghadiri Prom Night tanpa Donghae.”

 

“Kudengar mereka putus karena Donghae berselingkuh.”

 

“Sepertinya benar. Aku tidak melihat Donghae saat ini. Mungkin dia tidak hadir”

 

Yuri mengepalkan tangannya saat mendengar percakapan beberapa gadis. Matanya terus tertuju pada gadis berambut coklat yang sedang merenung sedih sendirian.

Yul berjalan menghampiri gadis itu.

“Sica?”

Yuri mengulurkan tangannya dan tersenyum. Ia ingin membuat Jessica bahagia malam ini.

“May I, Princess?”

 

Jessica tersenyum kecil melihat perlakuan Yuri dan menyambut tangan Yuri.

Mereka berdansa mengikuti alunan music pelan yang dibawakan oleh band sekolah.

Yuri memeluk Jessica sambil terus berdansa.

“Kau sudah berjanji akan bahagia.”bisiknya.

“Maafkan aku…”

“Bukan salahmu”Yuri menatap wajah Jessica yang sudah berlinang air mata. Dengan lembut Yuri menghapus air mata Jessica.

“Kau jelek saat menangis. Kau harus berjanji tidak boleh menangis. Dan kau harus benar-benar menepati yang satu ini.”ujarnya sambil terus mengusap wajah Jessica. Membersihkan wajah cantik itu dari air mata.

Jessica tersenyum dan mengagguk. Ia memeluk Yuri erat.

——-

Mom? Dimana Yul?”

“Kau tidak tahu? Yul sudah ke London untuk melanjutkan studi di sana. Dia bilang kau sudah tahu dan tak perlu membangunkanmu. Ia baru saja pergi pagi tadi.”

Jessica hanya terdiam mendengar kata-kata ibunya.

Ia merasakan bulir crystal mulai mengalir dari sudut matanya.

Berjanjilah untuk tidak menangis.

 

Suara Yuri seperti lonceng di kepalanya. Jessica segera menghapus air matanya. Ia berjalan lunglai ke kamarnya dan menemukan pesan yang ditempelkan di cermin.

Maafkan aku, Sica. Aku harus pergi untuk mengejar masa depanku. Saat aku kembali kau harus sudah menemukan orang yang tepat untukmu, mengerti? I love you” –Kwon Yul

 

Jessica meremas kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah.

——-

Jessica tersenyum saat merasakan sepasang tangan kekar melingkar di tubuhnya. Tangan yang menjaganya tetap hangat dan membuatnya merasa aman setiap malam.

Ia merasakan pelukan itu semakin erat.

“I love you, baby”

“I love you too…Kwon Yul”

 

 END

STAY AWESOME, SONEs!

© KZSNE 2013

[ONESHOOT] Wishes

35

Wishes

 

GENDER BENDER

 

TAENY, SNSD

 

!!!TERINSPIRASI DARI SEBUAH NOVEL!!!

 

******

 

 

Author’s POV

 

Tiffany Hwang. Seorang gadis biasa berumur 18 tahun. Ia berdiri sendiri di bawah lampu taman sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya untuk menghangatkan dirinya. Ia memang tampak biasa. Tapi dia memiliki sesuatu yang tidak akan diduga oleh siapapun.

 

Flashback

 

“T-Tolong aku…”

 

Tiffany segera berlari mengelilingi taman mencari sumber suara itu. Ia merasa aneh, sepertinya ia sendirian di taman bermain ini. Terlebih lagi itu adalah malam hari.

 

Tak lama, di balik semak-semak ia menemukan sosok bersayap putih dan merintih kesakitan.

 

“Malaikat?”gumamnya

 

“T-Tolong…”

 

Tiffany memberanikan diri menghampiri sosok dengan cahaya yang hampir redup itu.

 

“H-Hey, kau tidak apa-apa? Gosh! Kau terluka!”Tiffany mencoba menutup luka sosok itu, tapi cairan berwarna perak itu terus mengalir dari luka tersebut.

 

Sosok itu tidak merintih lagi, tapi ia menangis. Ia menyerahkan sesuatu pada Tiffany. Sesuatu yang berbentuk seperti kalung dengan manik mutiara. Sesuatu yang terbilang sangat indah.

 

“A-Apa ini?”

 

Sosok itu tidak menjawab.

 

“Kau memberikannya padaku?”

 

Sosok itu mengangguk,”Sentuh. Berpikir. P-Permintaan…”ia mengehentikan kata-katanya sebentar.

 

“Permintaan? Apa maksudmu?”

 

“T-Terkabul…”

 

“Apa?”

 

“O-Orang baik”

 

Itulah kata terakhir yang diucapkan sebelum sosok itu menghilang dari pelukan Tiffany.

 

Flashback End

 

Ia tidak tahu, seseorang sedang mengawasinya dan bersiap untuk menyerangnya.

 

Mengeram dan menggigit.

 

Seseorang itu menggigit leher Tiffany, tapi itu sama sekali tidak membuat gadis itu terkejut.

 

“Berhentilah menggigit leherku, Kim Taeyeon. Jangan berakting seolah-olah kau adalah vampire yang menakutkan.”ketusnya.

 

“Bagaimana kau tahu ini aku?”ujar seseorang yang bernama Kim Taeyeon itu. Laki-laki berumur 19 tahun itu adalah mantan kekasih Tiffany. Mereka melewati masa-masa yang terbilang indah. Setidaknya.

 

“Aku sudah muak dengan geraman jelekmu itu.”

 

Tiffany berjalan pergi meninggalkan Taeyeon.

 

Dulu, Tiffany akan berjinjit untuk sekedar mengecup bibir Taeyeon. Tapi tidak untuk sekarang.

 

“Aku ada pekerjaan di sekitar sini besok malam. Tertarik?”ujar Taeyeon sambil mengikuti Tiffany.

 

“Tidak, aku tidak tertarik dengan project bodohmu itu. Menakuti turis dengan menyamar sebagai vampire? Bukankah itu konyol? Get a life, Kim!”Tiffany terus berjalan.

 

“Ayolah, baby. Bukankah dulu kau menyukainya? Lagipula aku suka melihatmu mengenakan gaun ketat berwarna merah itu. Membuatmu tampak lebih..err..sexy

 

Mendengar itu, membuat Tiffany sangat menyesal menunjukan itu pada mantan kekasihnya itu.

 

“Ngomong-ngomong aku akan bekerja pagi ini”

 

“Aku tidak tanya”Tiffany menjawabnya dengan ketus. Dia bisa saja memeluk Taeyeon karena akhirnya Taeyeon mendapat pekerjaan. Tapi sekarang? Tiffany akan berpikir berkali-kali untuk itu. Ia bahkan tidak ingin bertanya tentang pekerjaan Taeyeon.

 

Seharusnya ia bertanya.

 

Gadis itu mempercepat langkahnya menuju sekolahnya. SoShi School of Art. Saat ia melihat ke belakang, Taeyeon sudah tidak tampak lagi.

 

Tiffany bernafas lega dan masuk ke dalam kelasnya untuk menemui sahabatnya, Jessica Jung.

 

Jessie?”

 

Gadis berambut kecoklatan itu tersentak dan mengalihkan pandangannya dari pensilnya.

 

“Tiff! Kau mengagetkanku!”

 

Tiffany hanya tersenyum lalu duduk di samping Jessica.

 

“Melihat wajahmu, kau habis bertemu dengan si brengsek itu. Benar?”

 

“Lebih tepatnya, tidak sengaja bertemu.”

 

“Entahlah, karena sepertinya ia selalu mengikutimu. Haish, dia membuatku gila. Aku rasa kau harus mengejutkannya dengan alat kejut listrik. Kalau aku jadi kau, aku akan melakukannya.”

 

“Kau gadis manis yang kejam. Pantas saja Yul takut padamu hahaha”

 

“Yeah, kau benar. Tapi aku menyayanginya.”Jessica tersipu malu.

 

“Aku berharap Yul bukan orang seperti Taeyeon.”

 

“Tentu saja bukan!”Jessica membentuk tanda ‘X’ dengan kedua tangannya.

 

Tiffany tersenyum melihat sahabatnya itu.

 

Tak terasa kelas semakin ramai dan pelajaranpun di mulai.

 

“Siapa yang akan menjadi model kita hari ini?”tanya Jessica.

 

“Entahlah, mungkin si tua Mrs.Robbert?”

 

Aku tidak ingin menggambarnya? Wanita tua itu sudah tidak pantas dijadikan model dengan tubuhnya yang sudah berkerut itu”ujar Yul.

 

“Apa yang kau harapkan Yul? Model yang sexy?”

 

Dingin dan menusuk. Itulah Jessica Jung.

 

“T-Tidak, bukan begitu, Sica baby. Bukankah lebih nyaman menggambarnya jika tidak terlalu banyak kerutan? Aku malas untuk menggambar kerutan.”

 

“Teruslah berbohong, Kwon Yul. Aku tahu apa isi otakmu.”

 

“S-Sica, percayalah. Hanya kau gadis yang menggoda di mataku.”

 

Jessica memutar bola matanya.

 

“Ssst, Mrs.Chloe datang”ujar Tiffany.

 

Model baru yang dibawa Mrs.Chloe sangatlah tidak asing di matanya. Dan saat orang itu membuka jubbah yang menutupi wajahnya, Tiffany tidak dapat berkata apapun.

 

“Tiff….”Jessica berbisik.

 

“Tidak mungkin..”Yul tidak dapat berkedip. Sedangkan Tiffany, dia merasa suaranya hilang dan jantungnya berdetak cepat.

 

 

“Ini model baru untuk sketch kita hari ini. Mr.Kim Taeyeon”

 

 

Taeyeon melihat Tiffany dan mengedipkan matanya ke arah gadis itu. Siswa-siswa lain mulai berbisik.

 

“Bukankah dia kekasih Tiffany?”

 

“Ya, kau benar. Wow, dia tampan”

 

Tiffany hanya bisa mengernyitkan dahinya. Ia kembali normal. Ia mengambil pensil yang telah diserutnya dan bersiap untuk menggambar.

 

Taeyeon membuka jubahnya dan memperlihatkan seluruh bagian tubuhnya yang sangat terbentuk. Dari abs yang sempurna, hingga penis yang berukauran cukup besar. Ia mulai mengambil pose di kasur yang sudah disediakan. Pose yang benar-benar menggoda, ia tampak seperti mengajak gadis-gadis bermain bersamanya di atas kasur. Ditambah lagi dengan tatapan nakal itu.

 

Tiffany hanya bisa menahan rasa muaknya. Tiba-tiba Tiffany teringat akan benda bermanik indah itu.

 

Ia memasukkan tangan kirinya ke dalam saku jacketnya dan menyentuh salah satu butir manik itu.

 

Gatal.

 

Permohonan yang sangat simple dari gadis bermata indah itu.

 

Taeyeon mulai menggaruk sikunya ke permukaan kasur. Tiffany tersenyum tipis melihat itu. Laki-laki itu teteap tenang tanpa merubah posisinya.

 

Tiffany menyentuh manik kedua.

 

Taeyeon mulai gelisah. Ia tidak bisa menahan rasa gatal di hidungnya. Ia menggaruknya cepat lalu kembali ke posisi awal.

 

Ini yang terakhir. Untuk segalanya. Dan untuk yang tidak bisa dikembalikan”pikir Tiffany.

 

Keperawanannya.

 

Itulah yang dimaksud Tiffany.

