[4/?] We Are Meant To Be

35

[4/?] We Are Meant To Be

 

******

 

Author’s POV

 

“Bunuh saja aku!”tantang Tiffany. Tongkat sihir Taeyeon semakin kuat menekan kulit lehernya.

 

“Kau menantangku, huh?!”bentak Taeyeon.

 

Tiffany tidak suka dengan situasi seperti ini. Walaupun ia tak bisa merasakan apa-apa, tetap saja ia tidak suka kalau Taeyeon bersikap seperti itu padanya. Bahkan ia tak tahu apa alasannya.

 

Mereka terus bertatapan sengit. Jarak mereka sangat dekat. Tiffany sedang berpikir, bahwa mungkin ini adalah cara ia akan mati. Benar-benar mati. Ia sudah memejamkan matanya dengan rapat, bersiap menerima apapun yang akan Taeyeon lakukan terhadapnya. Tak lama setelah itu, Tiffany merasakan benda lembut menempel di bibirnya. Ia membuka matanya perlahan, dan menemukan Taeyeon sedang mencium bibirnya. Ditambah lagi, pria itu mulai mengeluarkan air mata. Tiffany segera melepas ciuman itu.

 

“Kenapa kau menangis?”ujarnya pada Taeyeon,”apa aku melukaimu?”lanjutnya karena Taeyeon hanya diam dan menatapnya. Kali ini ia menyentuh wajah pria yang kini tengah memeluk pinggangnya erat. Ia sangat ingin melakukannya.

 

“Ya..kau melukaiku”jawab Taeyeon,”kau sudah pergi terlalu lama ..Tiffany Hwang”lanjutnya seraya menempelkan bibirnya di bibir Tiffany lagi. Kali ini, Tiffany membalas ciuman Taeyeon. Mereka sudah tidak memperdulikan apapun, mereka hanya menikmati lumatan demi lumatan di bibir mereka.

 

Taeyeon menggiring Tiffany ke lantai atas tanpa melepaskan bibir mereka, dan mereka pun masuk ke dalam kamar yang Tiffany gunakan.

 

Tiffany merasakan sesuatu di kepalanya. Sedikit demi sedikit, kenangannya bersama Taeyeon muncul. Walaupun tidak terlalu jelas. Ia juga merasakan hal aneh saat Taeyeon mencium lehernya dan menghisapnya sedikit. Aneh, tapi Tiffany menyukai setiap sentuhan Taeyeon.

 

Bahkan ia mulai mengerang kecil saat Taeyeon memijat payudaranya. Tanpa Tiffany sadari, ia membuka pakaian yang Taeyeon kenakan, begitu juga dengan Taeyeon. Dan kini mereka sudah tidak mengenakan apapun. Tiffany mengerti, dan Tiffany tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan ia merindukan perasaan yang ia rasakan saat ini. Perasaan dimana ia bersama Taeyeon.

 

I love you, Tiffany Hwang..”bisik Taeyeon saat kejantanannya mulai masuk ke dalam vagina Tiffany.

 

I love you too….TaeTae…”

 

Taeyeon tersenyum saat ia mendengar nama panggilan itu dari mulut Tiffany lagi. Ia sangat bahagia, begitu pula dengan Tiffany.

 

—–

 

“Kira-kira Taeyeon dan Tiffany sedang apa ya di dalam sana?”ujar Jessica seraya mendaratan kepalanya di bahu Yuri. Mereka kini tengah duduk di teras rumah. Melihat pemandangan serta teman-teman mereka yang masih bermain tanpa lelah.

 

“Kau ingin tahu?”tanya Yuri jahil Tentu saja Yuri sudah mengetahui apa yang terjadi antara Taeyeon dan Tiffany di dalam sana.

 

“Ada apa dengan tatapanmu itu, Kwon Yul?! Kau ingin mati, huh?!”

 

Jessica mejitak kepala Yuri.

 

“Ahh…sakit, Sica..”Yuri mengusap kepalanya.

 

“B-Benarkah? Aku minta maaf, Yul..aku hanya- YAH! KAU ITU VAMPIRE! JANGAN COBA-COBA MENIPUKU!”ujar Jessica dengan suara khasnya yang membuat telinga Yuri seakan ingin lepas.

 

Setelah dimarahi oleh Jessica, Yuri memutuskan untuk bergabung bersama teman-temannya. Tapi sebelum ia meninggalkan Jessica ia mengatakan,”dasar..nenek sihir”dengan suara kecil, lebih mirip seperti bergumam.

 

Sayangnya, hal itu di dengar oleh Jessica. Dan Jessica mengejar Yuri, hingga membuat Yuri berlari ketakutan. Sedangkan, teman-teman yang lainnya tertawa keras melihat kelakuan Yuri dan Jessica.

 

———

 

Taeyeon mengatur nafasnya sambil memeluk Tiffany.

 

“Tiffany…”

 

“Ya?”Tiffany tak berhenti tersenyum, ia sangat menikmati pelukan Taeyeon.

 

“Sepertinya kau harus mengubahku menjadi vampire…”

 

“K-Kenapa?”wanita itu mengangkat wajahnya untuk menatap wajah Taeyeon.

 

“Karena…”Taeyeon mendekatkan wajahnya pada telinga Tiffany,”jika aku menjadi vampire aku tak akan merasa lelah jika melakukan ini bersamamu terus-menerus..”

 

Suara Taeyeon membuat Tiffany menyunggingkan senyumannya. Tak dapat dipungkiri ia sangat senang.

 

“Dasar mesum!”Tiffany memukul pelan dada bidang Taeyeon. Pria itu hanya mengeluarkan tawa khasnya.

