[3/?] We Are Meant To Be

51

[3/?] We Are Meant To Be

 

*****

 

Tiffany’s POV

 

Aku sangat menginginkan darah manusia bernama Kim Taeyeon itu. Aku hampir saja mendapatkannya kalau Yoong dan Hyoyeon tidak datang. Pikiranku tidak boleh terbaca oleh Yoong. Mereka pasti akan langsung menjauhkanku dari Kim Taeyeon itu.

 

“Tiffany?”

 

Aku langsung membalikan badanku saat mendengar suaranya.

 

“Taeyeon? Ada apa?”

 

Ia sedikit tercengang melihatku, karena aku memakai pakaian tidur yang sedikit tipis. Kata Jessica, dulu pakaian di kamar ini adalah milikku.

 

“M-Maaf, aku seharusnya mengetuk dulu.”

 

Wajahnya berubah merah.

 

“Tidak apa. Ngomong-ngomong, apa yang kau butuhkan?”aku berjalan mendekatinya.

 

Lucu juga wajahnya saat gugup. Tak ada salahya aku bermain-main sedikit. Aku mulai mengalungkan tanganku di lehernya.

 

“T-Tiff, apa yang-“

 

Karena ia lebih tinggi dariku, aku berjinjit untuk mengecup pipinya lalu memeluknya. Membenamkan wajahku di lehernya.

 

Ia wangi sekali.

 

Aku membuka mulutku sedikit dan mengeluarkan taringku. Aku rasa ini kesempatan bagus.

 

Tapi, tiba-tiba aku merasakan tangannya melingkar di pinggangku dan ia menarik wajahku agar menatapnya. Tatapannya sangat serius, apa niatku terbaca olehnya?

 

Kami saling menatap sampai akhirnya ia menempelkan bibirnya di bibirku. Aku tak memberi respon, sampai akhirnya aku tergoda untuk membalas lumatan bibirnya. Entahlah, tapi aku merasa aku harus melakukannya. Maksudku, membalas ciumannya.

 

Saat aku sudah larut dalam permainan bibirnya, ia melepasnya dan menatapku sebentar.

 

I miss you…”ujarnya lirih.

 

Tatapannya menghipnotisku. Tapi, aku tak bisa ingat. Aku sudah dibutakan oleh aroma darahnya yang membangkitkan jiwa vampire-ku. Aku bukan setengah vampire seperti Yuri. Aku juga bukan seperti teman-temanku yang lainnya, yang bisa membedakan musuh atau bukan. Bagiku semua manusia adalah makananku. Tapi, sejak aku merasakan bibirnya tadi…

 

Tidak. Tidak boleh seperti ini. Aku harus mendapatkan Kim Taeyeon. Aku harus merasakan darahnya!

 

“Kau kenapa?”

 

“Hm?”aku tersadar dari pikiranku.

 

“Kau tampak seperti berpikir. Apa yang kau pikirkan?”

 

“Benarkah? Aku tidak memikirkan apapun”ujarku.

 

“Aku ingin bertanya padamu.”ia mulai menatapku dengan serius, lagi.

 

“Tanyakan saja..”ujarku seraya mengelus pipinya.

 

“Apa yang kau rasakan…saat aku menciummu?”

 

Aku terdiam. Aku bahkan tidak tahu apa yang kurasakan. Aku merasa…aneh. Rasa yang tak dapat aku gambarkan sebelumnya.

 

“Aku…entahlah, Taeyeon. Aku tidak-“

 

Ia memotong ucapanku dengan menempelkan bibir kami lagi.

 

“Kau tidak perlu menjawab sekarang. Aku akan menunggu…”ia tersenyum lalu meninggalkanku di kamar ini.

 

Aku benar-benar bingung sekarang. Aku merasakan aku akan kehilangan akalku. Tapi tidak. Di saat yang bersamaan aku merasakan haus darah yang amat sangat, tapi aku tidak boleh meminum darahnya.

 

“Tiffany!”

 

Mendengar suara Sooyoung, aku segera melihat ke jendela.

 

“Turunlah! Yang lain sedang bermain! Kau ikut?”ujarnya.

 

“Baiklah! Sebentar!”ujarku padanya.

 

Aku mengganti bajuku dan menuju ke rumah bagian bawah untuk bergabung bersama yang lain.

 

Mereka berada di halaman belakang. Memanah.

 

Aku terus memperhatikan Taeyeon. Ia cukup pandai dalam memanah.

 

“Kim Taeyeon”panggilku.

 

Ia langsung menoleh tanpa kupanggil dua kali,”ya?”

 

Aku menggulung lengan bajuku,”lawan aku.”

 

Semua menatapku dengan tatapan apa-kau-bercanda.

 

Aku tidak memperdulikan mereka, melainkan langsung mengambil busur dan anak panah.

 

“Jangan menyesal, Tiffany Hwang.”ujar Taeyeon aku hanya menanggapinya dengan tersenyum kecil.

 

—–

 

“Tidak menyangka kau sehebat itu.”

 

“Aku sudah katakana. Jangan menyesal.”ujarnya seraya tertawa kecil.

 

“Apa dulu selalu seperti ini?”

 

Well…dulu kau sama sekali tidak bisa memanah.”ia terkekeh.

 

“Benarkah? Perubahan bagus bukan?”aku bertanya dengan penuh semangat. Ia hanya mengangguk lalu tersenyum. Kami sama-sama memalingkan pandangan kami untuk melihat halaman rumah Taeyeon yang cukup luas. Dan teman-teman yang lainnya sedang tertawa seraya mengejar satu sama lain. Aku tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan.

 

Taeyeon menghela nafasnya,”yeah..”

 

Ia tersenyum, tapi aku melihat kesedihan di balik senyumnya itu. Apa dia tidak menyukai wujudku yang sekarang? Kenapa aku seperti merasa khawatir? Di kepalaku penuh dengan pikiran-pikiran aneh, bagaimana kalau sebenarnya ia tidak bisa menerimaku? Aku benar-benar bingung.

 

“Tiffany..”

 

Aku menoleh ke arahnya. Ia menarikku ke pelukannya.

 

“Apa yang kau rasakan kalau aku melakukan ini padamu?”tanyanya.

 

Aku menelan ludahku. Aroma darahnya benar-benar segar. Tapi, aku tidak bisa bergerak. Aku merasa sangat nyaman di posisi ini.

 

“Nyaman..”gumamku.

 

Ia memelukku semakin erat. Aku menyukainya. Hanya saja, aroma darahnya benar-benar menggugah seleraku. Aku sangat ingin mencicipinya, sedikit saja.

 

“Hey, kalian ini benar-benar..”ujar Yuri saat melewati kami. Taeyeon segera melepas pelukan kami. Aku melihat ke arah teman-temanku. Sepertinya Yul memberitahukan apa yang terjadi. Tampak semuanya tertawa seraya menatapku. Awas kau Kwon Yuri!

 

“Taeyeon-ah, aku mau masuk.”ujarku. seperti yang kuduga, ia mengikutiku ke dalam.

 

Inilah saatnya.

 

Aku memeluk Taeyeon dan menenggelamkan wajahku di lehernya.

 

“Whoa..”ujarnya karena terkejut akibat gerakanku yang tiba-tiba. Aku bersiap untuk menggigitnya.

 

BRAK!

 

Sial. Tubuhku terpental ke dinding rumahnya.

 

“Tch, ternyata Yuri benar..”ujar Taeyeon. Sambil mencengkram erat tongkat sihirnya dan berjalan mendekatiku.

 

Ia mencondongkan tubuhnya ke arahku. Wajah kami sangat dekat saat ia mengangkat daguku.

 

New born..”ujarnya seraya tersenyum.

 

Ia menempelkan ujung tongkatnya ke leherku,”aku rasa kau butuh sedikit pelajaran, Ms.Hwang…”bisiknya, tepat di telingaku.

 

TBC

 

SORRY FOR SHORT UPDATE! HEHE

 

STAY AWOSONE!!!

 

-kaz

[2/?] We Are Meant To Be

51

[2/?] We Are Meant To Be

 

*****

 

Prolog

 

6 July 1999

 

Taeyeon akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumahnya, mencari Tiffany. Wanita itu belum pulang ke rumah bahkan di waktu selarut ini. Taeyeon khawatir karena jam kerja Tiffany sudah sangat lewat.

 

Ia menyusuri daerah sekitar tempat kerja Tiffany dan terus mencari dengan panic.