 

Taeyeon semakin gelisah. Tiffany dapat melihat keringat dingin meluncur di dahi laki-laki itu. Taeyeon berusaha sebisa mungkin menahan rasa gatal yang amat sangat itu. Ia tidak mungkin menggaruk bagian yang cukup memalukan untuk digaruk.

 

Taeyeon tidak tahan lagi, ia mengambil jubahnya dan berlari meninggalkan kelas.

Murid-murid di dalam kelas Tiffany menjadi kebingungan dan mereka berakhir dengan menggambar buah-buahan.

 

——

 

“Ah, aku rasa ada yang salah dengan bajingan itu hahaha. Hebat bukan, Tiff? Rasanya seperti permohonanmu untuk mempermalukannya menjadi terkabul?”ujar Jessica.

 

Yeah. Kau benar.”Tiffany tersenyum.

 

Ia tidak bisa berhenti tersenyum melihat kejadian tadi.

 

Hari ini benar-benar hari yang membahagiakan untuknya. Ia berharap, setelah ini Taeyeon tidak akan menggangunya lagi.

 

*****

 

Di akhir pekan ini, Tiffany merasa sangat bosan. Ia sudah mencoba memainkan berbagai macam game yang ada di ponselnya tapi ia tetap merasa bosan.

 

Ia memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di tempat tidur berwarna pink itu dan memejamkan matanya sebentar.

 

Drrrt…

 

Tiffany membuka matanya dan segera mengambil ponselnya yang bergetar.

 

 

 

Sebuah pesan. Dari orang yang sangat tidak ia harapkan.

 

 

 

“AKU DI DEPAN APARTMENTMU. TURUNLAH”

 

 

Tiffany tak membalasnya, tetapi dia tetap turun untuk menemui Taeyeon.

 

 

 

——-

 

 

 

“Mau apa?”ketus Tiffany seraya memasukan tangannya ke saku jacketnya karena udara sangat dingin.

 

“Jalan-jalan”

 

“Aku tidak mau.”

 

Tiffany membalikan badannya dan bersiap untuk masuk ke dalam gedung apartmennya lagi.

 

I love you.”

 

Tiffany menghentikan langkahnya.

 

“Kenapa kau begitu membenciku?”tanya Taeyeon.

 

Kali ini Tiffany tidak bisa menahannya lagi. Dia membalikan badannya dan melihat Taeyeon tepat di matanya.

 

“AKU SANGAT MEMBENCIMU! KENAPA? KARENA AKU SUDAH BODOH MEMBERIKAN SEGALANYA PADAMU, KIM TAEYEON! DAN LIHAT APA YANG KAU LAKUKAN?! KAU MALAH MAIN GILA DENGAN TEMAN-TEMANMU DAN KAMU BERMAIN DI BELAKANGKU?! TIDAK KAH KAU BERPIKIR?! KAU PIKIR DENGAN WAJAHMU YANG MENJIJIKKAN ITU KAU BISA MENARIKKU KEMBALI?! MAAF, KIM! KAU SALAH! SEKARANG AKU BERHARAP AKU TIDAK AKAN PERNAH MELIHATMU LAGI. SELAMANYA!”

 

Taeyeon terdiam mendengar Tiffany mencacinya.

 

“Aku mengerti”Taeyeon menunduk,”aku pergi…maafkan aku.”

 

Belum sempat Tiffany membalas perkataannya, sebuah truk melaju kencang dan menabrak Taeyeon. Seketika tempat itu dikerubungi banyak orang.

 

Tiffany menerobos orang-orang itu dan melihat Taeyeon berlumuran darah.

 

Lututnya lemas. Ia tak sanggup berkata-kata.

 

Taeyeon benar-benar sudah pergi.

 

Ia mengeluarkan tangannya dari sakunya, dan sebuah benda dengan manik yang hampir setengahnya menghilang digenggamnya.

 

“Apa yang sudah aku lakukan?”gumamnya.

 

Karena ia merasa sangat marah, ia tak sadar kalau ia mencengkram benda itu. Dan, permintaannya terkabul.

 

Sekarang Taeyeon tidak akan muncul di hadapannya lagi. Selamanya.

 

Tiffany menangis dan menggenggam tangan Taeyeon bersamaan dengan benda bermanik itu.

 

“Aku harap kau kembali. Aku mohon, Kim Taeyeon. Kembalilah”

 

Tak ada respon sama sekali.

 

Tim medis datang dan megangkat Taeyeon menuju rumah sakit. Di dalam ambulance, Tiffany masih menggenggam tangan Taeyeon dan mengharapkan pria itu kembali.

 

Benar-benar tak ada respon.

 

Tiffany menangis semakin keras dan memanggil nama Taeyeon terus-menerus.

 

“Aku minta maaf…TaeTae…”

 

Kau menyesal, hm?”

 

Sebuah suara mengejutkan Tiffany. Ia melihat ke sebelahnya.

 

Malaikat itu.

 

Kau tahu, kau sudah menyalah gunakan benda itu? Membalas dendam dan membunuh orang. Bukankah itu perbuatan keji, Stephanie?

 

Tiffany terus menangis.

 

Malaikat itu menggenggam tangan Tiffany.

 

Kau masih menyisakan satu pearl. Buatlah permintaan terakhirmu. Tapi, bukan permintaan yang meminta untuk menghidupkan pria malang ini. Itu tidak akan berhasil. Kau hanya membuang-buang pearl.”

 

Tiffany terdiam memandangi satu butir manik di tangannya.

 

“Aku…”

 

Ya?”

 

“Aku harap, aku bisa memulai semuanya dari awal lagi.”

 

Hmm, aku juga berharap kau yakin dengan keputusanmu, Stephanie.”Malaikat itu mengelus kepala Tiffany,”watch your wish

 

Setelah mengatakan itu, malaikat itu menghilang. Dan Tiffany tidak dapat mengingat apapun.

 

——

 

Tiffany membuka matanya.

 

Dia melihat langit-langit ruangan yang sangat taka sing baginya.

 

Langit-langit kamarnya.

 

Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali karena mendengar suara di dapur.

 

Ia mulai berjalan ke arah dapur, dan di sana ia menemukan seorang pria yang sedang memasak.

 

“T-Taeyeon?!”

 

“Oh? Kau sudah bangun? Duduklah, aku membuatkanmu sarapan, Princess

 

Tiffany menangis, ia segera berlari dan memeluk pria itu.

 

“T-Tiffany? Baby, kau kenapa?” Taeyeon memeluk Tiffany dan mengelus punggung gadis itu untuk menenangkannya.

 

“Aku tidak mau kau pergi, TaeTae…”

 

Taeyeon tidak menjawab, ia hanya mengeratkan pelukannya.

 

“Kau tahu, Tiff? Kau mengingatkanku pada mimpiku tadi pagi…”

 

Tiffany melihat ke arah Taeyeon.

 

Well, aku bermimpi aneh. Aku bermimpi kalau aku tertabrak truk dan kau berkata kalau kau tidak ingin melihatku selamanya karena aku adalah laki-laki brengsek. Bukankah itu buruk?”

 

Tiffany kembali membenamkan wajahnya di dada bidang Taeyeon lalu menjawab, “ya, sangat buruk.”

 

Taeyeon terkekeh lalu mengecup bibir Tiffany.

 

“I love you, Hwang Miyoung”

 

“I love you too, Kim Taeyeon”

[3/?] CHOSEN

34

[3/?] CHOSEN

 

SNSD, KARA’S NICOLE

 

GENDER BENDER

 

WARNING! SHORT UPDATE!

 

*****

 

Taeyeon’s POV

 

Argh…

 

Kepalaku sakit. Dan punggungku, benar-benar sakit. Mungkin efek  terpental tadi.

 

Ah! Benar! Tiffany?!

 

Aku membuka lebar mataku saat mengingatnya. Tapi, aku lega karena wanita itu berbaring di sebelahku. Sepertinya dia belum sadar. Mungkin dia terluka karena petirku. Aku memeriksanya, dia baik-baik saja tanpa luka sedikitpun. Bagaimana bisa?

 

“Enngh…”

 

“Tiffany? Kau sadar?”

 

“T-Taeyeon?!”ia terkejut melihatku, tentu saja.

 

“M-Maaf karena menyerangmu…”

 

“Aku yang seharusnya minta maaf, Taeyeon”

 

“Kau istirahatlah…”aku mengelus kepalanya dan turun dari tempat tidurnya.

 

Sial. Kepalaku sakit sekali!

 

“Taeyeon?!”

 

Tiffany turun dari kasur dan menghampiriku. Dia memelukku dan memegang kepalaku. Entah hanya perasaanku, tapi ada sesuatu, seperti mengalir dan seketika itu sakit di kepalaku hilang. Begitu juga sakit di punggungku.

 

“Tiffany? Kau…bisa menyembuhkan orang?”

 

“Kurasa, ah itu tidak penting. Sekarang yang terpenting adalah kau harus istirahat!”

 

Dia membantuku berdiri dan merebahkanku di tempat tidurnya.

 

“Kau sangat baik, Tiffany. Terima kasih”

 

Dia tersenyum. Senyum yang benar-benar indah.

 

“Aku sangat mengkhawatirkanmu, Taeyeon”

 

Aku tersenyum mendengar pikrannya.

 

“A-Aku akan membuatkanmu makanan”

 

Saat ia akan keluar, aku menarik tangannya sehingga ia jatuh di pelukanku.

 

“Begini lebih baik.”ujarku sambil memeluknya.

 

“T-Tae…?”

 

“Nyaman…”

Aku terus memeluknya sampai akhirnya kami tertidur.

 

 

Yul’s POV

 

“Yul! Nicole datang!”teriak Jessica, memberitahukan bahwa sepupunya datang dari Amerika.

 

Aku segera menghampiri mereka. Kami berbincang di ruang tamu, sesekali tertawa mendengar cerita Nicole di Amerika.

 

Tiba-tiba bell apartmentku berbunyi. Aku meninggalkan Jessica dan Nicole yang sedang mengobrol untuk membukakan pintu.

 

Aku membuka pintu dan…Siapa ini?

 

Aku melihatnya dari bawah hingga atas. Pria ini sangat rapi, dengan jasnya. Ia terlihat elegant.

 

“Selamat sore, Mr. Kwon. Aku adalah Kim Hyo. Aku di sini untuk membucarakan tentang kekuatanmu.”

 

Mendengar itu, aku segera keluar dan menutup pintu apartmentku.

 

“Sssst, jangan keras-keras.”

 

“Maaf, Mr.Kwon”

 

“Sudah, sudah. Hey, kau tahu sesuatu tentang kekuatan aneh ini?”

 

“Aku tahu semuanya, Mr. Kwon”

 

“Yul? Sia- Hey, siapa ini?”Jessica menghampiriku.

“Eh? I-Ini…Kim Hyo…”

 

“Kim Hyo?”

 

“Maksudku, Kim Hyoyeon. Dia sepupuku.”

 

“Hm? Kau tidak bilang kalau sepupumu juga akan datang.”

 

“Aku juga tidak tahu, kau ini, Hyo!”aku merangkul pria rapi itu.

 

Pria itu hanya tersenyum.

 

“Begitu? Baiklah, tunggu apalagi? Ayo masuk!”Jessica menarikku dan Hyo.

 

“Nicole, ini sepupunya Yul. Namanya Kim Hyoyeon.”

 

Hyo’s POV

 

Nicole? Nama yang cantik untuk wanita cantik.

 

Dia tersenyum. Sangat manis.

 

“Sica, aku ada perlu dengan Hyo. Kalian silahkan mengobrol lagi”Kwon Yul tiba-tiba saja menarikku ke, entahlah mungkin ruang kerjanya.