 

Mereka terdiam cukup lama. Taeyeon lah yang membuka suara terlebih dahulu.

 

“Apakah kita bisa terus seperti ini?”

 

“Apa maksudmu, Tae?”

 

“Maksudku…kau abadi. Kau akan hidup selamanya. Bagaimana denganku? Aku akan terus menua dan mati, baby..”Taeyeon menatap ke dalam mata Tiffany sambil mengusap pipi wanita itu,”aku tidak keberatan sama sekali jika kau menggigitku…”

 

“Aku tidak akan mengigitmu…”ujar Tiffany, ia merapatkan dirinya pada Taeyeon.

 

“Bukankah kau sangat menginginkan darahku beberapa waktu lalu, hm?”canda Taeyeon.

 

Tiffany hanya tersenyum kecil.

 

“Aku sudah tahu…Yuri menceritakan semuanya. Ia juga memperingatkanku untuk berhati-hati padamu..”Taeyeon mempererat pelukannya pada Tiffany.

 

“Lalu? Apa yang kau katakan setelah itu?”Tiffany memainkan jari-jari Taeyeon.

 

“Aku sudah katakan…aku tidak keberatan..”Taeyeon mengecup puncak kepala Tiffany.

 

Tiffany menggeleng,”kau tahu apa yang membuatku tidak menginginkan darahmu lagi, Kim Taeyeon?”

 

Taeyeon menatap ke arah Tiffany. Wanita itu meletakan telapak tangannya di dada bagian kiri Taeyeon. Tepat dimana jantung Taeyeon berada.

 

“Kau mendengarnya? Detak jantungmu…”

 

Taeyeon hanya diam, ia terus menatap Tiffany.

 

“Jika aku menggigitmu…kau memang akan berubah menjadi sama sepertiku dan hidup abadi selamanya. Tapi…”Tiffany menatap lekat Taeyeon,”aku tidak akan pernah bisa mendengar detak jantungmu yang seperti ini lagi..detakan yang terjadi hanya ketika kau bersamaku. Aku sangat menyukainya. Aku menyukai saat jantung ini berdetak kencang seakan mengatakan betapa besarnya kau mencintaiku, TaeTae…”

 

Taeyeon tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya tersenyum dan mencium bibir Tiffany.

 

I love you so much…”ujar Tiffany.

 

——

 

“Hwahhh…sudahlah Jessie..apa kau tak lelah? Hanya dengan melihatmu mengejar Yuri aku merasa seperti bisa merasakan lelah..”ujar Sunny.

 

“Benar…pakai ini saja.”ujar Yoona dengan anggukannya. Ia juga menyerahkan tongkat sihir milik Jessica.

 

“Ah benar juga…terima kasih Yoong!”ujar Jessica.

 

Jessica mengucapkan beberapa mantra dan Yuri sudah berada di hadapannya. Pria itu tertarik seperti besi yang ditarik oleh magnet.

 

“Baiklah…teman-teman. Ayo pergi…”ujar Hyoyeon yang mencium akan adanya perang besar.

 

“S-S-S-Sicaa…maafkan akuuu..”ujar Yuri. Ia memejamkan matanya. Saat ini ia sedang berpikir bahwa vampire tak bisa merasakan hal apapun termasuk rasa takut adalah bohong.

 

BRUKK!

 

Jessica melompat ke arah Yuri. Dan segera mencium bibir Pria itu.

 

Seobang…I love youuu”ujar Jessica dengan suara manjanya.

 

Yuri yang awalnya bingung, kini menatap gemas ke arah kekasihnya dan mengusap rambut wanita itu,”I love you too, Sica baby..”

 

TBC

 

HIDUP UPDATE PENDEK! ._.

 

OKAY!

 

STAY AWESONE!

 

-kaz

 

YulSic : Promise? (Time Travel)

25

YulSic : Promise? (Time Travel)

 

*****

 

Author’s POV

 

Seorang gadis kecil yang berusia 11 tahun melipat tangannya sambil menatap kesal pada anak laki-laki seusianya yang sedang menjelaskan sesuatu.

 

“Percayalah, Sica…aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku berjan-“

 

“Stop!”gadis yang dipanggil ‘Sica’ itu memotong ucapan lawan bicaranya,”sudahlah, Yul..jangan ucapkan itu lagi. Setiap kau bilang kau berjanji, pasti kau tidak akan menepatinya. Ingat pada hari ulang tahunku? Kau berjanji akan datang ke acara ulang tahunku, tapi kau malah hanya menitipkan kado untukku pada Taeyeon. Aku tidak ingin kado Yul! Harusnya kau mengerti! Lalu saat orang tua dan adikku pergi karena ada urusan mendadak di Amerika. Kau berjanji kau akan menemaniku. Tapi, kau membiarkan aku sendiri dan ketakutan di rumahku. Kau lebih peduli pada proyek-proyek dan percobaan ilmiahmu!”

 

Yul hanya menunduk dan diam. Ia tak berani membuat pembelaan, karena apa yang dikatakan oleh Sica itu adalah benar. Mereka terdiam cukup lama, sampai akhirnya keluar isakan dari bibir mungil Sica. Dan Yul mulai membuka suaranya.

 

“Jessica Jung…”panggilnya pada gadis di hadapannya itu,”kali ini aku bersungguh-sungguh. Aku berjanji, aku tidak akan pernah mengingkari janjiku..”

 

Bukannya menanggapi Yul, tangisan Jessica pecah dan ia segera berlari meninggalkan Yul.