 

“T-Taeyeon…K-Kim…Taeyeon…”

 

Taeyeon mendengar itu. Itu suara wanitanya, Tiffany Hwang. Tanpa pikir panjang Taeyeon segera mencari sumber suara. Tapi sesampainya di tempat yang dituju, ia melihat pemandangan yang membuatnya lemas. Ia mengeluarkan tongkat sihirnya, bersiap untuk menyerang. Tapi ia tak sanggup berkata apa-apa.

 

Tiffany tergeletak tak berdaya di jalanan dan berlumuran darah. Seseorang, atau Taeyeon menyebutnya ‘sesuatu’ itu mengeluarkan geraman, matanya bersinar. Hanya itu yang Taeyeon lihat sebelum makhluk itu pergi membawa Tiffany dengan kecepatan yang sangat tidak masuk akal.

 

Prolog End

 

Author’s POV

 

Taeyeon dan Yuri duduk termenung di teras rumah Taeyeon. Yuri terus memperhatikan pria di sebelahnya yang kini tengah mencengkram rambutnya. Ia tak henti-hentinya menangis.

 

Yuri akhirnya melakukan apa yang ingin ia lakukan sejak tadi. Akhirnya ia menepukan tangannya di pundak Taeyeon. Sedangkan yang lainnya hanya diam dan melihat. Termasuk Tiffany. Wanita itu diam seakan tak mengerti apa yang terjadi.

 

“Sudah siap mendengarkan cerita sebenarnya?”tanya Yuri.

 

Taeyeon menghela nafasnya, ia mencoba menenangkan dirinya. Ia merasa sangat kacau sekarang. Ia sangat bahagia saat mengetahui wanita yang paling ia cintai masih hidup, tapi ia sangat sedih karena walaupun Tiffany hidup, jiwanya tidak bersamanya.

 

“Baiklah…”ujarnya.

 

Yuri mulai bercerita.

 

Flashback

 

“KYAAAA!”

 

Yuri mendengar teriakan seorang wanita saat ia sedang menikmati malam. Ia langsung bergegas untuk mencari tahu apa yang terjadi. Dan ia melihat semua itu, seorang wanita sedang mencoba melepaskan diri dari beberapa orang yang mabuk. Awalnya Yuri hanya mengawasi dari jauh, sampai salah satu dari orang-orang itu menusukan pisaunya pada Tiffany berkali-kali dan meninggalkan wanita malang itu begitu saja.

 

Yuri mengejar orang-orang itu dan membunuhnya satu persatu. Dan pada saat ia kembali, ia hampir saja kehilangan wanita itu. Yuri menatapnya dengan iba, melihat wanita dihadapannya tergeletak tak berdaya dan terus menyebut nama yang tak terlalu jelas di telinga Yuri. Ia mendekati wanita itu dan membisikan sesuatu padanya. Ia sempat melihat name-tag yang digunakan oleh wanita itu.

 

‘Jadi namanya Tiffany Hwang…’pikir Yuri

 

“Aku harap kau punya kesempatan…Tiffany Hwang”bisiknya.

 

“T-Taeyeon…K-Kim…Taeyeon…”

 

Mata Yuri menyala merah dan ia menggigit Tiffany.

 

“KYAAAA!”Tiffany berteriak, merasakan taring Yuri yang tajam seolah mengoyaknya.

 

Dan saat itulah seorang laki-laki datang, Yuritidak melihat jelas wajahnya, tapi Yuri melihat jelas apa yang dibawanya. Sebuah tongkat sihir. Ia mengangkat Tiffany dan membawanya pergi.

 

Flashback End

 

“Kenapa kau melakukan itu?”tanya Taeyeon dingin.

 

“Karena aku melihat ia punya kesempatan…”jawab Yuri.

 

“Hey,pendek…seharusnya kau senang Tiffany ada di hadapanmu sekarang…”ujar Sooyoung yang sedaritadi memang terlihat muak dengan semua ini.

 

 

Taeyeon beranjak dari tempat ia duduk dan menekankan tongkat sihirnya di leher Sooyoung.

 

“Lebih baik aku juga mati, dibanding melihat Tiffany seperti ini. Tidak punya jiwa, dingin, dan pucat”ujar Taeyeon dengan penekanan disetiap kata-katanya.

 

“Tch…dasar manusia, tidak tahu diuntung. Hey, Kwon Yuri, seharusnya kau tidak usah menyelamatkan Tiffany. Biarkan saja dia mati kehabisan darah saat itu”Sooyoung menyeringai lalu menyingkirkan tongkat sihir Taeyeon. Tapi Taeyeon malah langsung menyerang Sooyoung dengan tembakan yang keluar dari tongkatnya. Sooyoung terpental karena hal itu.

 

Taeyeon menginjak Sooyoung,”jangan pernah kau berkata seperti itu lagi”ujarnya lalu masuk ke dalam rumahnya.

 

Yuri yang melihat itu hanya meremas rambutnya, menandakan ia sangat frustasi. Jessica memeluk Yuri, berusaha menenangkan pria yang baru saja menjadi kekasihnya.

 

Tiffany berdiri dari tempatnya,”aku akan menyusulnya…”ujarnya.

 

Semua hanya melihat ke arah Tiffany.

 

“Apa yang kau lakukan, Soo?”tanya Yoong.

 

“Tidak ada..hanya menguji seberapa cintanya pada Tiffany.”ujar Sooyoung enteng.

 

Taeyeon’s POV

 

“Uhm..Hai..”

 

Aku dikejutkan oleh suara wanita dan mengalihkan pandanganku dari jendela.

 

“Tiffany?”ujarku.

 

Berbeda dengan Tiffany yang aku lihat tadi, dingin. Kali ini ia tampak lebih…manusia. Kini ia sedang meremas-remas jarinya. Dulu ia melakukan itu saat ia gugup. Mungkin tidak banyak yang berubah.

“Dengar, Tae…Yeon? Mungkin kita saling mengenal dulu..tapi aku bukanlah Tiffany Hwang yang dulu kau kenal. Sekarang aku…berbeda.”jelasnya.

 

Aku hanya diam.

 

“Aku tidak yakin apa itu, tapi aku merasakan hal yang berbeda saat kau memelukku. Tapi…aku bukanlah Tiffany Hwang. Tubuhku memang tubuhnya. Tapi aku bukan dia. Aku berbeda…”lanjutnya. Kalau ia manusia, mungkin ia sudah menangis sekarang.

 

Aku menarik nafas dalam lalu menghembuskannya. Aku mulai mendekatinya perlahan. Tanganku kini menyentuh wajah pucat dan dinginnya.

 

“Bagiku kau tetap sama. Matamu, hidungmu, bibirmu..bahkan pipimu ini”aku mencubit pelan pipinya.

 

Ia tersenyum. Senyum yang sangat aku rindukan. Senyum yang membuat matanya seolah menghilang dan membuatnya bertambah manis. Dan tiba-tiba saja ia memelukku. Aku tersenyum kecil, dan perlahan mengelus rambutnya.

 

“As…taga…” “Oh my God…”

 

Dengan cepat kami melepaskan pelukan kami dan melihat siapa yang datang.

 

Itu teman Yuri yang bernama Yoong dan Hyoyeon.

 

“Kau lihat itu, Hyo?”tanya Yoong dengan wajah terperangah.

 

Hyoyeon mengangguk,”Tiffany tersenyum. After all this year.”

 

Aku melihat ke arah Tiffany yang kini sudah memasang kembali wajah dinginnya.

 

Aku berdehem dan menyadarkan mereka berdua’”sebaiknya kalian menetap di sini dulu..”ujarku lalu berjalan melewati mereka yang masih terkejut.

 

Aku bisa mendengar suara Hyoyeon yang berkata,”Hey, Tiffany Hwang! Kenapa kau tidak pernah tersenyum seperti itu pada kami?!”

 

Aku menghampiri Yuri yang kini tengah duduk berdampingan dengan Jessica.

 

“Yuri”

 

“Taeyeon? Ada apa? Hey Soo, cepat minta maaf!”ujarnya.

 

“Tidak perlu. Aku hanya ingin memberitahukan kalau kalian sebaiknya menetap di sini dulu.”

 

“Di sini?! Di rumah kec-emph!”kata-kata Sooyoung terputus saat gadis bertubuh kecil, kalau tidak salah namanya Sunny membekap mulutnya.

 

“Terima kasih, Taeyeon”ujar Sooyoung lagi.

 

Kami semua masuk ke dalam rumahku.

 

“Taeyeon, maafkan aku..tapi sepertinya kami tidak akan muat di sini.”ujar Yoong.

 

“Jangan melihat dengan mata vampire-mu”ujarku.

 

Aku mengeluarkan tongkat sihirku dan mengetukkannya pada dinding rumahku yang terbuat dari batu bata.