 

“Hey, sekarang bisa kau jelaskan apa yang terjadi pada kami. Kau tahu kan? Kami. Aku, Kim Taeyeon dan Tiffany”

 

“Mr.Kim dan Ms.Hwang. Tentu aku tahu.”

 

“Apa semua ini…maksudku kejadian ini sudah di rencanakan?”

 

“Ya, bisa dibilang begitu. Ini keputusan Master

 

Master?”

 

“Ya, dari semua manusia yang kami lihat. Kalianlah yang cocok. Hati yang baik dan keyakinan yang hebat. Kalian tidak akan menyalah gunakan kekuatan yang diberikan.”

 

“Begitukah? Hey, jadi kalian bukan manusia?”

 

“Tenanglah, kami juga manusia. Hanya saja mungkin sedikit…emm…bagaimana aku menyebutnya? Special?”

 

Kwon Yul menganggukan kepalanya.

 

“Ada lagi yang mau kau tanyakan, Mr.Kwon?”

 

“Ah, ya aku sedang berpikir. Dan panggil saja aku Yul”

 

Aku mengangguk.

 

“Apa ada yang lain? Maksudku…orang sepertimu. Yang di utus oleh Master itu”

 

“Tentu.”

 

“Siapa?”

 

“Maaf emm Yul..aku tidak bisa memberitahu. Mungkin nanti kau akan tahu sendiri.”

 

“Baiklah. Dan Hyo, apa tujuan semua ini?”

 

“Ada bahaya besar yang akan datang. Dan kami membutuhkan kalian”

 

“Bahaya besar? Bagaimana aku bisa membantu? Aku bahkan belum bisa menguasai kekuatanku.”

 

“Itulah tujuanku kemari. Aku akan membantumu dan Ms.Hwang”

 

“Aku dan Tiffany? Bagaimana dengan Taeyeon?”

 

“Mr. Kim sudah bisa menguasai semua kekuatannya. Hanya tinggal pengendaliannya saja”

 

“Benarkah? Whoa, si pendek itu hebat juga. Baiklah. Kapan kita akan berlatih?”

 

“Aku harus membawamu ke tempat kami. Dan bertemu Master. Setelah itu, kita akan memulainya”

 

Taeyeon’s POV

 

“Ada apa Yul?”

 

Aku melihat Yul duduk di sofa rumahku. Dia bersama seorang pria yang bernama Hyo. Kata Yul dia tahu tentang semua ini dan akan membantu.

 

Aku mengerti setelah Hyo menjelaskan semuanya. Tiffany pun menganggukkan kepalanya dari tadi.

 

“Jadi begitu…Baiklah, kapan kita akan pergi?”

 

“Besok pagi”

 

“APA?!”sahut kami bertiga.

TBC

 

TEASER CHOSEN 4

 

Master, aku kembali”

 

“Kerja yang bagus, Hyo?”

 

“Heh? Suara wanita?”ujar Taeyeon.

 

Master membuka penutup kepalanya dan membalikan badannya.

 

“Kau…?!”ujar Yul

 

“Tidak mungkin?! Selama ini…kau Master itu?”Taeyeon menggeleng tidak percaya.

 

“Hey, kalian…”ujar Master.

 

Siapa dia?”bisik Tiffany kepada Taeyeon.

 

“Dia itu……”

 

—–

 

Maaf, guys aku update pendek. Aku gak bisa mikir. Sekarang Sooyoung juga udah punya pacar T^T

 

STAY AWESOME, SONEs!

 

© KZSNE 2013

[ONESHOOT/SMUT] Am I Just Your Toy?

38

[ONESHOOT/SMUT] Am I Just Your Toy? 

YULSIC

 

SNSD, NICOLE JUNG, BOA

 

GENDER BENDER

 

Sebenernya tadi gam au update. Masih shock dgn Yoona LSG hahaha. Tapi kita sbg SONE tgsnya adl ngedukung SOSHI yak an? So, aku gak mau ambil pusing lagi dan keep support Yoona haha. Dan silahkan menikmati selingan NC ini.

 

PLEASE DON’T READ IF YOU DON’T LIKE MATURE STORY. THANKS

 

******

 

 

Jessica’s POV

 

“Hahahaha jadi begitulah semalam, Taeyeon begitu hebat!”tawa Tiffany meledak memenuhi café di miliknya yang sudah tutup dan hanya menyisakan aku, Seohyun, Sunny, dan Nicole. Ia tampak sangat bahagia jika sedang menceritakan tentang Taeyeon.

 

“Hahh, kalau Sooyoung pikirannya makan terus. Bahkan saat berhubungan denganku dia mengoleskan coklat ke atasku”ujar Sunny.

 

“Hey, tapi itu pasti sangat sangat hot, Sunny!”ujar Nicole,”Hyoyeon selalu melakukannya dengan lembut. Aku menyukai caranya memperlakukanku seperti seorang princess”lanjutnya dengan mata berbinar.

 

“Bagaimana denganmu, maknae?”tanya Tiffany tiba-tiba. Semua melihat kea rah Seohyun.

 

“Y-Yoong sangat sabar…ia selalu lembut terhadapku…”jelasnya dengan malu-malu.

 

“Aaah romantis sekaliii”ujar Sunny, Tiffany, dan Nicole secara bersamaan.

 

Jessie? Kenapa diam saja?”tanya Tiffany.

 

“Lupakan saja, Yul pasti memperlakukannya dengan kasar. Jessie, aku heran kenapa kau bertahan bersamanya. Kau tidak sadar kalau cintamu itu bertepuk sebelah tangan, huh? Dan dia hanya menginginkan tubuhmu?”ujar Nicole dan disambut anggukan semuanya.

 

“A-aku…”saat aku akan menjawab, kami dikejutkan oleh bell pintu café yang berbunyi.

 

“TaeTae!”

 

“Hyo!!!”

 

“Tiang! Aku merindukanmu!”

 

”Yoong oppa…”

 

Semuanya memeluk dan mencium pasangan mereka masing-masing. Bahkan maknae. Aku bersyukur dia mendapatkan Yoong.

 

Diantara mereka ada seorang namja yang hanya diam melihatku.

 

“….”

 

“Hai…Y-Yul…”

 

Ia hanya mengangkat alisnya untuk membalas sapaanku dan mengalihkan wajahnya ke arah lain. Sebenarnya yang dikatakan Nicole tidak salah, setiap berhubungan dia tidak terlalu baik padaku. Tapi aku sangat puas karena perlakuannya.

 

“Baiklah, kami pulang dulu…Bye Tiff!”ujar semuanya berpamitan pada Tiffany yang merupakan pemilik café.

 

“Bye kalian! Berhati-hatilah!”balas Tiffany.

 

“…Tiff, aku pulang dulu…”aku ikut berpamitan pada Tiffany saat melihat Yul berjalan keluar café dan meninggalkanku.

 

Tiffany tersenyum khawatir padaku.

 

“Sabarlah, Jessie. Aku tahu dia mencintaimu..”ujar Taeyeon.

 

“Terima kasih, Taeng”aku mengikuti Yul keluar. Ia tampak sudah tidak sabar menungguku.

 

Saat melihatku keluar, ia langsung masuk ke mobilnya tanpa membukakan pintu untukku.

 

Kami terus diam. Yang terdengar di dalam mobil hanya nafas kami masing-masing. Sesekali aku melihat ke arah Yul yang sangat fokus memandang ke jalanan dengan wajah dinginnya. 2 tahun kami menjalani hubungan ini, 2 tahun pula ia tak pernah tersenyum padaku. Aku bahkan lupa bagaimana awalnya kami bisa menjalin hubungan. Mungkin Nicole benar, aku harus mengakhiri ini.

 

“Kwon Yul, turunkan aku.”

 

Ia hanya diam dan menatapku, tampak ada ekspresi bingung di wajah dinginnya.

 

“Hentikan mobilnya dan turunkan aku…”

 

Ia menepikan mobilnya. Aku tak percaya ini. Ia sama sekali tak mencegahku atau apapun.

 

“Mulai sekarang, jangan hubungi aku lagi”ujarku sebelum turun.

 

Dengan kesal aku turun dari mobilnya dan mulai berjalan. Aku menatap ke belakang, Yul turun dari mobilnya tapi tidak mengejarku. Ia hanya melihat kepergianku.

 

Aku memberhentikan taxi. Di dalam taxi aku menangis tentunya. Aku mengirim pesan untuk Tiffany dan mengatakan kalau aku sudah mengakhiri semuanya. Aku sangat sakit jika seperti ini. Tidak pernahkah Yul mengerti?

 

Saat sampai di apatmentku, aku melihat Tiffany. Aku langsung menangis sejadi-jadinya dan memeluknya.

 

I’m not his sex toy…”

 

“I know, Jessie…I know…”

 

Sepertinya setelah itu aku tertidur.

 

—–

 

Aku terbangun karena suara alarmku. Menandakan aku harus segera mandi dan berangkat kerja. Aku sangat malas bekerja hari ini. Apalagi aku hanrus bertemu dengan boss-ku. Aku bekerja sebagai asisten pribadi seorang CEO di perusahaan yang cukup terkenal di Korea. Dan boss-ku adalah dia. Kwon Yul.

 

Setelah mandi aku melihat ada note yang ditempelkan di cerminku. Dari Tiffany. Rupanya dia sudah pulang. Setidaknya dia membuatku merasa lebih baik.

Aku melihat ke arah jam dan segera berangkat kerja.

 

—–

 

“Ini berkas yang harus anda tanda tangani, Mr.Kwon”ujarku dan meletakkan beberapa berkas di mejanya. Ia mengalihkan pandangannya dari laptopnya untuk melihatku sekilas.

 

Aku segera berjalan keluar. Saat aku hendak membuka pintu ruangannya. Sepasang tangan melingkar di pinggangku.

 

“Aku membutuhkanmu, Sica”bisiknya.

 

“Maaf, Mr.Kwon. Aku bukan mainanmu lagi”aku melepaskan pelukannya dan meninggalkannya.

 

“Jessie!”

 

“Unnie! Kau mengagetkanku!”ujarku pada orang itu. Boa. Kwon Boa, dia adalah kakak perempuan Yuri. Ia sangat ramah dan ceria. Berbeda sekali mereka.

 

“Hey, kau apakan adikku semalam, huh?”ia mengetukkan jarinya di kepalaku.

 

“I-itu…”

 

“Aku tidak percaya akhirnya kau tidak tahan juga akan kelakuannya. Aku sudah sering mengingatkannya agar jangan terlalu dingin padamu. Akhirnya terjadi juga”

 

“Begitulah, unnie…Maafkan aku”

 

“Hey, kenapa minta maaf? Si bodoh itulah yang salah haha. Tapi, kau tahu tidak?”

 

Ekspresi Boa unnie, membuatku penasaran. Aku menaikan sebelah alisku.

 

“Dia menangis semalaman. Seorang Kwon Yul menangis itu benar-benar ajaib. Dan saat itulah aku tahu kalau dia benar-benar mencintaimu, Jessie. Ia bahkan memanggil namamu saat dia tertidur. Dan sebenarnya tak jarang ia menceritakanmu pada orang tua kami. Terkadang, ayah dan ibu sangat penasaran denganmu karena Yul selalu membanggakanmu. Tapi karena Yul sangat sibuk, ia tidak pernah sempat membawamu ke rumah”

 

Aku terdiam mendengar penjelasan Boa unnie.

 

“Eh? Aku harus pergi. Aku ada pasien. Bye, Jessie! Senang melihatmu lagi!”