 

Setelah kejadian itu, Yul berjalan gontai menuju rumahnya. Walaupun baru berumur 11 tahun, ia sangat mandiri. Di rumahnya, ia hanya ditemani seorang pelayan, karena kedua orang tuanya telah meninggal. Ia bersungguh-sungguh dan memutuskan untuk tidak manja pada pelayan yang ditinggalkan orang tuanya.

 

“Selamat datang kembali, Mr.Kwon..”sambut pelayannya yang usianya kira-kira sudah mencapai 50 tahun itu.

 

Yul hanya mengangguk dan berjalan menuju laboratoriumnya. Di dalam sana, terdapat banyak alat-alat yang ia ciptakan sendiri, karena Yul memang anak yang bisa dikatakan genius. Ia memeriksa satu-persatu alat-alat yang telah diciptakannya. Dan akhirnya ia sampai di sebuah mesin yang sangat besar. Itu adalah mesin waktu yang diciptakan olehnya. Yul heran karena mesin waktu ciptaannya ini gagal, karena belum ada satupun percobaannya yang gagal.

 

“Baiklah, machine…kita lihat dimana letak kesalahanmu.”ujarnya.

 

Yul terus memeriksa bagian dalam mesin itu sampai akhirnya ia menemukannya.

 

“Nah, ini dia..aku harus lebih teliti di lain waktu. Bagaimana bisa sekrup ini tidak terpasang dengan benar.”ia berbicara sendiri.

 

Setelah Yul keluar dari mesin itu. Tak berapa lama, mesin itu menyala dengan sendirinya.

 

“Whoa..apa ini?”ujar Yul.

 

Pintu dari mesin itu terbuka, dan keluarlah sosok lelaki yang tampan.

 

“Hwaaaa!”

 

Memang ia tampan, tapi tidak dalam keadaan kusut, menangis dan histeris seperti ini.

 

Pikir Yul.

 

“Hey, paman! Kau ini siapa?”Yul berusaha melepaskan pelukan pria yang masih menangis dan panic itu.

 

Setelah mencerna kata-kata Yul, pria itu melihat ke arahnya.

 

“K-Kau…Kwon Yul?!”ujarnya dan memegang bahu Yul.

 

“I-Iya! Kau ini siapa?”

 

Bukannya menjawab pertanyaan Yul. Pria itu malah tertawa lebar.

 

“Hey, Paman! Aku bertanya padamu!”ujar Yul yang mulai kesal.

 

“Aku adalah…kau. Kwon Yul di masa 20 tahun yang akan datang”

 

Yul masih diam, ia melihat dari kepala hingga ujung kaki pria tinggi di hadapannya.

 

Ini adalah aku? Wow, tampan juga.

 

“Lalu…mau apa kemari?”tanya Yul dengan nada dingin menyembunyikan rasa kagumnya.

 

Yul (cetak miring = Yul dewasa) itu duduk di atas kursi yang biasa Yul gunakan.

 

“Sebenarnya aku ada masalah..”ujar Yul.

 

“Lalu…apa hubungannya denganku?”tanya Yul.

 

Yul menggeleng,”aku sedang ada masalah dengan istriku. Dia pulang ke rumah orang tuanya. Sepertinya ia marah padaku, karena aku melupakan kalau hari ini adalah anniversary kami. Dan aku berjanji membelikannya hadiah.”

Yul menghela nafasnya,”ternyata masih soal janji..”gumamnya.

 

Setelah mereka terdiam cukup lama, Yul menjitak kepala pria di hadapannya.

 

“Hey! Kau ini bodoh atau apa?! Bagaimana bisa kau melupakan hari penting seperti itu!”

 

“Apa kau lupa, huh? Kau adalah aku! Kita ini sama saja!”ujar Yul sambil mengusap kepalanya,”aku sebenarnya tidak lupa! Hanya saja…hadiahnya terkirim ke alamat yang salah!”

 

“Apa maksudmu?”tanya Yul.

 

Yul mengeluarkan kartu dari saku jasnya,”ini…ini adalah delivery card. Di masa yang akan datang semuanya sangat modern. Yang mengantar semua pesanan barang atau surat adalah robot yang bisa menjelajahi waktu. Jadi kau juga bisa mengirim pesan ke masa depan atau masa lalu. Dan di kartu milikku ini, aku salah menulis waktu. Jadi, hadiah yang aku kirimkan untuk istriku, akan dikirim oleh robot ke rumah orang tua istriku…di masa ini, masa mu..”

 

“Apa?! Kalau begitu kita harus cepat! Ayo! Kita cegat robot itu!”

 

Mereka pun segera menuju rumah istri Yul.

 

Tapi, satu hal yang Yul kecil lewatkan. Itu adalah…ia tak bertanya siapakah istrinya.

 

Sesampainya di rumah istrinya, ia terkejut.

 

“I-Ini kan…”

 

“Ah ya, aku belum mengatakannya padamu.”ujar Yul,”istrimu adalah Jessica Jung..”lanjutnya seraya menyetarakan tingginya dengan Yul dan menatap mata bocah itu.

 

Yul masih terdiam. Ia tak bisa percaya bahwa, gadis yang ia sukai akan menjadi pendampingnya di masa depan.

 

Lamunan Yul pecah saat ia mendengar suara alarm di atasnya.

 

“Itu dia robotnya..”ujar Yul.

 

“Lalu…sekarang apa?”tanya Yul.

 

“Bagaimana kalau coba bicara dulu?”

 

Yul mengangguk dan mengikuti Yul mendekati robot itu.

 

“Maaf…”kata Yul sebelum mendekati robot itu. Robot tersebut menoleh kea rah mereka berdua.