 

Tak lama kemudian sebuah tangga muncul.

 

“Ikuti aku…”

 

Mereka semua mengikutiku naik ke atas.

 

Yuri’s POV

 

Kami semua mengikuti Taeyeon. Dan, dikejutkan oleh pemandangan mewah yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

 

“Pilihlah kamar kalian. Aku tahu kalian tidak butuh tidur. Tapi mungkin kalian ingin menggunakannya untuk yang lain, aku tidak tahu.”Taeyeon meninggalkan kami.

 

“Aku mencintai sihir.”ujar Hyoyeon dengan wajah kagum.

 

“Aku juga..”gumam Yoong.

 

Aku segera menyusul Taeyeon. Sedangkan Jessica menunjukan kamar-kamar yang ada.

 

“Taeyeon. Terima kasih..”ujarku.

 

Ia melihat ke arahku,”tidak, Yul.”

 

Ia mendekatiku dan menyentuh pundakku,”terima kasih.”

 

Aku membalas senyumnya dan menganggukan kepalaku.

 

Saat aku hendak naik, aku bertemu Jessica di tangga.

 

“Hai”ujar kami bersamaan.

 

Aku menggaruk tengkukku,”kau ingin tidur?”

 

Ia menganguk.

 

“Baiklah..aku akan menjagamu.”ujarku sebelum mengikutinya.

 

“Yul, kau tidak lelah?”tanyanya.

 

Aku menggeleng dan memeluknya dari belakang,”aku tidak pernah lelah, Sica-baby”

 

“Sica-baby? Hahaha”ia tertawa keras.

 

“Kenapa? Panggilan itu lucu untukmu. Kau tidak suka ya?”

 

Ia menggeleng,”aku sangat menyukainya, hanya saja kita baru beberapa jam resmi menjadi kekasih, Yul. Aku belum memikirkan panggilan untukmu, dan kau sudah menemukannya. Jangan-jangan kau sudah memikirkannya sebelum menyatakan perasaan padaku?”

 

Tepat sekali.

 

“T-Tentu tidak, hehe”jawabku lalu memeluknya lagi.

 

Kami diam dan saling bertatapan. Aku berinisiatif untuk menarik dagunya dengan tujuan mempertemukan bibir kami. Tapi, ia menahannya.

 

“Whoa, kau mau apa?”tanyanya.

 

“Menciummu?”

 

Ia terkekeh,”bukankah vampire seharusnya tidak memiliki hasrat seperti itu?”

 

Aku tersenyum kecil.

 

“Aku tidak bisa tahan denganmu”kataku, lalu langsung mencium bibirnya.

Ia tampak terkejut dengan perlakuanku, tapi kemudian ia membalas ciumanku. Bahkan ia mulai melingkarkan tangannya di leherku. Membuatku mengeratkan pelukan tanganku di pinggangnya.

 

Tak lama setelah itu kami melepaskan bibir kami. Aku melihatnya yang terengah-engah dan wajahnya memerah. Membuatku mencium pipinya.

 

“Lain kali, kau harus ingat kalau aku manusia dan membutuhkan oksigen, Kwon Yuri”ujarnya dan mencubit pelan pipiku.

 

Aku memeluknya dan tersenyum,”I love you…

 

Love you too, vampire boy

 

TBC

 

STAY AWESONE! <3

 

-kaz

[1/?] We Are Meant To Be

52

[1/?] We Are Meant To Be

 

******

 

Author’s POV

 

“Arghh…”seorang pria berlari dengan seluruh tenaga yang tersisa seraya memegangi luka di sekitar perutnya. Ia terus berlari menghindari kejaran beberapa ‘makhluk’ yang ingin melakukan hal buruk terhadapnya.

 

Sesampainya di sebuah gang kecil, ia memutuskan untuk beristirahat sebentar karena makhluk yang mengejarnya sudah tidak terlihat. Tapi kemudian, ia tak sadarkan diri.

 

—–

 

Yul’s POV

 

“Hey! Kau sudah sadar? Taeng! Cepat ambil air hangat…!”

 

Aku membuka mataku perlahan dan pandanganku sedikit kabur, di depanku berdiri seorang wanita yang tampak sedikit panik. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Rupanya ada seorang pria juga. Si pria menyerahkan ember berisi air hangat dan handuk, lalu si wanita mengompresku dengan handuk yang telah dibasahi air hangat tersebut.

 

“Kau merasa lebih baik?”tanya si pria.

 

Aku hanya diam sambil memandangi mereka.

 

“Oh! Maafkan aku. Sebelumnya aku ingin memperkenalkan diri. Namaku, Kim Taeyeon. Dan ini sepupuku…Jessica Jung…”

 

Jessica?

 

Wanita bernama Jessica itu tersenyum sangat manis.

 

“W-Wajahmu memerah! Apa kau belum merasa baikan?”

 

Jessica mendekat ke arahku dengan wajah khawatir. Aku mundur untuk menghindari sentuhannya. Aku merasakan gejolak aneh. Perasaan apa ini? Aneh sekali.

 

BRUK!

 

Masih memandangi mereka, aku merasakan bokongku akan sakit sekali karena aku terjatuh dari kasur. Tapi untungnya, aku tak merasakan apa-apa.

 

Taeyeon terkekeh,”tenanglah, buddy. Kami bukan orang jahat…kami berdua adalah dokter.”

 

“M-Maaf…”ujarku.

 

“Tidak perlu meminta maaf. Karena kami hanya ingin kau beristirahat sampai keadaanmu pulih. Dan…lukamu sudah kami tangani..”ujar Jessica.

 

Aku langsung mengingat luka di sekitar perutku yang sekarang sudah tertutup perban.

 

“Siapa namamu?”tanya Taeyeon.

 

“A-Aku…Yuri…Kwon Yuri..”

 

“Yuri? Hm, nama yang unik. Senang berkenalan denganmu, Yuri”ujarnya lagi.

 

Mungkin aku bisa mamanfaatkan dua orang ini untuk menutupi jejakku. Yeah, mungkin aku bisa.

 

“Istirahatlah, aku akan meninggalkanmu sebentar untuk membeli beberapa persediaan obat…dan Taeyeon akan menjagamu”ujar Jessica lalu pergi.

 

Kini aku merasa sendirian di rumah yang tidak terlalu besar ini, karena Taeyeon sedang mandi.

 

30 menit setelah itu, aku mulai bosan dan memutuskan untuk melihat-lihat isi rumah ini.

 

Tidak ada yang menarik, hanya ada beberapa foto anak laki-laki dan perempuan. Yang perempuan sepertinya Jessica, karena senyumannya aku mengenalinya. Dan, yang laki-laki bisa dipastikan itu Taeyeon.

 

Aku terus menyelusuri foto-foto tersebut. Sepertinya mereka tumbuh bersama.

 

Tapi…hey, tunggu dulu.

 

Aku memandangi foto Taeyeon memeluk seorang wanita dengan erat. Senyum terlukiskan di wajah keduanya. Wanita ini…

 

Dia kan…

 

“Yuri?”

 

Suara Taeyeon mengejutkanku. Ia sudah berdiri di sebelahku.

 

“Oh? M-Maaf, Taeyeon. Aku tak bermaksud…”

 

“Tidak apa-apa, Yuri…aku tahu kau pasti bosan hahaha”ia tertawa seraya menepuk pundakku.

“Hmm, Taeyeon? Wanita ini…”

 

“Dia?”

 

Aku mengangguk saat ia menunjuk ke foto wanita itu.

 

Ia menarik nafas sebelum menjawab.

 

“Dia…adalah wanita yang paling sempurna yang kukenal dalam hidupku. Aku sangat bahagia memilikinya. Tapi, ia diambil dariku…”

 

“Diambil? Maksudmu?”

 

“Ya. Dia dibunuh, oleh-“

 

Kata-kata Taeyeon terputus saat mendengar suara Jessica dari pintu masuk. Ia langsung menghampiri Jessica dan membantunya, karena Jessica membawa banyak barang, Aku juga ikut membantunya.

 

“Terima kasih…”ia tersenyum padaku.

 

Itu terjadi lagi. Aku mematung. Pandanganku terpaku padanya.

 

Saat malam tiba, Taeyeon memasak makan malam untuk kami. Dan di sinilah aku. Di ruang makan, duduk berhadapan dengan Jessica. Tak ada satupun dari kami yang membuka pembicaraan. Tapi, keheningan itu mencair saat Jessica tertawa kecil.

 

“A-Ada yang salah?”

 

“Hmm tidak. Hanya saja, aku merasa kau sangat lucu.”

 

“A-Aku?”