 

“Apa benar begitu?”aku bergumam.

 

Aku terus memikirkan perkataan Boa unnie sampai aku pulang ke apartmentku. Aku benar-benar lelah. Sepertinya setelah mandi aku akan langsung tidur saja.

 

Aku memasukan kode apartmentku. Saat masuk aku menghela nafas. Kenapa hari ini begitu berat?

 

Tunggu.

 

Aku mendengar suara di dapur. Siapa itu? Jangan-jangan ada pencuri. Aku mengambil paying sebagai senjata. Aku mengendap-endap berjalan ke dapur. Saat aku menintip, ternyata dia.

 

“Yul?”gumamku masih mengintip. Ia sedang menata meja makanku dengan lilin dan beberapa makanan yang tampak lezat. Sesekali ia menggaruk kepalanya dan menata ulang mejanya. Wajahnya sangat lucu, aku sangat amat jarang melihatnnya seperti itu. Tanpa sadar aku tertawa kecil, membuat dia melihat ke arahku. Ah, aku memang payah.

 

“Sica?”

 

“Yul?”

 

Sahut kami bersamaan.

 

“Sedang apa kau?”tanyaku.

 

Ia hanya tersenyum tipis dan menunjuk meja makanku dengan kedua tangannya. Ada apa dengan orang ini? Kenapa dia jadi begitu menggemaskan?

 

Ia berlari kecil dan menghampiriku yang masih mematung.

 

“Maafkan aku…”ujarnya.

 

“Maaf, Yul…Tapi-“

 

“Aku mohon…”

 

“A-apa?”

 

Seorang Kwon Yul memohon?

 

“Aku mohon. Kembali padaku…”ujarnya sambil menggenggam tanganku.

 

Aku menarik tanganku,”pulanglah Yul…sepertinya kau sakit.”aku meletakkan tanganku di keningnya.

 

“Aku tidak sakit, aku benar-benar sehat..”ujarnya seraya tersenyum.

 

“Kau belum makan, kan? Aku sudah membuatkan makanan kesukaanmu. Dan semua tanpa ketimun”ia tersenyum dorky. Aku bahkan tidak tahu kalau dia mengetahui aku tidak suka ketimun. Apakah sebenarnya dia memperhatikanku?

Saat makan, Yul terus mengajakku bicara tapi aku hanya menjawabnya dengan singkat. Sejak kapan dia menjadi secerewet ini?

 

Aku meletakan pisau dan garpuku, dan beranjak pergi saat kami sudah selesai makan.

 

“Ah?”aku terkejut karena Yul tiba-tiba saja memelukku dari belakang.

 

“Jangan tinggalkan aku lagi”bisiknya.

 

Aku berbalik, menatapnya.

 

“Kenapa kau tak mengejarku waktu itu?”

 

“Entahlah, aku memang bodoh. Maafkan aku..”ia menundukan kepalanya.

 

“Yul, lihat aku…”

 

Yul’s POV

 

“Yul, lihat aku…”

 

Aku mengangkat kepalaku untuk melihatnya.

 

“Apa kau mencintaiku?”

 

“Aku benar-benar mencintaimu, Sica”aku menarik tubuhnya, aku memeluknya lagi. Kali ini ia membalas pelukanku. Harunya aku mendengarkan noona agar tak bersikap dingin padanya.

 

Kami melepaskan pelukan kami dan saling bertatapan.

 

“Maafkan aku, aku memang bodoh dan aku tidak pantas untuk-“

 

CHU~

 

Ia mengecup bibirku dan memelukku.

 

“Jangan bicara lagi, bodoh…”

 

Aku tersenyum dan membalas pelukannya. Aku meletakkan tanganku di pinggangnya dan menatapnya.

 

“Kenapa kau menatapku?”

 

Aku tak membalas ucapannya, melainkan langsung melumat bibirnya. Bibir yang sangat aku sukai. Ia terkejut tapi kemudian membalas lumatan bibirku.

 

Aku mendorongnya ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.

 

Ciumanku mulai beralih ke lehernya.

 

“Aku akan melakukannya dengan pelan, Sica baby~”ujarku lalu mengecup keningnya. Ekspresinya sangat kaget saat mendengarku memanggilnya ‘Sica baby’.

 

Ini memang bukan yang pertama untuk kami, tapi aku hanya ingin Jessica bahagia. Aku sadar selama ini aku salah.

 

Aku menciumi lehernya lagi dan meninggalkan beberapa kissmark di leher putih itu.

 

“Y-Yul…”ia mulai menyebut namaku saat tanganku membuka kemeja kerjanya. Tangannya ternyata juga sudah membuka kancing kemejaku. Tangan kiriku menelusup masuk ke dalam rok yang ia kenakan. Aku menarik celana dalamnya dan membuangnya sembarang arah. Sesekali aku menghisap lehernya. Ia tak berhenti menggelinjang membuatku semakin tidak tahan. Aku merasakan tangan halusnya di dadaku. Ia meraba perutku dan dadaku yang cukup terbentuk. Aku membuka celana dan celana dalamku.

 

Aku meraba Vnya yang sudah basah dan tak terbungkus apapun.

 

“Y-Yul?! Anghh..”

 

Aku terkekeh mendengar desahannya. Ia memukul punggungku lalu memeluknya.

 

“Kau benar-benar menginginkanku, huh?”godaku.

 

“Cepat lakukan saja tugasmu, Mr.Kwon”aku tersenyum lalu melumat bibirnya lagi.

 

Aku membuka seluruh pakaiannya, termasuk branya. Aku sangat mengagumi ukuran payudaranya. Nipplesnya yang pink dan payudara putih dan mulus itu. Aku tidak akan membiarkan orang lain menikmatinya.

 

Aku langsung mendaratkan lidahku di nipple kiri Jessica dan memijat-mijat lembut payudaranya.

 

Aku melihat ke arah wajahnya. Ia sedang menggigit bibirnya.

 

“Mendesahlah, Sica baby kkk”aku terus memijat lembut payudaranya, sesekali memainkan jariku di nipplesnya dan menghisap dua buah gundukan itu.

 

“Sshhh..Yul..more..”

 

Akhirnya.

 

Aku menciumi tubuhnya sampai akhirnya wajahku tepat berada di depan Vnya. Aku melumatnya dan memainkan lidahku. Jessica menjepit kepalaku dan menekan kepalaku. Sesekali ia menjambak rambutku.

 

“Yul..a-aku..”

 

Ia menekan kepalaku lebih dalam. Aku memainkan lidahku dan saat itulah cairannya keluar. Aku langsung meneguk habis cairannya.

 

Aku naik dan mengecup bibirnya, tapi dia menarik kepalaku lagi dan melumat bibirku. Kami saling melumat. Sesekali juniorku bergesekan dengan Vnya. Membuatku semakin ingin memasukan milikku.

 

Kami melepaskan bibir kami dan menghirup oksigen.

 

“Bagaimana, Ms.Jung? Kau ingin melanjutkannya? Atau kita berhenti saja?”godaku.

 

“Kwon seobang pabo, tentu saja dilanjutkan”ia tersenyum.

 

“Apa kau ingin langsung ke inti saja?”tanyaku.

 

“Hm? Kau tidak ingin dioral?”

 

Aku menggeleng,”malam ini, aku ingin kau merasakan kenikmatan sepenuhnya, Sica baby”

 

Ia tertawa kecil,”dork”ujarnya.

 

Aku mengecup bibirnya,”ready, princess?”

 

Always, my prince

 

Aku memasukan juniorku dengan perlahan. Sudah kukatakan, ini bukan yang pertama kami melakukannya. Tapi milik Jessica masih terasa begitu sempit. Aku tidak ingin menyakitinya. Dan akhirnya milikku masuk sepenuhnya.

 

Aku memberikan smirk pada Jessica dan berbisik,”I’ll make you fly until you scream my name and beg for more, baby

 

Ia tersenyum mendengar itu. Aku tidak melihatnnya, tapi aku bisa merasakan kalau dia tersenyum.

 

Aku mulai menggerakan pinggulku.

 

Ahh Yul..Too big…”

 

“Apakah kau mengeluh? Atau itu sebuah pujian?”tanyaku sambil menatapnya dan tentu saja masih menggerakan pinggulku.

 

“Tentu saja itu pujian, Kwon seobang…”aku suka caranya memanggilku. Terdengar lucu dan yang paling specialadalah, panggilan itu hanya untukku.

 

Aku mempercepat gerakan pinggulku.

 

Ahhh…faster Yul..P-Please..”Jessica tak berhenti mendesah. Aku menurutinya.

 

“Ahhh!”dia berteriak saat juniorku tepat mengenai spotnya. Aku terus menusuk spot yang sama. Agar orang yang aku cintai ini merasakan kenikmatan terus-menerus. Aku terus menatap wajahnya. Ia memejamkan matanya, dengan bibir sedikit terbuka. Dia benar-benar sempurna. Bibir tipis itu, wajah tanpa cacat. Benar-benar seorang malaikat.

 

Pandanganku beralih pada dua gundukan indah yang sedari tadi bergerak naik-turun. Aku segera memegang dua gundukan itu dan menghisapnya kuat.

 

“Ahhh! Yulll!”aku senang mendengarnya mendesahkan namaku. Aku menambah tempoku. Membuatnya berteriak dan mendesahkan namaku terus menerus.

 

“Y-Yul aku…Ahhhh…!”

 

Ia orgasme, aku bisa merasakannya.

 

“S-Sica…!”aku menyemburkan sperm-ku di dalamnya.

 

Aku ambruk dia atasnya.

 

“Kwon seobang~ Kau berat..”aku terkekeh mendengar ucapannya dan langsung pindah ke sebelahnya.

 

Kutarik selimutnya untuk menyelimuti kami berdua.

 

“Tidurlah”aku mengecup puncak kepalanya dan mendekapnya.

 

Kami terdiam cukup lama.

 

“Seobang…”

 

“Hm? Kau belum tidur?”aku menatapnya dan mengelus kepalanya.

 

Thank you. I love you, Seobang…

 

I love you too, Sica baby. Please don’t leave me..And, I’m sorry

 

Jessica tersenyum dan mengangguk, lalu ia memejamkan matanya.

 

Jessica’s POV

 

People change.

 

Ungkapan itu memang selalu benar. Contohnya seperti pria itu. Pria dingin dan pendiam itu. Sekarang menjadi dork, dan benar-benar cerewet. Ia sangat memperhatikanku lebih dari sebelumnya, tapi aku sama sekali tak keberatan. Aku sangat senang.

 

“Jadi…tidak jadi putus?”goda Nicole.

 

Aku tersenyum.

 

“Hahh aku tahu, dia pasti mencintaimu!”ujar Taeyeon, membuat semuanya tertawa.

 

Kini kami semua sedang berkumpul di café milik Tiffany.

 

Bell pintu masuk berbunyi. Kami langsung mengalihkan pandangan kami.

 

Saat itu pula aku tersenyum. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh café sampai akhirnya mata kami bertemu dan dia tersenyum lalu berjalan ke arah kami.

 

Ia mengecup keningku, membuat teman-teman kami berteriak dan menggoda kami.

 

Aku malu, tapi juga senang. Sangat senang.

 

“Nah, karena Yul sudah di sini. Kita harus mendengar cerita kalian berdua mengenai isi perut Jessica”ujar Sooyoung.

 

Aku dan Yul saling bertatapan. Yul menggaruk belakang kepalanya dan tersenyun bodoh. Sedangkan aku memberinya death-glare.