 

“Apa paket itu untuk Ms.Jessica Jung?”tanya Yul seraya menunjuk box kecil berwarna pink yang dipegang oleh robot itu,”apa bisa dikembalikan? Karena..tanggal tujuannya salah..”jelasnya.

 

Tidak bisa dikembalikan.”ujar robot itu.

 

“Kalau begitu berikan saja padanya!”ujar Yul kecil.

 

Saat Yul menyentuh robot itu, robot itu malah terbang dan membuat Yul ikut terangkat bersamanya. Yul menggenggam pergelangan kaki Yul. Kini ia juga ikut terangkat.

 

“Seharusnya kau tidak menyentuhnya!”

 

“Mana kutahu! Robot ini berasal dari masamu!”

 

Kain dari celana Yul tiba-tiba sobek, sehingga membuat genggaman tangan Yul terlepas dan pria itu pun terjatuh. Beruntung ia jatuh di sebuah kolam yang berada di taman. Sedangkan Yul kecil, ia masih memegang kuat robot itu, sampai akhirnya ia menabrak sebuah pohon.

 

“Dasar robot bodoh!”ujarnya seraya mengusap kepalanya. Ia memutuskan untuk mencari Yul.

 

—–

 

Yul keluar dari kolam itu dengan nafas tersengal-sengal. Ia merebahkan dirinya di atas rumput yang ada di pinggir kolam itu. Tapi tak lama kemudian ia mendengar isakan seseorang yang ternyata berasal dari gadis kecil yang duduk di atas rumput sambil membenamkan wajahnya di antara lututnya.

 

“Hey, gadis kecil…apa yang terjadi padamu? Kenapa kau menangis?”ia duduk di sebelah gadis itu.

 

Saat gadis itu mengangkat wajahnya, Yul terkejut.

 

Jessica?

 

Pikirnya.

 

“Paman..?”

 

“Y-Ya?”

 

“Kenapa paman basah kuyup?”tanyanya di sela isakannya.

 

Yul bingung harus menjawab apa.

 

“Ini paman..”Jessica mengulurkan sebuah sapu tangan.

 

“I-Iya…terima kasih..”

 

Saat Yul mengelap wajahnya dengan sapu tangan itu, Jessica tertawa kecil, membuat Yul menatapnya bingung.

 

“Maaf, paman…hanya saja wajahmu sangat mirip dengan temanku..”ujarnya diselingi kekehan.

 

Yul tahu, siapa teman yang dimaksud oleh Jessica kecil.

 

“Dia juga yang telah memberikan sapu tangan itu..”ujar gadis kecil itu lagi.

 

Yul menatap sapu tangan itu. Ia tersenyum, ia senang karena Jessica menghargai sapu tangan buatannya sendiri. Sapu tangan itu tampak tidak special, hanya ada tulisan ‘YulSic’ di tengahnya. Dan itu sangat berharga untuk Jessica, karena ia tahu Yul membuatnya dengan hati dan ia rela tangannya penuh dengan luka karena tertusuk jarum. Itu juga adalah, hadiah pertama yang Yul berikan secara langsung pada Jessica.

 

Yul beranjak dari duduknya,”ayo, paman antar kau pulang..”

 

Jessica kecil meraih tangan Yul dan bangkit dari duduknya. Mereka mulai berjalan ke rumah Jessica.

 

Di perjalanan mereka terus berbicara. Mereka bercerita tentang banyak hal. Yul juga telah menceritakan tentang istrinya, yaitu Jessica di masa yang akan datang.

 

“Paman..apa aku boleh bertanya?”

 

“Tentu..ada apa?”Yul mengusap kepala Jessica.

 

“Apa istri paman adalah wanita yang galak?”

 

“Hmm..bagaimana yah, ia sedikit galak. Tapi aku sangat mencintainya. Ia menjadi galak karena aku memang memiliki kesalahan. Bukan hanya asal memarahiku saja..”jelas Yul.

 

“Berarti ia wanita yang baik, paman..”

 

Yul mengangguk sambil tersenyum.

 

Akhirnya mereka sampai di depan rumah Jessica.

 

Sebelum Jessica kecil masuk ke dalam rumahnya, gadis itu berkata,”paman, baikan saja dengan istri paman..paman kan orang baik.”ia tersenyum dan masuk ke dalam rumahnya.

 

Yul tersenyum.

 

Terdengar suara langkah kaki mendekat. Ternyata itu adalah Yul.

 

“Kemana saja sih?”ujarnya seraya mengatur nafasnya yang hampir habis karena berlari.

 

“Astaga! Bagaimana aku bisa lupa dengan robot itu!”ujar Yul.

 

Suara alarm dari robot itu mendekat. Mereka berdua bersembunyi, dan berencana mematikan robot itu. Setelah robot itu sampai di depan pintu keluarga Jung. Yul dengan cepat melompat ke arahnya dan menahannya. Sedangkan Yul membuka bagian belakang robot itu dan menekan tombol off dan reset. Tidak lupa ia mengambil hadiah yang seharusnya ditujukan untuk Jessica Jung di masa depan.

 

Tugas mereka selesai. Kini mereka berdua sedang dalam perjalanan pulang ke rumah Yul.

 

“Aku ingin bertanya. Bolehkah?”ujar Yul.

 

“Ada apa?”

 

“Bagaimana bisa…aku dan- emm..maksudku kau dan…”Yul tampak kebingungan dengan kata-kata yang akan ia lontarkan.

 

“Ah…bagaimana aku dan Jessica menikah?”tebak Yul.

 

Yul mengangguk.

 

“Kau akan mengetahuinya sendiri nanti…”Yul menepuk pundak bocah itu.