 

“Wajahmu selalu terlihat gugup dan canggung. Dan kau selalu terbata saat berbicara.”ia tersenyum lagi.

 

Kau lah yang membuatku seperti ini, Jessica.

 

“Maaf…”

 

Ia tertawa lagi.

 

“Itu juga salah satunya. Kau selalu meminta maaf. Berhentilah melakukan itu, Yul…”

 

“Yul?”

 

“Well…Yuri terlalu panjang untukku.”ia menopang kepalanya dengan kedua tangannya. Membuatnya terlihat imut.

 

“Baiklah…Sica..”

 

“S-Sica?”

 

“Aku rasa itu cocok untukmu, hehe”

 

Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal.

 

“Uhm…aku suka hehe. Terima kasih.”

 

Sial.

 

Dia tersenyum lagi.

 

“Makanan siap…!”ujar Taeyeon.

 

Wow! Makanan yang dihidangkan tampak lezat.

 

“Darimana kau mendapat semua ini, Taeng? Jangan bilang kau-“

 

“Ssst..diamlah, princess..! Nikmati saja hasil kerjaku. Woops! Aku hampir lupa.”

 

Taeyeon menjentikan jarinya, dan seketika sebuah serbet muncul di pangkuanku dan Jessica.

 

Apa jangan-jangan…

 

“Makanlah, ini aman. Tenang saja, nona Jung. No magic used! Kkk”

“Maaf kalau kami membuatmu terkejut, Yul…”

 

“K-Kalian penyihir?!”ujarku dan segera bangkit dari tempat duduk.

 

“Hey, Yul! Tenang dulu! Kami bisa jelaskan…”ujar Taeyeon.

 

“K-Kalian kaum magissa?!

 

“Kami akan je- tunggu, darimana kau tahu nama kaum kami?”heran Taeyeon.

 

“Karena aku sama seperti kalian…”ujarku.

 

“A-Apa..?” Taeyeon terperangah karena ucapanku.

 

“Tidak untukmu, Taeng! Kau seorang pencuri ulung!”ujar Jessica.

 

“Ssstt…diamlah, Jessie…”bantah Taeyeon

“Jadi…apa kemampuanmu?”tanya Jessica tanpa memperdulikan Taeyeon.

 

Aku tidak berkata apa-apa. Aku memusatkan pada ember berisi air yang terletak di sudut ruangan.

 

Seketika air dari dalam ember itu keluar, melayang di udara, lalu aku menjatuhkannya kembali.

 

“Kau…seorang bender..”ujar Taeyeon.

 

Aku hanya tersenyum.

 

“Apa kau dikejar sesuatu? Maksudku…malam itu..”tanya Jessica

 

“Sebenarnya kaum vrykolakas mengejarku malam itu…”

 

“Bajingan!”teriak Taeyeon. Seketika ia menjadi marah. Jessica berusaha menenangkannya.

 

Vampire-vampire bodoh itu selalu membuat ulah!”ujarnya lagi.

 

“Yul…”panggil Jessica.

 

“Ya?”

 

“Sebenarnya…apa yang membuat kau dikejar oleh mereka?”tanyanya.

 

“Hmm…itu…”

 

Bagaimana ini? Tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya. Ditambah lagi, sepertinya mereka sangat membenci vampire.

 

Flashback

 

Keputusan telah dijatuhkan. Memang susah berhadapan dengan The Great Vlad. Pimpinan kaum vrykolakas. Pimpinan para vampire.

 

“Tidak boleh ada darah campuran. Kaum kita harus bersih.”begitu katanya.

Semua vampire yang berdarah campuran diburu dan dibunuh. Berdarah campuran berarti dengan kata lain ada darah yang mengalir ditubuh kami, walau hanya sedikit. Dan…ibuku adalah seorang penyihir. Aku tidak bisa dikategorikan seorang darah campuran, karena aku tidak memiliki darah mengalir. Tapi, penyihir adalah musuh bebuyutan para vampire. Bisa dikatakan, akulah yang paling diburu. Dan aku juga satu-satunya yang berhasil lolos. Setidaknya untuk saat ini.

 

Flashback End

 

Aku tidak mungkin mengatakan kalau sebenarnya aku adalah vampire.

 

“Yul?”

 

Aku tersadar dari lamunanku saat Jessica memanggilku.

 

“Oh..maaf, Sica. Aku hanya teringat sesuatu…”

 

“Tidak apa-apa. Jadi…mengapa mereka mengejarmu?”tanyanya.

 

“Itu..uhm…yeah, kau tahu sendiri kalau mereka tidak menyukai para penyihir kan hehe.”

 

“Ya, aku tahu…tapi baru kali ini aku mendengar ada yang diburu…”ujarnya.

 

Sebenarnya, para vampire maupun penyihir tidak pernah saling membunuh kecuali dalam keadaan terdesak. Aku hanya tersenyum getir mendengar perkataan Jessica.

 

“S-Sudahlah, lebih baik kita makan hehe. Aku lapar…”aku memecah keheningan yang sempat terjadi.

 

——

 

Pikiranku berantakan. Dan merebahkan diri di sini adalah buang-buang waktu. Karena vampire, tidak butuh tidur.

 

Aku memutuskan untuk keluar sebentar. Tapi, pandanganku tertuju pada wanita yang duduk termenung di depan rumah seraya memandangi bintang yang tidak cukup terang.

 

“Hey…”sapaku.

 

Ia tampak terkejut. Wajahnya lucu sekali.

 

“Oh..Yul…”ia tersenyum. Ia semakin cantik di bawah sinar bulan.

 

“Apa yang dilakukan wanita sepertimu di larut malam seperti ini?”

 

Ia terkekeh,”wanita sepertiku?”

 

“Maksudku…w-wanita cantik sepertimu..”

 

Lagi-lagi aku merasa gugup.

 

Ia tertawa.

 

“Bagaimana denganmu?”ujarnya.

 

“Mungkin sama sepertimu…”

 

“Benarkah?”

 

“Mungkin…”aku tersenyum,”aku rindu pada ibuku…”lanjutku.

 

Ia menghela nafas lalu bersandar di bahuku. Rasanya jika aku punya jantung, jantungku ingin melompat keluar saat bisa sedekat ini dengannya.

 

“Aku juga merindukan ibu dan ayahku…”lirihnya.

 

Entah dorongan darimana, aku mengusap rambutnya.

 

“Yul…Kenapa kau dingin sekali? Apa kau sakit?”

 

menyadari itu, aku langsung menarik tanganku dari kepalanya.

 

“Sebaiknya kau tidur, Sica…”

 

Ia tidak menjawabku. Aku melihat ke arahnya.

 

“Dia sudah tertidur…cepat juga”

 

Aku terus memandanginya. Wajahnya yang sempurna benar-benar membuatku terhipnotis.

Aku bergerak perlahan agar tidak membangunkannya, lalu kugendong dia. Kuletakan ia di atas kasurku dan kututupi tubuhnya dengan selimut.

 

Sebaiknya aku berjaga.

 

Saat aku sedang duduk dan kembali menatap langit, aku merasa ada yang memasuki pikiranku.

 

 

“Yul, kau dimana? Kau bisa mendengarku? Apa kau selamat?”

 

Ini…Yoong?

 

Aku mengatakan bahwa aku baik-baik saja, dan ia bilang ia akan melacakku dan menyelamatkanku bersama yang lain. Kemampuan yang dimiliki Yoong sangat special, ia bisa melacak keberadaan seseorang dan melakukan telephaty.

 

—–
Sudah hampir 1 bulan aku menetap di kediaman Jessica dan Taeyeon. Hubunganku dengan Jessica semakin dekat. Dan malam itu, adalah hari dimana mereka harus tahu siapa aku.

 

Kami sedang menikmati makan malam, kini tak ada rasa canggung lagi di meja makan.

 

“Yul!”

 

Aku mendengar suara Yoong. Aku mengira itu hanya telephaty, dan Taeyeon berkata.

 

“Yul? Kau dengar? Ada yang memanggilmu…”

 

Itu benar Yoong.

 

Aku segera meninggalkan meja makan dan berlari keluar, begitu juga dengan Taeyeon.

 

“Kaum vrykolakas?! Mau apa mereka?!”emosi Taeyeon tak terkendali, sekarang ia memegang tongkat sihirnya dan bersiap menyerang teman-temanku.

 

“Taeyeon! Berhenti!”ujarku.

 

Taeyeon menatapku tajam,”kenapa, Yul?! Bukankah kau seharusnya senang?! Aku akan menyelamatkanmu!”

 

Ia bersiap untuk mengayunkan tongkat sihirnya.