 

“Argh! Semua itu karena si bodoh ini!”aku menjambak-jambak rambutnya. Sebenarnya aku hanya gemas melihat wajah Yul yang begitu bodoh.

 

“Aish! Sakit, baby.. Hey, kalian tolong aku!”

 

Semuanya tertawa. Kami menjadi pusat perhatian.

 

Aku melepaskan jambakanku. Yul mengusap-usap kepalanya lalu memeluk pinggangku.

 

“Kami akan menikah bulan depan, benarkan, baby?”

 

Aku terkejut mendengar ucapannya. Ia hanya membalas tatapanku dengan wink.

 

Whoa, really? Congratulation!!!”ujar Tiffany memelukku. Lalu semuanya ikut memeluk kami berdua.

 

Akhirnya. Aku merasakan kebahagian. Dan ungkapan tentang cintaku bertepuk sebelah tangan? Semuanya bohong.

 

END

 

STAY AWESOME, SONEs! ME LOVE YOU, GUYS!\m/

 

© KZSNE 2013

 

 

 

 

[2/?] CHOSEN

42

[2/?] CHOSEN

 

CAST : SNSD, KARA’s NICOLE

 

GENDBEN

 

*****

 

Tiffany’s POV

 

Dia bisa membaca pikiranku?

 

Atau hanya kebetulan? Entahlah aku tidak mengerti. Tapi, aku sangat yakin ada sesuatu di dalam diri orang ini.

 

“Kita sampai, selamat datang di rumahku.”ujarnya seraya tersenyum. Dia turun dari mobilnya, aku mengikutinya.

 

Rumah? Ini bukan rumah tapi sebuah mansion.

 

“Masuklah anggap saja rumah sendiri, dan aku akan siapkan kamar untukmu. Kau bisa duduk dulu di sofa itu.”

 

“Terima kasih emm…”

 

“Taeyeon. Kim Taeyeon”dia tersenyum lagi lalu masuk ke dalam meninggalkanku bersama beberapa pelayannya.

 

15 menit aku menunggu akhirnya dia kembali.

 

“Ms. Hwang, kamarmu sudah siap.”ujar salah satu pelayannya.

 

Aku mengikutinya. Dan sampailah aku di sebuah pintu yang cukup besar.

 

Saat pintu itu di buka. Aku terkejut melihat kamar berwarna pink yang sangat luas. Bagaimana dia tahu aku sangat menyukai pink?

 

“Aku sudah bilang, aku bisa mendengar pikiranmu, Ms.Hwang”

 

Aku tersentak mendengar suaranya dan menoleh ke belakang. Ia sudah berdiri tegap di belakangku. Apa benar dia bisa mendengar apa yang aku pikirkan?

 

“Ayo masuk. Lihatlah kamarmu dan beristirahat.”

 

Aku menuruti kata-katanya. Lalu melihat ke arahnya sebentar. Ia masih di sana dan tersenyum ke arahku.

 

“Ah, dan Ms.Hwang.”

 

Aku membalikan badanku untuk melihatnya.

 

“Jangan terlalu banyak berpikir.”ujarnya lalu berjalan pergi.

 

Yul’s POV

 

Jessica tak henti-hentinya memelukku selama perjalanan pulang. Dia sesekali menatapku lalu tersenyum.

 

“Seobang…”

 

“Hm?”aku mengelus tangannya.

 

“Kau tampak bagus dengan rambut kebiruanmu itu…”

 

Ah, aku hampir saja melupakan kejadian itu. Aku hanya tersenyum menanggapi kata-katanya.

 

Satu-satunya cara, adalah belajar untul mengendalikannya.

 

“Kita sampai!”dengan semangat Jessica menarik tanganku. Kami sudah sampai di apartment kami.

 

“Kau tahu? Aku merapikan apartment ini untukmu, Seobang”

 

“Benarkah? Kau merapikan sesuatu? Ajaib sekali kkk”

 

Kata-kataku membuat Jessica memajukan bibirnya sedikit.

 

“Ahaha, kemarilah. Kau sangat cute, Sica baby”aku mengecup bibir mungilnya.

 

Dan saat aku membuka pintu apartment. Benar saja. Keadaannya sangat rapid an bersih.

 

“Wow, kau benar-benar hebat kkk”

 

“Kyaaa! Kwon Yul!”Jessica berteriak karena tiba-tiba aku menggendongnya dan masuk ke dalam.

 

Aku menurunkannya di tempat tidur kami lalu berbaring di sebelahnya.

 

“Seobang, kau harus mandi! Kau bau!”dia menutup hidungnya. Dia benar-benar imut.

 

“Baiklah, baiklah kkk”aku beranjak dari tempat tidur lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.

 

Aku menyalakan air untuk mandi. Untuk kali ini, butiran air itu mendarat mulus di atas kulitku. Sampai akhirnya aku merasa sangat aneh. Air yang kunyalakan adalah air hangat, tapi suhunya berubah menjadi sangat dingin. Hmm, mungkin saja sedikit rusak. Tapi pikiran itu kubuang saat aku merasakan yang keluar bukanlah air, melainkan es.

 

“Ah, bagaimana ini?”

 

Aku sangat panic, aku berusaha merubah butiran es itu menjadi air yang mengalir seperti semula.

 

“Yul, kau sedang apa di dalam? Kenapa lama sekali?”

 

Suara Jessica membuatku semakin panic.

 

“Tidak apa-apa, Sica. Sebentar lagi aku selesai.”

 

“Baiklah, jangan terlalu lama. Kau bisa masuk angin”

 

“Baik.”

 

Ah, bagaimana bisa aku membereskan kekacauan ini?

 

Ya Tuhan, bantulah aku. Apa yang terjadi padaku?

 

Aku menyentuh butiran-butiran es itu dan memejamkan mataku.

 

Tak beberapa lama kemudian aku merasakan hangat di tanganku. Saat aku membuka mataku, butiran-butiran itu sudah kembali menjadi air. Air hangat.

 

“Yul?”

 

“Ya? Aku sudah selesai, Sica baby”

 

Aku segera membasuh badanku dan keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap.

 

“Kau ini, bisa masuk angina tahu…”Jessica memelukku lagi.

 

“Iya iya hehe”aku mengecup bibirnya yang indah itu.

 

Taeyeon’s POV

 

“Kau suka makanannya, Ms.Hwang?”

 

“Tolong, Tiffany saja.”

 

“Baiklah, Tiffany”

 

“Dia ini laki-laki, tapi pintar memasak. Ah! Aku tidak boleh berpikir. Dia akan mendengarnya lagi.”

 

Aku tersenyum kecil mendengar pikirannya.

 

Suasana di meja makan sangat hening. Tak satupun pikirannya yang tertangkap olehku. Aku menatapnya, berusaha menangkap pikirannya. Tidak mungkin dia tidak memikirkan sesuatu.

 

Aku terus menatapnya dan berkonsentrasi.

 

Ah! Tidak! Terlalu berkonsentrasi!

 

Aku langsung menutup mataku. Wow, aku tidak tahu aku penglihatanku bisa tembus pandang. Hahh, jangan kau salah gunakan, Kim Taeyeon!

 

“Kau kenapa?”

 

“Huh? Tidak, hanya kemasukan debu hehe”

 

“Debu? Rumah ini bersih sekali, mana mungkin ada debu”

 

Ah, alasan itu memang bodoh. Aku tahu.

 

Tiffany’s POV

 

Aku rasa dia laki-laki baik. Walaupun sedikit aneh dan berisik. Beruntung sekali aku ditolong olehnya. Dan walaupun dia mungkin bisa membaca pikiran, aku rasa dia tidak akan menyalahgunakannya. Mungkin dia tidak bisa mengendalikannya.

 

Hey, kenapa aku jadi memikirkan dia?

 

Aku membalik posisi tubuhku, kini aku menghadap langit-langit berwarna pink yang sangat mewah itu. Pikiranku kembali ke hari dimana aku ditabrak. Yang aku ingat hanya aku melihat sebuah cahaya. Ya, hanya cahaya berwarna putih itu.

 

Yul’s POV

 

Hari ini, aku akan ke rumah Taeyeon untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada kami.

 

Aku mengetuk pintu besar itu, tapi tak satupun ada yang membuka.

 

“Taeng?”aku membuka pintu rumahnya yang ternyata tak terkunci. Aneh.

 

“Oh, God…”

 

Rumahnya sangat berantakan. Ini tidak seperti rumah kim Taeyeon yang sangat pembersih.

 

“Tiffany, tenanglah… kendalikan, aku tahu kau bisa”

 

“Tidak, aku mohon. Jangan dekati aku. Aku tidak ingin menyakitimu.”

 

Itu suara Taeyeon dan…seorang perempuan?

 

Aku mendatangi suber suara dan…

 

WUSSSSHHH

 

Angin bertiup sangat kencang dari ruangan yang menjadi sumber. Taeyeon terpental dan ia menimpaku.

 

“Hey, kenapa ini?!”

 

“Yul? Hahh syukurlah kau di sini!”ia membantuku bangun.

 

“Apa yang terjadi?”

 

Aku mengintip ke dalam ruangan serba pink itu, dan di sana ada seorang wanita yang dikelilingi angina tornado.

 

“S-siapa dia?”

 

“Namanya Tiffany Hwang. Dan kurasa, dia bernasib sama seperti kita.”

 

Aku hanya diam mendengar Taeyeon.

 

“Kau mau bantu aku atau tidak?”

 

“Baiklah”

 

Aku masuk ke dalam ruangan itu.

 

“Bagaimana kalau dia kita buat pingsan?”

 

“Apa? Hey, kau gia, Yul!”

 

“Tidak ada cara lain!”

 

Entah dorongan dari mana, aku mengarahkan tanganku kea rah wanita yang disebut Tiffany itu. Dan seketika, air keluar dari tanganku dan mengenai Tiffany. Tapi sama ekali tak berpengaruh.

 

“Taeng?”

 

“Tidak, aku tidak akan membuat api untuknya.”

“Demi kebaikannya. Percayalah, aku akan bertanggung jawab kalau ia terluka”

 

Taeyeon menatapku dengan ragu. Dia menggosok tangannya dan gumpalan api keluar dari tangannya.

 

Tidak terjadi apa-apa. Angin itu terlalu kuat. Aku melihat Tiffany menangis di dalam pusaran angin itu.

 

“Lebih berkonsentrasi”ujarku pada Taeyeon. Dia membuat api yang lebih besar, tapi lagi-lagi hasilnya nihil.

 

Aku sudah mencoba membuat es. Tapi, sia-sia. Es buatanku termakan bersama angin itu. Sepertinya Taeyeon mulai geram dan mengambil langkah mendekati pusaran angin itu.

 

“Taeng!”

 

Terlambat.

 

“Kon…sentrasi!!!!”Taeyeon berteriak dan mengarahkan tangannya pada Tiffany. Petirpun menyambar Tiffany. Seketika itu, angin berhenti. Tapi, Tiffany tidak sadarkan diri. Lengan dan bagian pahanya terbakar.

 

Taeng jatuh. Dia pingsan.

 

Aku melihat ke arah Tiffany. Aku mendekatinya. Aku mungkin salah, tapi luka yang tadi kulihat sudah hilang tanpa bekas.

 

Tapi dia pingsan. Dia dan Taeng pingsan.

 

Aku mengangkat mereka satu-persatu ke atas kasur. Dan segera berjalan pulang. Hahh, hari ini sia-sia aku datang. Tapi untung saja, tidak terjadi sesuatu pada mereka. Sebelum pulang aku menitip pesan pada para pelayan Taeyeon untuk merawat mereka berdua.