 

Mereka sampai di rumah Yul. Bocah itu memeriksa mesin waktunya sebelum ia mengembalikan Yul. Setelah selesai, ia menyuruh Yul masuk ke dalamnya.

 

“Baiklah senang bertemu denganmu…”pria itu tersenyum dan melambaikan tangannya. Yul pun membalasnya.

 

Setelah Yul pergi, ia tersenyum kecil.

 

“Jadi begitu ya…”gumamnya,”mulai sekarang aku akan bersungguh-sungguh menjaga Jessica Jung…”lanjutnya.

 

——

 

Future…

 

Yul mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia menuju rumah kediaman keluarga Jung. Ia sangat buru-buru, bahkan ia tak sempat mengganti pakaiannya yang masih sedikit basah.

 

Sesampainya di depan rumah keluarga Jung. Ia menekan bell rumah itu.

 

Tunggu sebentar…”terdengar suara lembut dari orang yang dicintainya dari dalam sana.

 

Jessie..sebaiknya kau pulang ke rumah Yul..jangan bertengkar lagi..”ujar Mrs.Jung.

 

Kami tidak bertengkar, Mom..”jawab Jessica diiringi tawaan kecil.

 

Yul menunduk saat pintunya terbuka. Ia tak berani memandang kea rah Jessica.

 

“Ternyata kau..”ujar wanita itu.

 

Yul mengangkat wajahnya, dan disambut oleh senyuman Jessica.

 

“Aku ingin mengajakmu jalan-jalan di sekitar sini..bolehkan?”tanyanya seraya mengusap tengkuknya yang tak gatal.

 

Jessica mengangguk semangat,”Mom, aku pergi dengan Yul dulu!”pamitnya.

 

Selama 15 menit mereka berjalan, tak ada satupun yang mulai berbicara. Yul menghentikan langkahnya. Membuat Jessica kebingungan.

 

“Ada apa, Yul?”tanya wanita itu seraya mendekati suaminya.

 

“Sica…”Yul mengeluarkan hadiah yang ternyata adalah cincin dari sakunya,”happy anniversary…happy YulSic’s day, Sica baby..”ujarnya seraya memasangkan cincin itu di jari Jessica.

 

Jessica tak dapat membendung air matanya, ia langsung memeluk Yul.

 

“Apa kali ini aku melupakan janjiku?”tanya Yul, setengah bercanda.

 

“Hmm…hampir?”ujar Jessica.

 

Mereka melanjutkan jalan-jalannya. Yul menggandeng tangan Jessica, dan tangan satunya lagi dimasukan ke dalam saku jasnya. Ia merogoh sesuatu.

 

“Astaga…aku lupa mengembalikan ini..”Yul melihat ke arah sapu tangan milik Jessica kecil.

 

“Itu kan…”Jessica melihat ke arah sapu tangan itu.

 

Mereka membuka sapu tangan itu dan tulisan ‘YulSic’ terpampang di tengah kain itu.

 

Jessica tertawa kecil,”terima kasih telah mengembalikan ini…paman

 

Yul hanya tersenyum malu. Ia tak menyangka Jessica akan mengingat paman baik hati yang ia temui 20 tahun lalu. Dan kini, Jessica sadar bahwa paman baik hati itu adalah suaminya, Kwon Yul.

 

Yul menarik Jessica kepelukannya dan mengecup bibir mungil wanita itu.

 

“I love you, Sica baby..”

 

“Love you too, Kwon seobang..”

 

 

 

END

 

Okeeee…saya kembali dengan FF ini..sebenernya FF We Are Meant To Be udh selesai. Cmn blm siap upload wkwk. FF ini cuman selingan yah, guys. FF selingan akan diupdate setiap minggu! Well, jalan ceritanya not purely mine. FF ini terinspirasi dari…………kalau tahu hebat loh wkwk.

 

OKAY! STAY AWESONE!!

 

-kaz

[3/?] We Are Meant To Be

58

[3/?] We Are Meant To Be

 

*****

 

Tiffany’s POV

 

Aku sangat menginginkan darah manusia bernama Kim Taeyeon itu. Aku hampir saja mendapatkannya kalau Yoong dan Hyoyeon tidak datang. Pikiranku tidak boleh terbaca oleh Yoong. Mereka pasti akan langsung menjauhkanku dari Kim Taeyeon itu.

 

“Tiffany?”

 

Aku langsung membalikan badanku saat mendengar suaranya.

 

“Taeyeon? Ada apa?”

 

Ia sedikit tercengang melihatku, karena aku memakai pakaian tidur yang sedikit tipis. Kata Jessica, dulu pakaian di kamar ini adalah milikku.

 

“M-Maaf, aku seharusnya mengetuk dulu.”

 

Wajahnya berubah merah.

 

“Tidak apa. Ngomong-ngomong, apa yang kau butuhkan?”aku berjalan mendekatinya.

 

Lucu juga wajahnya saat gugup. Tak ada salahya aku bermain-main sedikit. Aku mulai mengalungkan tanganku di lehernya.

 

“T-Tiff, apa yang-“

 

Karena ia lebih tinggi dariku, aku berjinjit untuk mengecup pipinya lalu memeluknya. Membenamkan wajahku di lehernya.

 

Ia wangi sekali.

 

Aku membuka mulutku sedikit dan mengeluarkan taringku. Aku rasa ini kesempatan bagus.

 

Tapi, tiba-tiba aku merasakan tangannya melingkar di pinggangku dan ia menarik wajahku agar menatapnya. Tatapannya sangat serius, apa niatku terbaca olehnya?