 

“KIM TAEYEON! JANGAN SAKITI TEMAN-TEMANKU!”bentakku.

 

Suasana menjadi hening. Jessica menutup mulut dengan kedua tangannya, ia tampak terkejut. Sedangkan Taeyeon, kini tongkat sihirnya mengarah padaku. Aku dapat merasakan ujungnya, ia menekan tongkatnya di kepalaku.

 

“Maafkan aku, Taeng…aku hanya-“

 

“Kau brengsek!!!”ia menjatuhkan tongkat sihirnya dan memukuli wajahku.

 

Percuma. Aku tak merasa sakit. Tapi, aku biarkan ia melakukannya.

 

“Aku percaya padamu , Yul! Aku menganggapmu saudaraku! Tapi kenapa kau- AARRGH!”

 

Secara tiba-tiba Taeyeon menghentikan pukulannya dan tersungkur. Ia menggeliat, sepertinya ia merasakan sakit yang amat sangat. Dan aku rasa, aku tahu ulah siapa ini.

 

“Taeng!”Jessica dan aku menghampiri Taeyeon.

 

“Yoong! Lakukan sesuatu!”ujarku.

 

Yoong mengangguk,”Tiffany! Hentikan! Aku sudah bilang jangan ada kekerasan!”

 

Wanita berwajah paling dingin dan pucat itu muncul dari balik tubuh temanku, Sooyoung. Ia melihat tajam ke arah Taeyeon.

 

“T-Tiffany…?!”ujar Taeyeon dengan susah payah. Sedangkan Jessica, sepertinya ia sudah kehabisan kata-kata.

 

“Tiff, aku mohon hentikan sekarang! Apa kau tidak mengingatnya?!”ujarku.

 

Tatapan Tiffany melemah.

 

Dan Taeyeon sudah sedikit tenang,”uhuk!” ia terbatuk dan memegangi lehernya. Nafasnya tersengal-sengal.

 

Begitulah. Diantara kami, kemampuan Tiffany lah yang paling berbahaya. Ia dapat menyakiti orang hanya dengan pikirannya.

 

Taeyeon terus memandangi Tiffany.

 

Yeah…Tiffany-lah wanita yang dipeluk Taeyeon di foto yang kulihat itu. Aku tahu. Ia berbeda. Ia pucat, dan dingin. Ia bukanlah Tiffany yang Taeyeon cintai dulu. Tapi aku yakin, mereka pasti bersama. Entahlah, mungkin aku harus bertanya pada Hyoyeon yang dapat membaca masa depan.

 

Taeyeon bangkit dan berlari untuk memeluk Tiffany. Tapi ia dihadang oleh Sooyoung dan Hyoyeon. Aku merasa sakit, melihat sahabatku menangis. Ya, Taeyeon menangis seraya menyebut nama Tiffany.

 

Aku melihat kea rah Yoong dan disambut anggukan olehnya.

 

“Lepaskan dia…”

 

Sooyoung dan Hyo saling bertatapan dan melepaskan Taeyeon. Pria itu langsung menghambur ke arah Tiffany, dan memeluknya. Erat.

 

Tidak ada respon yang diberikan Tiffany. Ia hanya memasang wajah dinginnya. Tapi, tak ada perlawanan untuk melepas pelukan Taeyeon.

 

Aku yakin Tiffany bisa mengingat Taeyeon. Hanya butuh proses

 

“Yul…”

 

Aku menoleh ke belakang.

 

“S-Sica…”aku berjalan ke arahnya, tapi ia menjauh.

 

“Benarkah itu? Kau seorang vampire? T-Tapi aku melihatmu! Kau seorang bender!”

 

“A-Aku…Aku seorang darah campuran…maafkan aku. Seharusnya aku mengatakan itu dari awal…”

 

Jessica terus menghindari sentuhanku. Itu membuatku sakit.

 

“Maafkan aku…”

 

Ia hanya diam.

 

“Sica…aku mohon..”

 

Air matanya mulai mengalir.

 

I love you…”ujarku lirih.

 

Tak ada respon yang kudapatkan dari Jessica. Aku menunduk dan berbalik. Aku rasa ini pantas. Aku telah berbohong.

 

BRUK…!

 

Aku merasa sesuatu menabrak punggungku, dan sepasang tangan melingkar di pinggangku.

 

“Bodoh…”ujarnya.

 

Aku tersenyum kecil dan berbalik. Membalas pelukan Jessica.

 

“Jangan menangis…”ujarku. Aku menghapus air matanya.

 

I love you too, Yul…”

 

Aku terus memeluknya dan megecup puncak kepalanya.

 

TBC

 

STAY AWESONE! <3

 

-kaz

[ONESHOOT] Friend With Benefit

29

[ONESHOOT] FRIEND WITH BENEFIT

 

GENDER-BENDER

 

*****

 

“Aahhh..Y-Yul..!”

 

Aku meneriakan namanya saat aku mencapai puncak kenikmatanku.

Ia masih berada di atasku sambil mengatur nafasnya, begitu pula aku. Kami saling menatap satu sama lain, sampai ia tersenyum kecil dan mendaratkan bibirnya di keningku.

 

“Istirahatlah, Tae…kau pasti lelah. Terima kasih ya”ujarnya seraya mengecup bibirku dan membalut tubuhku dengan selimut miliknya.

 

Aku hanya tersenyum kecil menanggapinya.

 

Ah iya. Namaku Kim Taeyeon. Dan pria itu bernama Kwon Yul. Sahabatku, sex partner-ku, dan…orang yang aku cintai.

 

Kami sudah melakukannya selama 3 tahun terakhir ini. Awalnya tak disengaja, tapi lama-kelamaan kami merasakan kenikmatan yang sama.

 

Tak lama kemudian, aku melihatnya sudah berpakaian rapi.

 

“Kau mau kemana?”tanyaku.

 

“Aku ada kencan dengan Jessica. Bye, pendek!”ujarnya dan mengacak-acak rambutku.

 

“YA! Aku tidak pendek!!!”teriakku. Tapi, ia hanya tertawa dan melangkan keluar dari apartmentnya.

 

Yul sudah pergi. Bersama kekasihnya.

 

Kini tinggal aku sendiri. Aku memutuskan untuk membersihkan diri. Aku terus berpikir, apa yang kulakukan ini benar?

 

Aku membasuh tubuhku. Menyentuh “tanda” yang dibuat oleh Yul di leher dan di sekitar dadaku. Selama Yul bahagia, aku juga ikut bahagia. Aku…tidak keberatan.

 

Setelah itu aku memutuskan untuk membuat secangkir kopi. Aku duduk termenung di dapur sambil memandangi jam yang terletak di dinding. Waktu terasa sangat cepat, sekarang sudah menunjukan pukul 9 malam dan Yul belum juga pulang.

 

“Huft…”aku meletakan daguku di atas meja. Yang bisa kulakukan hanya menunggunya. Aku tidak bisa menyuruhnya pulang atau apapun yang bisa membuatnya berada di sini bersamaku. Karena aku hanya sahabatnya. Friend…with benefit. Kenyataan yang sangat menyakitkan.

 

 

Aku mendengar pintu terbuka. Itu pasti Yul.

 

Belum sempat aku menghampirinya. Ia sudah memelukku dari belakang. Nafas hangatnya terasa sangat nyaman di leherku.

 

“Kau menungguku, pendek? Kau wangi sekali…”ujarnya.

 

“Tentu saja aku wangi, tidak seperti kau..”balasku seraya menikmati ciumannya di leherku.

 

“Hmm…kalau begitu mandikan aku..”bisiknya.

Suaranya yang berat, terdengar sangat sexy.

 

“Tidak mau, pemalas!”

 

Aku mencubit pinggangnya.

 

“Awww aww..sakit, Kim Taeyeon..!”

 

Aku terkekeh dan melepaskan cubitanku.

 

“Kau ini…”ia mengacak rambutku,”baiklah aku akan mandi..”

 

Chu~

 

Ia mengecup bibirku lalu melangkah menuju kamar mandi.

 

Aku merebahkan badanku di atas kasur milik Yul. Tidak ada yang kulakukan, hanya merebahkan tubuh dan menatap langit-langit kamar ini.

 

“Hey…”

 

Aku menoleh ke arah kamar mandi. Yul berdiri di depan pintu hanya dengan celana pendek dan handuk yang bergantung di lehernya.

 

“Apa?”tanyaku.

 

“Tidak apa-apa..kamu tampak tidak baik. Ada masalah?”ia ikut merebahkan tubuhnya bersamaku.

 

“Tidak ada. Pakai bajumu cepat!”aku memukul dadanya dengan telapak tanganku.