 

Someone’s POV

 

“Mereka sudah menyadari kekuatannya?”

 

“Tidak juga. Kwon Yul dan Tiffany Hwang belum sepenuhnya menguasai kemampuannya. Kim Taeyeonlah yang paling cepat dia hanya perlu mengembangkan kemampuan pikirannya. Dia sepertinya sudah bisa mengeluarkan petir.”

 

“Berapa elemen lagi yang harus mereka kuasai.”

 

“Kwon Yul harus mengembangkan pengendalian elemen airnya dan harus menguasai 1 kemampuan lagi. Sementara Tiffany Hwang, dia harus belajar mengendalikan kekuatannya dan harus menguasai 2 kemampuan lagi.”

 

“Bagaimana ini, Master? Waktu kita tidak banyak”

 

“Jangan khawatir. Aku sudah mengutus Hyo untuk melatih dan melindungi mereka dari serangan. Karena cepat atau lambat, kemampuan mereka akan tercium.”

 

“Baiklah, Master

 

TBC

 

STAY AWESOME, SONEs!^^

 

© KZSNE 2013

[1/?] CHOSEN—THE POWER

50

[1/?] CHOSEN—THE POWER

 

CAST : SNSD [YULSIC, TAENY(MAIN) ; SOOSUN, YOONHYUN, HYOYEON(SUB)], KARA [NICOLE]

 

GENDERBENDER

 

******

Japan, 3.50 PM

27/12/2013

 

Yul’s POV

 

“Bagaimana? Sudah menemukan sesuatu?”tanyaku pada beberapa arkeolog lainnya. Saat ini kami sedang meneliti ‘kota yang hilang’ yang kami temukan di Jepang, tepatnya di kaki gunung Fuji. Dan akulah yang memimpin percarian kali ini.

 

“Belum, haahh ini melelahkan sekali, hyung…”ujar salah satu rekanku. Im Yoona. Dia adalah arkeolog junior. Dan juga adik kelasku di SMA dulu. Aku tidak menyangka dia akan menjadi arkeolog. Karena dia dulu bercita-cita menjadi artis atau model.

 

“Kkk, teruslah mencari, Yoong”jawabku.

 

“Oi, Yul! Lihatlah apa yang kutemukan!”teriak rekanku yang lainnya. Dia adalah Kim Taeyeon. Dork, pervert, cute, dan sedikit pendek. Itulah dia. Aku berpikir, dia lebih cocok menjadi penyanyi, selain wajahnya mendukung, suaranya sangat indah.

 

Dan aku? Aku Kwon Yul. Aku hanya seorang yang biasa-biasa saja tidak seperti mereka yang memiliki bakat dibalik kesibukan sebagai arkeolog. Aku hanya seorang arkeolog.

 

“Baiklah! Hey, Yoong aku ke sana dulu”

 

“Hah? Oh, baiklah, hyung. Hati-hati”

 

Hahaha, wajahnya lucu sekali sepertinya ia sudah kelelahan. Untung saja banyak arkeolog lain yang menolong kami.

 

“Apa yang kau temukan, Taeng?”

 

“LIhat, sebuah sungai.”tunjuknya.

 

“Whoa, aku tidak tahu ada sebuah sungai di sini…”

 

“Ayo, kita lihat lebih dekat Yul”

 

“Bagaimana dengan, Yoong?”

 

Taeyeon melihat kea rah Yoona yang sedang terduduk lemas sambil meminum sebotol air.

 

“Biarkan saja dia istirahat sejenak, kau tidak lihat wajahnya sudah sangat kelelahan?”ujar Taeyeon sembari menatapku.

 

Aku menyetujui perkataannya.

 

“Ayo, lihat lebih dekat.”

 

Aku memegang Taeyeon yang sedang mencoba mengambil air sungai untuk diteliti.

 

“Yul, bisa lebih dekat lagi? Kau ini, tanganku pendek jarakmu jauh sekali”

 

“Kkk, sorry”

Aku melangkah sedikit maju.

 

“Nah, dapat!”ujar Taeyeon.

 

Tapi sayang…

 

Kami terpeleset karena tepi sungai yang terlalu licin. Setelah itu aku tidak mengingat apapun. Hanya sebuah cahaya berwarna biru yang kuingat dan terakhir kulihat.

 

Seoul

29/12/2013

 

“Dia sadar?! Dr. Choi! Pasien Kwon sudah siuman!”

 

Suara langkah kaki memenuhi telingaku. Dan sebagian hanya suara orang berbicara.

 

“Selamat datang kembali ,Yul. Hahh kalian berdua ini benar-benar.”ujar seseorang dengan pakaian dokternya. Ah, aku di rumah sakit.

 

Aku melihat ke arah kiriku. Taeyeon tengah duduk di ranjang pasien, melihatku,dan dengan kondisi hampir sama sepertiku, hanya saja sepertinya dia sudah sadar lebih dulu. Hmm, kapan dia mengecat rambutnya menjadi kemerahan seperti itu? Tak apalah, cocok untuknya.

 

Aku kembali focus pada dokter yang sedang berbicara terus menerus sampai aku menyadari, “Soo?!”

 

“Hey, kau baru sadar ini aku?”Sooyoung menggelengkan kepalanya. Choi Sooyoung, sahabatku dan Taeyeon saat SMA. Dia tukang makan dan sangat berobsesi menjadi dokter. Ternyata dia berhasil.

 

“Hey, Taengoo! Bagaimana keadaanmu?”ini Sooyoung beralih pada Taeyeon yang sedari tadi diam. Aneh, biasa anak itu berisik.

 

“A-aku, entahlah aku mendengar banyak suara”

 

“Bicara apa kau Taeng? Tidak ada orang lain di sini. Sepertinya kau butuh lebih banyak istirahat.”

 

Aku sedang mencoba mengingat sesuatu, tapi hasilnya nihil.

 

“Oh, Yul. Tadi Jessica kemari. Kau tahu? Dia tidak bisa berhenti menangis. Untung saja ada Sunny, Yoong dan Seohyun yang menenangkannya.”

 

Jessica, nama yang sangat ingin kudengar.

 

“Tunggu dulu. Sunny? Lee Sunny? Kau masih bersamanya?”

 

Sooyoung tidak menjawab. Hanya tersenyum dan memamerkan jarinya,”kami sudah bertunangan haha”

 

“Whoa! Selamat!”aku menyalami Sooyoung.

 

Aku melihat ke arah Taeyeon, dia hanya melempar senyum. Ada apa dengannya?

 

“Nah, Soo. Dimana Jessica?”

 

“Mungkin dia makan bersama yang lain. Ah, aku juga lapar. Jessica belum makan sejak dia mendengar berita kau tenggelam.”

 

“Anak itu, aku akan menjitaknya nanti.”

 

“Mungkin dia yang akan memukulmu sekeras mungkin, Yul haha. Baiklah, aku tinggal dulu. Kalian berdua, beristirahatlah”

 

“Baik, terima kasih, Soo”

 

Aku melihat Sooyoung keluar. Dan sekarang saatnya aku menyelidiki Kim aneh ini.

 

“Hey, Taeng. Kau kenapa diam saja?”aku melemparinya dengar kertas memo yang sudah kuremukan. Ia tetap tidak bergeming. Ia memandangi tangannya. Ada apa sebenarnya?

 

“Ada apa dengan tanganmu?”aku melihat ke arah tangannya yang baik-baik saja.

 

“Yul…”

 

“Huh?”

 

“Apa kau mendapat hal yang sama sepertiku?”

 

“Maksudmu?”

 

“Entahlah, saat aku bangun aku mendapati rambutku menjadi kemerahan dan sepertinya aku bisa mendengar pikiran orang lain”

“Huh? Apa? Kau konyol Taeng hahaha”

 

“Tidak, Yul aku serius. Dan yang lebih parah lagi…ini”

 

Taeyeon menutup tangannya lalu membukanya lagi, dan ketika itu gumpalan api keluar dari tangannya.

“Whoa! Whoa! Taeng, itu- itu gila!”

 

“Aku tahu, hahh bagaimana ini?”

 

Apa sebaiknya kuceritakan pada yang lain?

 

“Tidak, itu ide buruk.”

 

“Apa? Aku bahkan belum mengucapkan apapun.”

 

“Sudah kubilang aku bisa mendengar pikiranmu. Aku tidak tahu cara mengendalikannya. Bagaimana ini, Yul? Ini sangat mengganggu.”

 

Taeyeon meremas rambutnya. Ia tampak sangat frustasi.

 

“Ah, Yul…rambutmu”ia melihat ke arahku dengan tatapan terkejut.

 

“A-apa?”

 

Aku segera berlari ke kamar mandi dan melihat ke kaca.

 

Rambutku, apa ini? Kenapa rambutku berubah menjadi kebiruan. Aku menyalahan keran, berniat membasuh wajahku. Tapi yang kurasakan hanya kering saat aku menempelka tanganku di wajah. Dan saat aku melihat ke atas.

 

BYURRR!

 

Aku keluar dari kamar mandi.

 

“Yul, bagaimana- eh, kenapa kau basah?”

 

“Sepertinya kita mendapat kekuatan, Taeng. Kau mengerti? Di sungai itu.”

 

“Jangan konyol. Tapi, apa mungkin?”

 

“Kita harus menyelidikinya saat keluar dari rumah sakit ini”

 

“Iya, tapi-“

 

“YUL!!!”

 

Kami dikejutkan oleh sebuah suara. Siapa lagi kalau bukan…

“Sica?”

 

“Kau ini!”

 

Sooyoung benar, ia terus memukuliku seraya menangis.

 

“Aku akan tinggalkan kalian, sepertinya Jessica sangat merindukamu, Kwonnie kkk.”Taeyeon kembali ke sifat aslinya, dia memberi wink padaku. Sepertinya ia membaca pikiran Jessica. Dengan susah payah ia turun dari ranjang pasien sambil membawa infusnya. Hahh, Taeyeon bisa membaca pikiran, bocah mesum itu. Sepertinya sedikit berbahaya haha.

 

Sementara aku, aku hanya memeluk dan mengelus punggung Jessica.

 

“Yul, jangan pergi lagi, aku tidak mau kau meninggalkanku”

 

“Tidak akan, Sica baby”aku mengecup bibir pinknya, membuatnya tersenyum adalah prioritas utamaku.

 

“Maafkan aku”ujarku seraya menghapus air matanya.

 

Taeyeon’s POV

 

Butt butt butt, Wow, lihat bokong perawat-perawat ini. Sangat menyegarkan kkk. Aku ingin tahu apa yang mereka pikirkan.

 

Aku memejamkan mataku dan mulai focus pada pikiran mereka satu persatu.

 

“Malam ini apa yang akau kumasakan untuk suamiku?”

 

Oh, sudah bersuami.

 

“Ahh, aku sudah tidak sabar merasakan dokter itu. Dia sangat sexy”

 

Ugh. Nakal juga haha.

 

“Aku benci mereka semua”

 

Kalau begitu, kenapa menjadi perawat?

 

“Aku ingin bunuh diri saja, aku sudah tidak tahan lagi”

 

Eh, apa?!

 

Aku tersentak mendengar yang satu itu. Aku langsung mengikuti asal pikiran itu. Sepertinya bukan berasal dari para perawat ini?

 

Dari atap?

 

Aku langsung berlari ke atas atap rumah sakit. Dan saat itulah aku melihat orang itu.

 

“Aku akan mengakhiri semuanya”

 

Dengan cepat aku menariknya dan memeluknya.