 

Kami saling menatap sampai akhirnya ia menempelkan bibirnya di bibirku. Aku tak memberi respon, sampai akhirnya aku tergoda untuk membalas lumatan bibirnya. Entahlah, tapi aku merasa aku harus melakukannya. Maksudku, membalas ciumannya.

 

Saat aku sudah larut dalam permainan bibirnya, ia melepasnya dan menatapku sebentar.

 

I miss you…”ujarnya lirih.

 

Tatapannya menghipnotisku. Tapi, aku tak bisa ingat. Aku sudah dibutakan oleh aroma darahnya yang membangkitkan jiwa vampire-ku. Aku bukan setengah vampire seperti Yuri. Aku juga bukan seperti teman-temanku yang lainnya, yang bisa membedakan musuh atau bukan. Bagiku semua manusia adalah makananku. Tapi, sejak aku merasakan bibirnya tadi…

 

Tidak. Tidak boleh seperti ini. Aku harus mendapatkan Kim Taeyeon. Aku harus merasakan darahnya!

 

“Kau kenapa?”

 

“Hm?”aku tersadar dari pikiranku.

 

“Kau tampak seperti berpikir. Apa yang kau pikirkan?”

 

“Benarkah? Aku tidak memikirkan apapun”ujarku.

 

“Aku ingin bertanya padamu.”ia mulai menatapku dengan serius, lagi.

 

“Tanyakan saja..”ujarku seraya mengelus pipinya.

 

“Apa yang kau rasakan…saat aku menciummu?”

 

Aku terdiam. Aku bahkan tidak tahu apa yang kurasakan. Aku merasa…aneh. Rasa yang tak dapat aku gambarkan sebelumnya.

 

“Aku…entahlah, Taeyeon. Aku tidak-“

 

Ia memotong ucapanku dengan menempelkan bibir kami lagi.

 

“Kau tidak perlu menjawab sekarang. Aku akan menunggu…”ia tersenyum lalu meninggalkanku di kamar ini.

 

Aku benar-benar bingung sekarang. Aku merasakan aku akan kehilangan akalku. Tapi tidak. Di saat yang bersamaan aku merasakan haus darah yang amat sangat, tapi aku tidak boleh meminum darahnya.

 

“Tiffany!”

 

Mendengar suara Sooyoung, aku segera melihat ke jendela.

 

“Turunlah! Yang lain sedang bermain! Kau ikut?”ujarnya.

 

“Baiklah! Sebentar!”ujarku padanya.

 

Aku mengganti bajuku dan menuju ke rumah bagian bawah untuk bergabung bersama yang lain.

 

Mereka berada di halaman belakang. Memanah.

 

Aku terus memperhatikan Taeyeon. Ia cukup pandai dalam memanah.

 

“Kim Taeyeon”panggilku.

 

Ia langsung menoleh tanpa kupanggil dua kali,”ya?”

 

Aku menggulung lengan bajuku,”lawan aku.”

 

Semua menatapku dengan tatapan apa-kau-bercanda.

 

Aku tidak memperdulikan mereka, melainkan langsung mengambil busur dan anak panah.

 

“Jangan menyesal, Tiffany Hwang.”ujar Taeyeon aku hanya menanggapinya dengan tersenyum kecil.

 

—–

 

“Tidak menyangka kau sehebat itu.”

 

“Aku sudah katakana. Jangan menyesal.”ujarnya seraya tertawa kecil.

 

“Apa dulu selalu seperti ini?”

 

Well…dulu kau sama sekali tidak bisa memanah.”ia terkekeh.

 

“Benarkah? Perubahan bagus bukan?”aku bertanya dengan penuh semangat. Ia hanya mengangguk lalu tersenyum. Kami sama-sama memalingkan pandangan kami untuk melihat halaman rumah Taeyeon yang cukup luas. Dan teman-teman yang lainnya sedang tertawa seraya mengejar satu sama lain. Aku tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan.

 

Taeyeon menghela nafasnya,”yeah..”

 

Ia tersenyum, tapi aku melihat kesedihan di balik senyumnya itu. Apa dia tidak menyukai wujudku yang sekarang? Kenapa aku seperti merasa khawatir? Di kepalaku penuh dengan pikiran-pikiran aneh, bagaimana kalau sebenarnya ia tidak bisa menerimaku? Aku benar-benar bingung.

 

“Tiffany..”

 

Aku menoleh ke arahnya. Ia menarikku ke pelukannya.

 

“Apa yang kau rasakan kalau aku melakukan ini padamu?”tanyanya.

 

Aku menelan ludahku. Aroma darahnya benar-benar segar. Tapi, aku tidak bisa bergerak. Aku merasa sangat nyaman di posisi ini.

 

“Nyaman..”gumamku.

 

Ia memelukku semakin erat. Aku menyukainya. Hanya saja, aroma darahnya benar-benar menggugah seleraku. Aku sangat ingin mencicipinya, sedikit saja.

 

“Hey, kalian ini benar-benar..”ujar Yuri saat melewati kami. Taeyeon segera melepas pelukan kami. Aku melihat ke arah teman-temanku. Sepertinya Yul memberitahukan apa yang terjadi. Tampak semuanya tertawa seraya menatapku. Awas kau Kwon Yuri!

 

“Taeyeon-ah, aku mau masuk.”ujarku. seperti yang kuduga, ia mengikutiku ke dalam.

 

Inilah saatnya.

 

Aku memeluk Taeyeon dan menenggelamkan wajahku di lehernya.

 

“Whoa..”ujarnya karena terkejut akibat gerakanku yang tiba-tiba. Aku bersiap untuk menggigitnya.

 

BRAK!

 

Sial. Tubuhku terpental ke dinding rumahnya.