 

“Aish! Kau ini, ringan tangan sekali…”ia mengerucutkan bibirnya.

 

Aku tersenyum karena ekspresinya sangat lucu menurutku.

 

Aku merubah posisiku. Kini aku berada di atasnya dan kukecup bibirnya.

 

Untuk sekilas, kami tampak seperti orang yang saling mencintai. Tapi, kenyataan lebih menyakitkan.

 

Yul membelai rambutku.

 

“Kenapa kau begitu lucu huh, Kim Taeyeon?”tangannya berpindah ke pipiku dan mencubitnya pelan. Aku hanya tersenyum dan terus menatapnya.

 

“Kau mengantuk?”

 

Aku menggeleng,”kenapa?”tanyaku.

 

Ia menatapku dengan lembut dan memelukku dengan erat,”kau tampak lelah..”

 

“Aku tahu..”

 

“Apa ini karena…kau tahu..”

 

“Bukan…”

 

“Maafkan aku, Taeng…”

 

Taeng…

 

Sudah lama sekali ia tak memanggilku seperti itu. Itu panggilan yang ia gunakan saat kami masih kecil.

 

“Hey, kenapa diam saja?”ujarnya.

“Sebaiknya kita tidur…”aku turun dari tubuhnya.

 

Saat aku hendak berjalan keluar untuk kembali ke kamarku. Yul menahanku.

 

“Tidurlah di sini..”

 

“Tapi…”

 

“Hey..ayolah..”ia menarik tanganku dengan lembut.

 

“Yul..aku sedang tidak bersemangat..”

 

“Siapa yang bilang aku sedang ingin melakukan sex denganmu?”

 

Aku terdiam dengan pertanyaannya.

 

“Apakah sekarang aku bukan sahabatmu lagi? Apakah aku sekarag hanya sex partner untukmu?”

 

Aku menggeleng dengan cepat.

 

“Tidurlah…”

 

Ia memelukku dengan erat.

 

“Aku menyayangimu, Tae…”ujarnya sebelum mengecup puncak kepalaku.

 

Aku juga menyayangimu, Yul..

 

Lebih dari sekedar sahabat..

 

Besoknya…

 

Saat aku bangun, aku tak menemukan sosok Yul di sebelahku. Hanya sebuah memo yang tergeletak di dekat kaca.

 

Selamat pagi, Taeng…

Aku pergi bekerja dan akan pulang terlambat karena pergi bersama Jessica..

Istirahatlah…Jangan menungguku..

 

Love,

Kwon Yul

 

Begitulah isinya.

 

Aku menghela nafasku setelah membacanya.

 

Bagaimana bisa?

 

Bagaimana bisa aku tidak menunggumu, Yul?

 

Aku selalu menunggumu…

 

—–

 

Seperti yang sudah kukatakan, aku menunggu Yul.

 

Walaupun aku sudah mencoba untuk tidur, tapi perasaanku tidak bisa tenang. Pikiranku berkecamuk saat aku memikirkan apa yang Yul dan Jessica lakukan sekarang. Apakah Yul akhirnuya melakukan itu dengan Jessica? Lalu ia tidak akan membutuhkanku lagi dan benar-benar hanya menganggapku sahabatnya dan perlahan ia melupakanku.

 

Aku mendengar suara pintu terbuka. Akhirnya, dia pulang.

 

“Yul, ak-“

Aku terkejut saat tiba-tiba Yul mencium bibirku. Cukup lama, lalu ia melepasnya dan menatapku.

 

“Ada apa?”tanyaku.

 

Ia membalasku dengan tersenyum getir.

 

“Aku…aku putus dengan Jessica..”

 

DEG

 

Aku tidak tahu, apakah aku harus senang atau sedih mendengarnya.

 

Sebagai sahabat, aku akan sangat sedih. Apalagi Yul sangat mencintai Jessica. Tapi diriku yang lain, sangat amat senang. Aku benar-benar jahat.

 

“K-Kenapa?”tanyaku.

 

“Aku….sadar aku mencintai orang lain.”

 

Rasanya aku lemas. Yul mencintai orang lain. Hatiku terasa lebih sakit daripada biasanya.

 

“Untungnya, Jessica menerima itu semua…”jelasnya sambil menunduk.

 

“Lalu…siapa..wanita itu?”

 

Ia melihat ke arahku lalu tersenyum jahil.

 

“Kau benar-benar ingin tahu ya?”bisiknya, tepat di telingaku.

 

Aku mengangguk.

 

“Seorang wanita yang cukup menyebalkan..kurasa. Terkadang ia bisa lebih cerewet daripada ibuku sendiri. Aku tahu dia mencintaiku juga..”jelasnya,”benarkan, Kim Taeyeon?”lanjutnya.

 

“A-Aku…”

 

“Busted…”ia terkekeh lalu memelukku.

 

“Aku sadar pada malam itu, Taeng…aku juga mencintaimu.”ia menangkup wajahku dengan kedua tangannya.

 

Aku tersenyum. Aku melepaskan tangannya dari wajahku.

 

“Siapa bilang…aku masih mencintaimu, Kwon?”tanyaku dengan jahil.

 

Ia hanya tersenyum.

 

Tanpa berkata apa-apa ia mengangkatku dan mengapitku di dinding lalu mendaratkan bibirnya di atas bibirku. Dan tentu saja aku membalasnya.

 

“Masih ingin berkata kalau kau sudah tidak mencintaiku?”tanyanya setelah melepas ciuman kami.

 

“Aku kan tidak bilang begitu. Hahh, kau ini dari dulu tetap saja bodoh..”

 

“Lebih baik bodoh daripada berhenti bertumbuh, dasar kau pendek!”ia menoyor kepalaku lalu tertawa dengan keras.

 

“Hey! Kwon Yul jangan lari!”

 

Begitulah..

 

Tidak ada lagi yang namanya Friend with Benefit…

 

Dan satu lagi pesanku,

 

Kau harus yakin saat kau benar-benar mencintai seseorang meskipun ia mungkin tak merasakan hal yang sama terhadapmu. Tapi yakinlah…it can be your true love.

 

END

 

Akhirnya jadi juga YULTAE/TAERI gw! wkwkwk

 

STAY AWESOME, SONEs!

 

-kaz

[DRABLE/SEQUEL] I LIKE YOU

22

[DRABLE/SEQUEL] I LIKE YOU

 

*****

 

 

Jessica’s POV

 

“Good night, Kwon Yul..”ujarku lalu masuk ke dalam kamar.

 

Aku bersandar pada pintu kamarku, dan meletakan tangan di atas dada kiriku. Merasakan detak jantungku yang sangat cepat. Aku menghela nafas. Selalu saja seperti ini setiap aku sedang bersama Yul.

 

Ya, aku memang menyukainya sejak awal aku bertemu dengannya.

 

Drrt..

 

Handphone-ku bergetar lagi.

 

Gara-gara adikku, Krystal. Ia terus-menerus mengirimiku pesan. Yul tampak terganggu, jadi aku memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.

 

Aku tak menghiraukan handphone-ku yang terus bergetar dan segera mematikannya. Lebih baik aku tidur sekarang.

 

Aku memang mengantuk, tapi entah kenapa yang kulakukan di atas kasur hanya mengubah posisiku. Aku benar-benar tidak bisa tidur.

 

Tak lama setelah itu, pintu terbuka.

 

Itu pasti Yul.

 

Dengan cepat aku menutup mataku. Berpura-pura tidur.

 

Yuri menaiki kasur dengan perlahan. Mungkin ia takut membangunkanku. Mungkin hanya perasaanku. Tapi, aku mearasakan dia sedang melihatku sekarang.

 

“Dia sudah tidur? Wah, cepat sekali..”gumamnya.

 

Ah, aku mengira ia sedang mengagumi kecantikanku.

 

Berpikir apa kau ini, Jung?

 

Sekitar 30 menit berlalu, nafas Yuri menjadi teratur. Sepertinya ia sudah tertidur pulas.

 

Aku membalik badan perlahan, dan aku sangat terkejut karena Yul tidur dengan mengarah padaku. Aku dapat melihat wajahnya dengan jelas sekarang.

 

Dia sangat…

 

 

Aku terus menatap wajahnya sampai aku tertidur.

 

——

 

Hari ini, aku bangun lebih pagi dari biasanya. Dan, yang lebih mengejutkan adalah aku dan Yuri tidur sambil berhadapan satu sama lain.

 

Berhubung aku bangun lebih pagi, aku memutuskan untuk mandi lebih awal juga.

 

Saat aku tengah menikmati air hangat.

 

Pintu kamar mandi terbuka.

 

Itu adalah Yuri.