 

Cubit aku, aku pasti bermimpi. Bidadari seperti dia, kenapa ingin mengakhiri semuanya?

 

Aku tersadar dari lamunanku saat ia mendorongku.

 

“Kau menggagalkan rencanaku!”tanpa berkata apa-apa lagi, dia pergi meninggalkanku.

 

“Terima kasih kembali!”teriakku.

 

Aku menyadari sesuatu, lebih baik aku mengikutinya. Siapa tahu dia nekad mencari cara lain untuk bunuh diri.

 

Aku mengikutinya. Sepertinya ia sadar sedang diikuti, sesekali ia menoleh ke belakang. Ke arahku, tapi aku tak bersembunyi sama sekali.

 

“Pria ini gila?”

 

A-apa? Aku sudah berusaha menyelamatkannya.

 

“Mau apa kau?!”ia berbalik dan menatapku tajam.

 

Aku mendekat ke arahnya,”hanya ingin memastikan kalau nona yang manis ini tidak mencoba untuk bunuh diri lagi”

 

Kudekatkan wajahku ke arahnya.

 

“Dasar gila!”

 

Dia mendorong wajahku dan masuk ke ruangannya.

 

309? Dia pasien kamar ini?

 

“Ehm, permisi? Apa kau tahu, pasien kamar ini?”tanyaku pada salah satu perawat yang lewat.

 

“Dia Stephanie Hwang Miyoung. Dia korban tabrak lari 5 hari yang lalu. Dia seharusnya sudah keluar kemarin. Tapi, karena tidak ada yang melunasi perawatannya, ia ditahan di sini. Dan juga taka da satupun yang mengunjunginya.”

 

Aku mengangguk mengerti.

 

“Pria itu sangat imut, untuk apa menanyakan tentang pasien 309? Aku lebih bisa memuaskanmu.”

 

“Terima kasih, tapi aku tidak tertarik.”aku menjawab pikiran perawat itu. Ia langsung meninggalkanku karena malu.

 

“Stephanie Hwang Miyoung”

 

Menyebut namanya saja sudah membuatku tersenyum. Aku jadi semakin tertarik padanya.

 

3 hari kemudian…

 

“Hey, Taeng pastikan tidak ada yang tertinggal.”ujar Yul. Ia membantuku membereskan barang-barangku. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

 

“Mau kemana?”

 

“Yul, kau pergilah dulu ke depan. Aku akan menyusul.”aku berlari keluar kamar.

 

305…

 

306…

307…

 

308…

 

Nah ini dia, 309.

 

Aku mengetuk pintunya. Tapi karena tak kunjung mendapat jawaban aku membuka pintunya dan mengintip ke dalam.

 

DRRTTT..

 

“Halo?”

 

“Taeng? Kau dimana? Sepertinya aku harus pergi sekarang. Jessica mengajakku jalan-jalan”

 

“Pergilah, Yul. Aku akan naik taxi saja. Have fun!”

 

Setelah menutup telepon dari Yul, aku masuk ke dalam kamar itu. Hmm, dia sedang tidur rupanya.

 

Aku keluar dari kamarnya, untuk melunasi biaya perawatannya dan mengurus semuanya. Lalu aku kembali, ia masih tertidur. Wajahnya sangat damai dan cantik. Apa yang membuatnya berpikir untuk bunuh diri?

 

“Erghh..”

 

Oops, sepertinya ia terbangun. Dengan cepat aku langsung duduk di sofa dan memejamkan mata.

 

“Dia itu kan…”

 

Sepertinya dia mengingatku.

Aku mendengar langkah kakinya yang semakin mendekat ke arahku.

 

“Dia…imut juga saat tertidur”

 

“Terima kasih atas pujiannya”ujarku dengan mata terpejam. Lalu perlahan kubuka mataku dan melihat ekspresi kagetnya.

 

“B-Bagaimana kau?”

 

“Hari ini kau sudah diijinkan pulang, Ms.Hwang.”ujarku tanpa menjawab pertanyaannya.

 

“A-apa? Bagaimana bisa? Kau…”

 

“Tidak perlu berterima kasih, sekarang kau harus berkemas, Ms.Hwang”

 

“Darimana kau tahu nama keluargaku?”

 

“Itu tidak penting. Ayo, berkemas.”

 

Ia menurutiku tapi masih dengan tatapan bingung. Aku tidak bisa mendengar jelas pikirannya, terlalu banyak pertanyaan. Sepertinya ia sangat bingung. Aku mengirimkan pesan kepada kepala pelayan di rumahku untuk mengirimkan mobil kemari.

 

Tak lama kemudian, mobilku sampai.

 

“Naiklah…”ujarku. Ia tetap menurut. Dan tentu saja aku mendengar pertanyaan di pikirannya. Banyak sekali pertanyaan.

 

“Aku tahu kau punya banyak pertanyaan di dalam otakmu. Tapi bisakah kau berhenti berpikir? Itu sangat mengganggu. Dan sekarang, kemana aku harus mengantarmu?”

 

Dia mengerutkan alisnya. Tapu setelah itu ekspresinya berubah panic.

 

“Bagaimana ini? Aku tidak punya rumah”

 

“Mr.Lee, kita langsung ke rumah”ujarku pada sopirku.

 

Ia menatapku dengan heran.

 

“Jangan bilang kalau kau………….”

 

TBC

 

STAY AWESOME, SONEs!!! ME LOVE YOU, GUYS!

 

© KZSNE 2013

I am Seohyun[1]

23

I am Seohyun[1]

 

SNSD(YULSIC)

 

GENDER BENDER

 

Title : Best Christmas Gift

 

 

So, aku kembali dengan FF ini. Sebenernya ini ga pure punyaku. Cuman ini aku angkat dari sebuah novel yg aku lupa namanya-_- krn udah lama banget dan tiba-tiba aja keinget hahaha dan kl blh jujur ak jg ga trlalu inget alurnya._. Jadi FF ini akan berbentuk ONESHOOTs. Dan aku memutuskan untuk mengawali kisah2 ‘I am Seohyun’ dengan FF YULSIC SPECIAL CHRISTMAST INI! X)

 

 

 

*****

 

London, 23 December 2013

 

Jessica’s POV

 

“Aku duluan, Jessie! Sepertinya aku akan pulan sedikit malam hehe”ujar Tiffany, sahabatku. Dia pergi seraya menggandeng kekasihnya, Kim Taeyeon. Entahlah, mereka sudah terikat sejak kami lulus SMA.

 

Di sini lah aku. Di toko mainan ini. Sendiri. Hanya ditemani beberapa mainan.

 

Huft. Padahal sudah pukul 8.30 tapi masih sangat banyak orang tua yang mengajak anaknya kemari, bahkan ada bebrapa couple yang datang. Sedihnya, aku masih single.

 

Aku melihat keluar jendela. Suasana malam di London dan bersalju cukup membuatku terhibur.

 

Pukul 11.30 PM.

 

Akhirnya, semua pelanggan sudah pulang. Aku pun memutuskan untuk mengunci pintu toko mainan yang kubangun bersama Tiffany ini lalu kembali ke dalam untuk menenangkan diri dan meminum secangkir kopi. Lagipula, untuk apa aku pulang ke apartment, Tiffany juga pasti masih berkencan. Kalau tidak, dia akan panic dan menelponku berkali-kali.

 

DRRTTT…

 

Mom?”

 

Jessie…kau sudak selesai bekerja, nak?”

 

“Tentu, ada apa, Mom?

 

“Hanya ingin memberitahu bahwa aku akan ke London malam ini, jadi besok aku bisa memberikan putri kecilku ini hadiah natal haha. Atau…kau punya hadiah untuk Mom? Seorang menantu mungkin?”

 

Mom, kau tahu aku tidak punya waktu untuk itu. Aku masih ingin bekerja…”

 

Mom terdiam. Aku sangat mengerti, ia pasti sedih. Sangat sedih.

 

“Baiklah…Mom, aku akan tutup teleponnya. Jangan terlalu memikirkan aku. Kau juga harus perduli pada kesehatanmu sendiri, okay? Love you, Mom…”

 

Aku sedikit menintikan air mataku setelah menutup telepon.Sejujurnya aku merasa sangat kesepian. Aku juga menginginkan kekasih seperti teman-temanku yang lain. Apalagi, usiaku ini….

 

Tuk…Tuk…

 

Aku tersentak karena mendengar ketukan dan mengarahkan pandanganku ke pintu kaca toko ini. Seorang anak yang berumur kira-kira 15 tahun, berdiri di sana sambil mengetuk pintu kaca. Aneh, aku memandangnya. Dia berpakaian serba hitam dan terus mengetuk pintu kaca.

 

Aku menghampirinya dan berkata bahwa kami sudah tutup dengan cara menunju tulisan ‘CLOSED’ yang terpampang jelas di pintu. Tapi ia terus mengetuk pintu kaca ini. Akhirnya, aku membuka pintu ini, karena kasihan dan bisa saja dia kedinginan di luar sana.

 

Setelah masuk ke dalam toko ia langsung melihat ke arah rak mainan di toko ini. Lalu ia berbalik menatapku.

 

Aku berjongkok untuk mensejajarkan tinggiku dengannya. Dia cukup kecil untuk anak 15 tahun jaman sekarang.

 

“Sudah menemukan apa yang kau cari, gadis kecil?”tanyaku seraya tersenyum.

 

Ia mengangguk dengan semangat, lalu menarik tanganku ke belakang toko. Ia menunjuk ke arah mainan yang berupa pangeran sedang menunggangi kuda putih. Aneh sekali, ia memilih mainan yang sudah 5 tahun lamanya tidak ada yang menyentuh.

 

“Kau ingin itu?”

 

Ia mengangguk lagi.

 

Aku berusaha mengambilnya, cukup sulit. Karena tinggiku sejujurnya juga tidak pantas dengan usiaku. Anak itu menarik ujung bajuku dan menunjuk ke arah tangga yang terletak disebelahku. Aku merasa sangat bodoh.

 

“Ini, mainan yang kau inginkan…”ujarku seraya tersenyum ke arahnya.

 

Ia tampak senang dengan mainan itu, tapi kemudian ia tampak sedih lagi setelah merogoh sakunya.

 

“Ambil saja, anggap saja itu sebagai hadiah natalmu…”aku mengusap kepalanya. Ia mengangguk senang dan berjalan ke arah pintu keluar.

 

Tapi ia berhenti dan berbalik menatapku. Ia menghampiriku lagi. Aku sangat terkejut saat ia melepas pangeran itu dari kudanya dan memberikannya kepadaku.

 

“Kau memberikan ini…padaku?”

 

Ia mengangguk.

 

“Terima kasih, tapi…apa kau tidak kasihan melihat pangeran ini terpisah dari kudanya?”

 

“Hadiah yang tepat, dan terbaik untuk orang berhati mulia sepertimu, Ms. Jessica Jung…”ujarnya seraya tersenyum.

 

Aku tersentak mendengar dia menyebutkan namaku dengan lengkap. Aku memeriksa bajuku. Aku sudah melepas name tag-ku. Aneh sekali.

 

DRRRTTTT…

 

Aku mengambil handphone-ku dari kantong.

 

“Halo…?”

 

OH MY GOSH!”

 

Aku menjauhkan ponselku dari telingaku. Dasar, Tiffany Hwang. Rupanya dia sudah pulang dari kencannya.

 

“Ada apa?”

 

“JAM BERAPA INI?! OH MY GOSH! AKU SANGAT KHAWATIR PADAMU, JESSIE!”