 

“Tch, ternyata Yuri benar..”ujar Taeyeon. Sambil mencengkram erat tongkat sihirnya dan berjalan mendekatiku.

 

Ia mencondongkan tubuhnya ke arahku. Wajah kami sangat dekat saat ia mengangkat daguku.

 

New born..”ujarnya seraya tersenyum.

 

Ia menempelkan ujung tongkatnya ke leherku,”aku rasa kau butuh sedikit pelajaran, Ms.Hwang…”bisiknya, tepat di telingaku.

 

TBC

 

SORRY FOR SHORT UPDATE! HEHE

 

STAY AWOSONE!!!

 

-kaz

[2/?] We Are Meant To Be

51

[2/?] We Are Meant To Be

 

*****

 

Prolog

 

6 July 1999

 

Taeyeon akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumahnya, mencari Tiffany. Wanita itu belum pulang ke rumah bahkan di waktu selarut ini. Taeyeon khawatir karena jam kerja Tiffany sudah sangat lewat.

 

Ia menyusuri daerah sekitar tempat kerja Tiffany dan terus mencari dengan panic.

 

“T-Taeyeon…K-Kim…Taeyeon…”

 

Taeyeon mendengar itu. Itu suara wanitanya, Tiffany Hwang. Tanpa pikir panjang Taeyeon segera mencari sumber suara. Tapi sesampainya di tempat yang dituju, ia melihat pemandangan yang membuatnya lemas. Ia mengeluarkan tongkat sihirnya, bersiap untuk menyerang. Tapi ia tak sanggup berkata apa-apa.

 

Tiffany tergeletak tak berdaya di jalanan dan berlumuran darah. Seseorang, atau Taeyeon menyebutnya ‘sesuatu’ itu mengeluarkan geraman, matanya bersinar. Hanya itu yang Taeyeon lihat sebelum makhluk itu pergi membawa Tiffany dengan kecepatan yang sangat tidak masuk akal.

 

Prolog End

 

Author’s POV

 

Taeyeon dan Yuri duduk termenung di teras rumah Taeyeon. Yuri terus memperhatikan pria di sebelahnya yang kini tengah mencengkram rambutnya. Ia tak henti-hentinya menangis.

 

Yuri akhirnya melakukan apa yang ingin ia lakukan sejak tadi. Akhirnya ia menepukan tangannya di pundak Taeyeon. Sedangkan yang lainnya hanya diam dan melihat. Termasuk Tiffany. Wanita itu diam seakan tak mengerti apa yang terjadi.

 

“Sudah siap mendengarkan cerita sebenarnya?”tanya Yuri.

 

Taeyeon menghela nafasnya, ia mencoba menenangkan dirinya. Ia merasa sangat kacau sekarang. Ia sangat bahagia saat mengetahui wanita yang paling ia cintai masih hidup, tapi ia sangat sedih karena walaupun Tiffany hidup, jiwanya tidak bersamanya.

 

“Baiklah…”ujarnya.

 

Yuri mulai bercerita.

 

Flashback

 

“KYAAAA!”

 

Yuri mendengar teriakan seorang wanita saat ia sedang menikmati malam. Ia langsung bergegas untuk mencari tahu apa yang terjadi. Dan ia melihat semua itu, seorang wanita sedang mencoba melepaskan diri dari beberapa orang yang mabuk. Awalnya Yuri hanya mengawasi dari jauh, sampai salah satu dari orang-orang itu menusukan pisaunya pada Tiffany berkali-kali dan meninggalkan wanita malang itu begitu saja.

 

Yuri mengejar orang-orang itu dan membunuhnya satu persatu. Dan pada saat ia kembali, ia hampir saja kehilangan wanita itu. Yuri menatapnya dengan iba, melihat wanita dihadapannya tergeletak tak berdaya dan terus menyebut nama yang tak terlalu jelas di telinga Yuri. Ia mendekati wanita itu dan membisikan sesuatu padanya. Ia sempat melihat name-tag yang digunakan oleh wanita itu.

 

‘Jadi namanya Tiffany Hwang…’pikir Yuri

 

“Aku harap kau punya kesempatan…Tiffany Hwang”bisiknya.

 

“T-Taeyeon…K-Kim…Taeyeon…”

 

Mata Yuri menyala merah dan ia menggigit Tiffany.

 

“KYAAAA!”Tiffany berteriak, merasakan taring Yuri yang tajam seolah mengoyaknya.

 

Dan saat itulah seorang laki-laki datang, Yuritidak melihat jelas wajahnya, tapi Yuri melihat jelas apa yang dibawanya. Sebuah tongkat sihir. Ia mengangkat Tiffany dan membawanya pergi.

 

Flashback End

 

“Kenapa kau melakukan itu?”tanya Taeyeon dingin.

 

“Karena aku melihat ia punya kesempatan…”jawab Yuri.

 

“Hey,pendek…seharusnya kau senang Tiffany ada di hadapanmu sekarang…”ujar Sooyoung yang sedaritadi memang terlihat muak dengan semua ini.

 

 

Taeyeon beranjak dari tempat ia duduk dan menekankan tongkat sihirnya di leher Sooyoung.

 

“Lebih baik aku juga mati, dibanding melihat Tiffany seperti ini. Tidak punya jiwa, dingin, dan pucat”ujar Taeyeon dengan penekanan disetiap kata-katanya.

 

“Tch…dasar manusia, tidak tahu diuntung. Hey, Kwon Yuri, seharusnya kau tidak usah menyelamatkan Tiffany. Biarkan saja dia mati kehabisan darah saat itu”Sooyoung menyeringai lalu menyingkirkan tongkat sihir Taeyeon. Tapi Taeyeon malah langsung menyerang Sooyoung dengan tembakan yang keluar dari tongkatnya. Sooyoung terpental karena hal itu.