 

Kami sama-sama terdiam. Ia terus memandangiku, sama terkejutnya denganku.

 

“Oh?! I-I’m so sorry, SIca…”ujarnnya saat tersadar dari lamunannya dan segera menutup pintu.

 

Wajahku merah padam sekarang, aku yakin. Yuri baru saja melihatku…naked?

 

Semenjak kejadian pagi itu, aku maupun Yuri, tak ada yang memulai pembicaraan diantara kami. Sampai akhirnya Yuri berbcara duluan.

 

“Soal tadi pagi…Sica, maafkan aku. Aku tak bermaksud untuk-“

 

“Tidak apa-apa, Yul…”aku memotong ucapannya.

 

“B-Benar tidak apa-apa?”ia tampak terkejut. Aku mengangguk.

 

Drrt…

 

Ah, Krystal.

 

Benar-benar mengganggu momenku dengan Yuri.

 

Hello? Aku di sekolah. Baiklah. I love you…”

 

Aku kembali memasukan handphone-ku ke dalam saku.

 

“Pacarmu?”

 

“Huh? Bukan..itu adikku.”

 

Ia mengangguk.

 

“Aku belum memiliki pacar…”ujarku.

 

 

Kenapa aku mengatakan hal yang tidak penting? Memangnya dia tertarik padamu, Jung?

 

“A-apa? Oh haha”

 

Benar kan?

 

Ia tampak kebingungan dengan ucapanku.

 

“Kalau begitu…”

 

Aku langsung menoleh padanya.

 

“Aku punya kesempatan?”ia membalas tatapanku.

 

“M-Maksudmu?”

 

“Aku mencintaimu, Sica…Aku sudah merasakannya di awal kita bertemu..”

 

Aku terdiam.

 

Senang? Lebih dari itu!

 

Ini sangat luar biasa.

 

“Sica? Hello?”

 

Yuri melambaikan tangannya di depan wajahku, membuatku tersadar.

 

Oh God…

 

Jangan bilang itu hanya khayalanku saja.

 

“Kau mendengarku?”

 

“M-Maaf, Yul..bisa kau ulangi?”

 

Ia tersenyum.

 

“Aku bilang…”

 

Aku menelan ludahku saat ia mendekatkan wajahnya.

 

Apa ia akan menciumku?

 

Aku menutup mataku dan merasakan hembusan nafas hangat Yul.

 

“Aku mencintaimu..”bisiknya.

 

Aku membuka mataku. Dan mendapatinya tersenyum padaku.

 

“Bagaimana?”

 

“A-Aku…juga…mencintaimu..”

 

 

Kenapa aku jadi gugup begini?

 

“Benarkah?”

 

Ia terlihat sangat senang. Aku memeluknya dan ia membalasnya.

 

Di tengah pelukan kami, ia berkata…

 

“Would you be mine, Sica baby?”

 

“Yes I would, Kwon seobang..”

 

Lalu ia memlukku semakin erat dan berbisik,”by the way…I’d like to see you naked…again..”

 

Wajahku terasa panas.

 

Ia terkekeh,”kau lucu sekali, Sica baby! I love you!”

 

I love you too, Seobang..”

 

END

 

STAY AWESOME, SONEs!

 

-Kaz

Everything Is Love [2/2]

22

Everything Is Love [2/2]

 

******

 

Jessica’s POV

 

Aku menatap Yul yang sedang makan dengan lahapnya. Tak terasa sudah 3 bulan ia tinggal bersamaku, dan entah mengapa perasaanku terhadapnya semakin memuncak. Dari rasa kagum, suka, lalu mungkin sekarang aku sudah mencintainya. Tapi, apakah dia punya perasaan yang sama untukku? Aku jadi teringat kata-katanya, kalau malaikat tidak bisa jatuh cinta. It

 

“Hey…”

 

Suaranya menyadarkan lamunanku.

 

“Kenapa menatapku seperti itu? Kau tidak makan makananmu?”

 

“Ah? I-iya..”

 

Dengan gugup aku mulai menyantap makananku. Ia menghentikan aktivitas makannya dan tertawa kecil.

 

“Ada apa?”tanyaku.

 

“Tidak apa-apa, aku hanya ingat kali pertama kau mencoba memasak untukku. Wow, aku tak pernah menyangka memasak dapat menyebabkan ledakan seperti itu…”

 

Aku memajukan bibirku. Dia menyebalkan, aku sudah pernah katakan untuk jangan mengungkit kejadian dimana aku hampir meledakan dapur.

“Jangan melakukan itu dengan bibirmu…aku tidak suka…”ujarnya.

 

“Kenapa?”ketusku.

 

“Karena itu selalu membuat sesuatu ingin keluar dari tubuhku. Rasanya aku akan meledak.”

 

Meledak?

 

Aku menatapnya yang kembali makan dengan lahap.

 

“Ah iya. Kau tau? Sebenarnya kalau aku berhasil dengan misiku, aku dapat meminta satu permohonan…”

 

“Benarkah? Lalu, apa yang akan kau minta?”

 

“Hmm, entahlah aku belum memikirkannya.”

 

“Tentu saja, kau terlalu sibuk makan. Hey, beratku naik 3 kg karenamu.”

 

“Benarkah? Tidak terlihat, kau tetap terlihat memukau…”

 

Aku terdiam, dan mencerna ucapannya. Apa yang baru saja dia katakan?

 

“Huahh! Aku kenyang! Terima kasih!”

 

Ia bangkit dari kursi dan mengelus kepalaku, lalu duduk di depan tv. Ia sangat menyukai cartoon klasik, salah satunya Mickey Mouse.

‘Manusia sangat kreatif’ begitu katanya.

 

Aku duduk di sebelahnya.

 

“Kau benar-benar menyukai film ini,huh?”tanyaku.

“Ya. Begitulah”jawabnya, seraya menariku kepelukannya.

 

Lagi-lagi, jantungku berdetak lebih cepat.

 

“Biarkan seperti ini. Entah kenapa aku menyukainya.”

 

“H-Huh?”

 

Aku hanya diam dan merasakan kehangatannya.

 

“Sica..”

 

“Hm?”

 

“Bagaimana rasanya….jatuh cinta?”

 

Aku melepas pelukannya dan menatapnya. Kami sama-sama terdiam.

 

Tak berapa lama kemudia kesadaranku kembali dan aku memukul pelan kepalanya seraya terkekeh.

 

“Kau ini…belajar darimana?”

 

“Aku? Aku belajar dari manusia tentunya..”ia tersenyum, senyum yang sangat aku sukai.

 

“Hmm…”aku berpikir sejenak.

 

“Bagaimana? Kau tidak pernah jatuh cinta ya, Sica?”ia menggodaku dan mengacak rambutku.

 

“T-Tentu saja pernah!”aku menepis pelan tangannya,”jatuh cinta itu akan membuat jantungmu berdetak lebih cepat, kau bersemangat dan saat melihat orang yang kau cintai kau selalu ingin berada di dekatnya.”

 

Ia mengangguk seperti anak kecil. Membuat bibirku menyunggingkan senyum tipis.

 

“Kalau begitu artinya….”

 

“Apa? Kau mencintai seseorang?”

 

“Aku mencintaimu.”

 

“A-Apa?!”

 

“Yeah…karena kau bilang seperti itu lah rasanya jatuh cinta, jadi aku menyimpulkan kalau aku mencintaimu. Karena aku merasa seperti itu setiap aku bersama denganmu…”

 

Aku terdiam. Mencerna setiap kata-katanya.

 

Apa dia bilang…dia mencintaiku?

 

“Nah sekarang…bagaimana cara memperlakukan orang yang dicintai?”

 

Aku terdiam. Aku masih merasa sangat terkejut.

 

“Kau tidak tahu ya?”

 

Aku menunduk, dan mengangguk pelan.

 

“Hmm tidak apa-apa. Aku…cepat belajar kkk”

 

Ia memelukku.

 

 

Jantungku rasanya mau lepas.

 

“Pertanyaannya adalah, apa kau merasakan hal yang sama terhadapku?”

 

Aku tak menjawabnya, tapi membalas pelukannya.

 

“Aku anggap itu sebagai iya hehe”

 

——

 

1 tahun belakangan ini, aku sangat bahagia bersama Yul. Sampai akhirnya ia mengatakan padaku dengan sangat bahagia kalau hukumannya sudah selesai.

 

“Itu artinya…kita akan berpisah, Yul…”

 

“A-apa?”

 

Aku hanya menatapnya.

 

Ia memelukku dengan erat.

 

“Tidak, tidak mau! Aku lebih baik begini selamanya daripada aku harus berpisah denganmu, Sica baby!”