 

“Tenanglah, aku akan pulang sekarang. See ya

 

Lebih baik aku segera pulang. Aku membereskan barang-barangku, termasuk boneka pangeran itu.

 

Saat sampai di apartment. Tiffany menghujamku dengan ribuan kata yang mengatakan dia khawatir bla bla bla. Terkadang dia lebih cerewet dari Mom. Tapi aku menyayanginya.

 

Aku masuk ke dalam kamar dan membanting diriku ke atas kasur. Aku mengeluarkan boneka pangeran itu dari tasku.

 

“Hey kau…mulai sekarang kau adalah milikku. Aku akan menamaimu, Yul…sesuai dengan nama yang tertera di box mu itu. Prince Yul”

 

Bodoh, aku sangat kesepian sehingga berbicara dengan benda mati. Aku memeluk Yul dan tertidur.

 

——–

 

London, 24 December 2014

7.00 AM

 

Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Aku masih sangat mengantuk. Tapi aku tersadar, aku tertidur dibaluti selimut. Seingatku tadi malam… hmm, mungkin Tiffany.

 

Hari ini aku tidak makan siang dengan Tiff, karena Mom menelponku dan mengatakan bahwa ia sudah sampai di London dan mengajakku makan siang. Tadinya Tiffany ingin ikut. Tapi, Taeyeon datang.

 

Mom mengajakku bertemu di SoShi café. Dulu aku dan Tiffany sering ke sini saat kuliah. Alasannya? Karena café ini berwarna pink. Dan Tiffany sangat suka pink.

 

“Mom?”panggilku kepada wanita paruh baya yang sedang meyesap sebuah benda yang kusebut racun.

 

Ia melihatku dan mematikan rokoknya. Setidaknya ia masih menghargaiku dan ingat kalau aku sangat tidak menyukai rokok. Sebnarnya dia bukan perokok. Tapi semenjak Dad meninggal dia jadi menyukai benda itu. Aku juga tidak bisa melarangnya.

 

“Hai Jessie.. Mom tahu kau akan menemukan pasanganmu.”ujarnya seraya tersenyum dan mengecup keningku.

 

“A-apa?”

 

“Duduklah, kau sudah makan?”

 

“Aku sudah makan”jawabku.

 

“Seharusya aku sudah tahu, kau pasti sudah makan dengan kekasihmu itu hahaha”

 

Aku semakin bingung dengan ucapan Mom.

 

Mom, ingin memberimu ini, Jessie…”

 

Ia mengeluarkan sepasang cincin.

 

“Ini…”

 

“Ini milik nenek dan kakekmu. Dulu, mereka berikan pada Mom, dan berkata Mom boleh memakai ini saat sudah menemukan orang yang tepat. Dan sepertinya ini saatnya Mom memberikan ini padamu.”

 

“Orang yang tepat? Aku bahkan belum-“

 

Oops! Mom harus pergi, Mom ada janji dengan beberapa teman. Titipkan salamku untuk Tiffany. Bye, Jessie..Mom menyayangimu”ia mengecup keningku. Meninggalkanku dalam keadaan bingung.

 

Aku kembali ke toko mainan karena jam makan siang sudah berakhir.

 

“Jessie,kau bisa bantu aku di- whoa

 

Tiffany tercengang menatapku.

 

“Tiff? Ada apa?”

 

Bukannya menjawabku dia malah menarikku ke bagian belakang toko.

 

“Kenapa kau tidak pernah cerita kau sudah punya kekasih?”

 

“Apa? Tunggu. Mungkin ada kesalahan, aku-“

 

“Kau ingin bilang kalau kau belum memilikki kekasih? Kau ingin merasakan tinjuku, Ms.Jung?”

“Tapi aku benar-benar tidak mengerti. Tadi Mom, sekarang kau juga? Oh, tidak…”

 

“Hey, aku tanya padamu. Kalau kau tetap menyangkal, siapa pria tinggi, georgeus and tan outside there?”

 

I have no idea

 

“Huft, kau tidak asik, Jessie. Baiklah, kalau kau masih menyembunyikan identitasnya. Aku yakin kau akan memberitahuku nanti, benar kan sahabatku? Kkk”

 

Ia meninggalkanku mematung. Tiffany keluar dengan melompat bahagia seraya bernyanyi kecil “Sahabatku mempunyai kekasih” berulang kali.

 

Kami menutup toko lebih awal hari ini. Tiffany ada kencan dengan Taeyeon sementara aku memutuskan untuk pulang dan tidur. Aku akan bangun siang besok. Karena besok adalah natal dan tidak ada yang namanya berkerja.

 

——-

 

“Yul, kau tahu? Hari ini semua berkata aku memiliki kekasih dan memberiku selamat. Aku tidak tahu mereka serius atau hanya mengejekku. Kalau itu hanya permainan, tidak tahukah mereka itu menyakitkanku? Huft…”

 

Aku menatap Yul yang tidak bergerak. Tentu saja. Apa yang kuharapkan? Dia hanya boneka. Aku memutuskan untuk tidur.

 

London, 25 December 2013

8.30 AM

 

Aku menggeliatkan badanku. Aneh sekali, di pagi yang seharusnya bersalju dan dingin. Aku merasakan hangat. Hangat yang belum perah kurasakan. Hangat dan sangat nyaman.

 

Aku membuka mataku, dan aku sangat terkejut melihat sepasang lengan kekar melingkar di pinggangku.

 

“KYAAAAAA!!!!”

 

Pria itu terbangun. Aku turun dari kasur dan memukulnya denan bantal berkali-kali.

 

“Kau siapa? Dan mau apa, huh?”

 

“Hey! Hey! Jessica Jung! Tenanglah ini aku! Kwon Yul! Prince Yul!”

 

Yul? Itukan…

Aku memukulnya lebih keras.

 

“Pembohong! Yul itu boneka! Pervert!”

 

Ia turun dari kasur dan berusaha menghentikanku.

 

“KYAAAAAA!!!!”aku berteriak lebih keras dari yang tadi, karena ia tidak memakai busana apapun. Aku melempar bantal yang kugunakan untuk memukulnya. Ia menangkapnya dan menutupi bagian ‘itu’ dengan bantalku. Mungkin aku akan membuang bantal itu setelahnya.

 

“B-bisakah kau berikan aku pakaian? Dan…aku akan jelaskan semuanya.”

 

Benar. Pakaian. Bagaimana bisa aku berkonsentrasi mendegarkan dia bicara tanpa pakaian dan menunjukan absnya yang- HEY! SEKARANG AKULAH YANG PERVERT!

 

Aku berjalan keluar kamar tanpa mengatakan apapun lalu masuk ke dalam kamar Tiffany. Seingatku Taeyeon meninggalkan pakaian yang sedikit kebesaran di sini.

 

Bingo!

 

Baju berwarna biru dan celana training ini mungkin pas untuknya.

 

Setelah itu, aku melempar pakaian itu ke arahnya.

 

——

 

“Aku bisa jelaskan…”ujarnya.

 

“Baik. Jelaskan.”ujarku dingin.

 

“Aku, Yul…sungguh, aku tidak mengada-ada…”

 

“Bagaimana aku bisa percaya?”

 

“Kau ingin bukti? Aku bahkan mengenalmu selama 5 tahun.”

 

5 tahun?

 

“Sekarang percaya?”

 

“I-Itu belum cukup.”ujarku memalingkan wajahku darinya.

 

Ia mendekatiku dan memelukku. Sejujurnya, aku sangat menyukai pelukan ini.

 

“Sadarkah kau apa saja yang terjadi sejak kau menerimaku?”

 

Aku bisa merasakan nafas hangatnya di leherku.

Aku mengingat kejadian aneh sejak aku menerima boneka pangeran itu.

 

“Kalau ini benar Yul milikku, bagaimana bisa kau-“

 

“Aku dikutuk”jawabnya seraya menatapku dan tersenyum tanpa melepas pelukannya.

 

“M-Maksudmu?”

 

“Aku…benarlah seorang pangeran. Aku dikutuk oleh kakakku karena ia tidak ingin aku mengambil tahtanya.”

 

Aku menatap matanya lekat, tidak ada kebohongan sedikitpun.

 

“Kau percaya padaku? My princess?”

 

Aku menatapnya yang sedang tersenyum dork. Aku menganggukkan kepalaku. Mungkin inilah hadiah Tuhan untukku.

 

Yul menatapku dan aku juga menatapnya.

 

“Mungkin aku harus terbiasa dengan suaramu, Sica baby kkk”

 

Wajahku memerah menahan malu, mengingat aku berteriak seperti seekor lumba-lumba tadi.

 

Ia tersenyum dan akhirnya. Kalian tahu akhirnya. Bibir kami saling menempel.

 

“OH MY GOSH!”

 

Kami melepas ciuman kami dan melihat ke arah pintu. Tiffany berdiri bersama Taeyeon dengan wajah terkejut mereka. Hmm, mungkin hanya Tiffany. Karena Taeyeon sedang sibuk memotret kami.

 

I knew it, Jessica Jung! Kau pasti memiliki kekasih!”ia menjentikkan jarinya.

 

“Hai, maaf aku lupa memperkenalkan diri. Aku Kwon Yul. Kekasih Jessica”

 

“Senang bertemu denganmu, Yul. Aku harap kau tahan bersama nenek sihir itu kkk”ujar Taeyeon. Aku memberinya death glare. Sementara Tiffany sibuk memberiku selamat. Kami berakhir dengan makan bersama.

 

Tiffany dan Taeyeon sedang menonton TV di ruang tengah. Sementara Yul membantuku membersihkan piring.

 

“Melihat keahlianmu mencuci piring. Sepertinya aku meragukan kau adalah seorang pangran Yul kkk”

 

Ia hanya melirik ke arahku lalu memamerkan senyum manisnya.

 

Hening.

 

Entahlah. Ini terasa sangat canggung. Memang kami sudah mengenal selama 5 tahun. Secara tidak langsung.

 

CHU~

 

Yul mengecup pipiku tiba-tiba. Yang aku rasakan sekarang? Tidak ada selain bahagia yang amat sangat.

 

“Sica…”

 

“Hm?”entahlah, aku suka cara dia memaggilku. Sedikit berbeda.

 

“Haruskah kita melanjutkan yang tadi?”

 

“Apa?”

 

Tanpa menunggu jawaban dariku, dia mencium bibirku dan memluk pinggangku. Aku mengalungkan tanganku di lehernya. Menikmati ciumannya di bibirku.

 

Kami mengakhiri ciuman kami karena membutuhkan udara.

 

“Sica, ini…”ia melepas sebuah cincin dari kelingkingnya.

 

“Cincin itu…”ia memasangkannya di jari manisku.

 

“Ini cincin kakek dan nenekmu. Karena aku sudah memasangkannya padamu…aku ingin kau memasangkan yang ini di jariku hehe”

 

Aku dengan senang hati menurutinya. Setelah itu ia memelukku.

 

I love you, Sica baby”ia menatapku.

 

I love you too, Kwon….Seobang?”

 

Seobang berarti Hubby di Korea. Karena dulu Mom, memanggil Dad seperti itu. Tidak ada salahnya aku mengikuti.

 

“Seobang? Aku suka itu kkk”ia memelukku lagi.

 

Entahlah siapapun kau, gadis kecil dengan pakaian hitam itu. Tapi aku sangat sangat berterima kasih padamu.

 

This is my Best Christmas Gift.

 

END

 

DON’T FORGET,

 

STAY AWESOME, SONEs!!!!

 

ME LOVE YOU POKOKNYA! X)

AND MERRY CHRISTMAS!!!