 

“Tapi tujuanmu kan memang menyelesaikan hukumanmu, Yul…aku senang kalau kau mendapatkan apa yang kau mau..”

 

Aku berusaha menahan air mataku.

 

Aku dan Yul terus berdebat hingga tiba-tiba cahaya yang sangat terang muncul dan menghempasku ke dinding dengan keras.

 

“SICA!”

 

Pandanganku mulai tak jelas saat Yul memanggilku. Lalu aku melihat beberapa pria berpakaian putih mendekatiku, dan semuanya menjadi gelap.

 

——-

 

Aku mengerjapkan mataku beberapa kali.

 

 

Hanya mimpi.

 

Semua itu terasa nyata bagiku.

 

Aku terbangun dari lamunanku saat aku sadar kalau aku terlambat ke kantor. Aku lompat dari kasurku dan berlari ke kamar mandi.

 

Kulajukan mobilku dengan cepat ke kantor. Dan saat sampai aku berlari menuju ruanganku.

 

“Astaga! Hei, Jessie! Akhirnya kau di sini juga. Kau tahu? Tadi CEO mencarimu dan ia ingin memperkenalkan partnermu.”ujar Tiffany.

 

“Hah? Ah tamatlah sudah! Sekarang di mana mereka?”

 

“CEO sedang meeting..sedangkan partnermu itu sudah berada di dalam ruanganmu.”

 

Aku berjalan ke ruanganku bersama Tiffany.

 

“Mr.Kwon?”ujar Tiffany.

 

BRAKK!

 

Kwon?

 

Hmm, mengingatkanku pada seseorang.

 

Sepertinya dia orangnya ceroboh, aku tidak bisa melihat wajahnya karena ia sibuk menunduk merapikan files.

 

“I-iya, Ms.Hwang?”

 

DEG!

 

Y-Yul?

 

Ah..apa aku salah?

 

Aku melihatnya dari atas sampai bawah. Sedikit berbeda. Dia…berantakan dan kacamata yang besar itu membuatnya terlihat culun.

 

“Nah, Jessica ini Yuri..Yuri ini Jessica..pembimbingmu. aku akan tinggalkan kalian berdua..”

 

Tiffany membisikan ‘good luck’ padaku saat ia berjalan keluar.

 

Saat Tiffany sudah benar-benar keluar. Aku kembali menatapnya, dan memeriksa file mengenai dirinya.

 

“Baiklah, Mr.Kwon…Yuri? Mohon kerja samanya.”ujarku dingin.

 

“Bagaimana kalau mulai dari awal lagi?”aku langsung mengalihkan pandanganku dari file dan menatapnya.

 

Ia tersenyum dan melepas kacamatanya. Ia berjalan pelan ke arahku lalu mengulurkan tangannya.

 

“Hai, aku Kwon Yul…Kau mengingatku? Sica baby?”

 

Air mataku mengalir, dan dengan cepat aku memeluknya.

 

“Aku merindukanmu…”bisiknya.

 

Aku menatapnya.

 

“Bagaimana kau-“

 

“Yeah..banyak yang harus kujelaskan padamu…”ia menggaruk tengkuknya,”tapi pertama-tama aku harus melakukan ini.”

 

Chu~

 

Ia mengecup bibirku.

 

“Iiish! Ini kantor, Mr.Kwon!”aku memukul-mukul dadanya, ia hanya tertawa.

 

“Aku tidak tahan untuk mengecupnya. Hey, maaf kan aku haha”

 

Ia mendekapku lagi.

 

“Jangan pergi lagi…”

 

Tidak akan…”

 

“Always?”

 

“Always.”

 

-END-

Another FF pendek._.

 

STAY AWESOME, SONEs

 

-Kaz

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[DRABBLE] I Like You!

19

[Drabble] I Like You!

******

 

Yuri’s POV

 

Gadis ini aneh. Tapi aku selalu melihatnya. Well, dia menawan. Tapi wajah dinginnya sangat mengangguku. Dan itulah yang membuatku semakin ingin mengenalnya.

 

Namanya, Jessica Jung. Siswi pindahan dari USA. Cukup jauh bukan?

 

Kali pertama aku tahu tentangnya adalah saat ia masuk ke asrama wanita dan ia tidur di kamar yang sama denganku. Di dalam kamarku berisikan 4 orang. Kim Taeyeon, Tiffany Hwang, dia, dan aku sendiri. Kwon Yul.

 

Yang membuatku heran adalah ia tak pernah mengeluarkan sepatah katapun. Ia cukup dekat dengan Tiffany. Dan Tiffany pernah berkata bahwa ia tak sedingin yang kita selama ini kira. Ia cukup sering melakukan aegyo dan tertawa. Itu yang kutahu dari Tiffany.

 

Dan pada akhirnya, aku berusaha mendekatkan diri dengannya pada acara yang diadakan oleh asrama kami. Saat itu aku berpasangan dengannya, karena Taeyeon memilih berpasangan dengan Tiffany.

 

Sulit membacanya, karena ia hanya bicara seperlunya saja. Tetapi setelah itu, aku dan dia semakin banyak berbicara. Ia sudah mulai tersenyum dan terkadang ia tertawa saat aku menceritakan lelucon atau melakukan hal konyol. Ia juga sangat suka memukul dan menendang kakiku saat ia melihat wajahku. Itu adalah pengganti ‘hi’ yang dia ciptakan untukku. Jujur saja, itu membuatku ingin berlari ketika melihat wajahnya.

 

Yeah, semua itu sia-sia. Dia selalu saja berhasil mendaratkan tangannya di kepala ataupun punggungku.

 

Tapi…

 

Aku sangat menyukainya.

 

Itulah yang membuatku ingin terus berada di dekatnya, melihat wajahnya dan membuatnya tersenyum.

 

Dan…

 

Kabar buruknya adalah, ada rumor bahwa ia memiliki kekasih di USA.

 

Long distance relationship…

 

“Tidak akan bertahan lama, percaya padaku…”

 

Itu yang Taeyeon katakan padaku.

 

Cukup menghibur.

 

Hari ini, aku belajar bersamanya. Ia langsung datang ke ruang tamu saat aku mengirim pesan padanya untuk menemaniku belajar seraya menggerutu karena aku merepotkan dan sebagainya.

 

Hening.

 

Tentu saja karena kami sedang belajar.

 

Ia mengeluh karena ia kehilangan buku fisikanya. Aku memberikan miliku, aku bilang padanya bahwa aku sudah membaca dan menghafal semuanya.

 

Bohong?

 

Tentu saja. Aku belum menyentuh buku itu sama sekali. Tapi, untuknya aku tidak merasa keberatan.

 

Yang mengganguku adalah, saat kami sedang belajar, handphone-nya tak berhenti bergetar. Aku rasa itu dari kekasihnya. Tapi, aku berusaha untuk mengacuhkannya.

 

Tak berapa lama, sepertinya ia mulai merasa bosan. Ia mulai mengusik kegiatan membacaku dan mengajakku berbicara. Ia menyuruhku bercerita. Awalnya aku menolak, tapi ia terus melakukan aegyo sehingga aku luluh padanya.

 

Aku mulai bercerita banyak hal.

 

Aku tak berani menatapnya, walau aku ingin. Aku terlalu gugup. Ia tampak sangat cantik saat ia tertawa.

 

“Ya, jadi begitulah…aku tidak tahu apa yang terjadi padaku tapi aku menjatuhkan diriku di menit ke tiga..”ujarku, mengakhiri cerita bagaimana aku kalah pada lomba push-up SMP.

 

“Huh, sayang sekali. Hey, kau tahu? Siapapun yang menjadi kekasihmu adalah orang paling beruntung, Kwon…”

 

“K-Kenapa?”

 

Well…kau lucu dan berbakat. Kau juga cantik…”

 

Ia tersenyum.

 

Aku hanya bisa menatapnya tanpa mengatakan apa-apa.

 

“Oh? Yul, sepertinya aku harus kembali ke kamar. Aku mengantuk. Kau juga jangan tidur terlalu malam. Good night, Kwon Yul…”

 

Aku menatap punggungnya yang perlahan menghilang di balik pintu kamar.

 

“Good night, Jessica Jung

 

END

 

HAIIIII!!! AKU KEMBALI DENGAN DRABBLE INI!

MAAF AKU BELUM BISA NGELANJUTIN EVERYTHING IS LOVE HEHE, KARENA AKU LAGI UJIAN!

MOHON DOANYA, TEMAN-TEMAN HAHAHAHA.

DON’T FORGET, STAY AWESOME SONEs!

 

-kaz