 

Taeyeon menginjak Sooyoung,”jangan pernah kau berkata seperti itu lagi”ujarnya lalu masuk ke dalam rumahnya.

 

Yuri yang melihat itu hanya meremas rambutnya, menandakan ia sangat frustasi. Jessica memeluk Yuri, berusaha menenangkan pria yang baru saja menjadi kekasihnya.

 

Tiffany berdiri dari tempatnya,”aku akan menyusulnya…”ujarnya.

 

Semua hanya melihat ke arah Tiffany.

 

“Apa yang kau lakukan, Soo?”tanya Yoong.

 

“Tidak ada..hanya menguji seberapa cintanya pada Tiffany.”ujar Sooyoung enteng.

 

Taeyeon’s POV

 

“Uhm..Hai..”

 

Aku dikejutkan oleh suara wanita dan mengalihkan pandanganku dari jendela.

 

“Tiffany?”ujarku.

 

Berbeda dengan Tiffany yang aku lihat tadi, dingin. Kali ini ia tampak lebih…manusia. Kini ia sedang meremas-remas jarinya. Dulu ia melakukan itu saat ia gugup. Mungkin tidak banyak yang berubah.

“Dengar, Tae…Yeon? Mungkin kita saling mengenal dulu..tapi aku bukanlah Tiffany Hwang yang dulu kau kenal. Sekarang aku…berbeda.”jelasnya.

 

Aku hanya diam.

 

“Aku tidak yakin apa itu, tapi aku merasakan hal yang berbeda saat kau memelukku. Tapi…aku bukanlah Tiffany Hwang. Tubuhku memang tubuhnya. Tapi aku bukan dia. Aku berbeda…”lanjutnya. Kalau ia manusia, mungkin ia sudah menangis sekarang.

 

Aku menarik nafas dalam lalu menghembuskannya. Aku mulai mendekatinya perlahan. Tanganku kini menyentuh wajah pucat dan dinginnya.

 

“Bagiku kau tetap sama. Matamu, hidungmu, bibirmu..bahkan pipimu ini”aku mencubit pelan pipinya.

 

Ia tersenyum. Senyum yang sangat aku rindukan. Senyum yang membuat matanya seolah menghilang dan membuatnya bertambah manis. Dan tiba-tiba saja ia memelukku. Aku tersenyum kecil, dan perlahan mengelus rambutnya.

 

“As…taga…” “Oh my God…”

 

Dengan cepat kami melepaskan pelukan kami dan melihat siapa yang datang.

 

Itu teman Yuri yang bernama Yoong dan Hyoyeon.

 

“Kau lihat itu, Hyo?”tanya Yoong dengan wajah terperangah.

 

Hyoyeon mengangguk,”Tiffany tersenyum. After all this year.”

 

Aku melihat ke arah Tiffany yang kini sudah memasang kembali wajah dinginnya.

 

Aku berdehem dan menyadarkan mereka berdua’”sebaiknya kalian menetap di sini dulu..”ujarku lalu berjalan melewati mereka yang masih terkejut.

 

Aku bisa mendengar suara Hyoyeon yang berkata,”Hey, Tiffany Hwang! Kenapa kau tidak pernah tersenyum seperti itu pada kami?!”

 

Aku menghampiri Yuri yang kini tengah duduk berdampingan dengan Jessica.

 

“Yuri”

 

“Taeyeon? Ada apa? Hey Soo, cepat minta maaf!”ujarnya.

 

“Tidak perlu. Aku hanya ingin memberitahukan kalau kalian sebaiknya menetap di sini dulu.”

 

“Di sini?! Di rumah kec-emph!”kata-kata Sooyoung terputus saat gadis bertubuh kecil, kalau tidak salah namanya Sunny membekap mulutnya.

 

“Terima kasih, Taeyeon”ujar Sooyoung lagi.

 

Kami semua masuk ke dalam rumahku.

 

“Taeyeon, maafkan aku..tapi sepertinya kami tidak akan muat di sini.”ujar Yoong.

 

“Jangan melihat dengan mata vampire-mu”ujarku.

 

Aku mengeluarkan tongkat sihirku dan mengetukkannya pada dinding rumahku yang terbuat dari batu bata.

 

Tak lama kemudian sebuah tangga muncul.

 

“Ikuti aku…”

 

Mereka semua mengikutiku naik ke atas.

 

Yuri’s POV

 

Kami semua mengikuti Taeyeon. Dan, dikejutkan oleh pemandangan mewah yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

 

“Pilihlah kamar kalian. Aku tahu kalian tidak butuh tidur. Tapi mungkin kalian ingin menggunakannya untuk yang lain, aku tidak tahu.”Taeyeon meninggalkan kami.

 

“Aku mencintai sihir.”ujar Hyoyeon dengan wajah kagum.

 

“Aku juga..”gumam Yoong.

 

Aku segera menyusul Taeyeon. Sedangkan Jessica menunjukan kamar-kamar yang ada.

 

“Taeyeon. Terima kasih..”ujarku.

 

Ia melihat ke arahku,”tidak, Yul.”

 

Ia mendekatiku dan menyentuh pundakku,”terima kasih.”

 

Aku membalas senyumnya dan menganggukan kepalaku.

 

Saat aku hendak naik, aku bertemu Jessica di tangga.

 

“Hai”ujar kami bersamaan.

 

Aku menggaruk tengkukku,”kau ingin tidur?”

 

Ia menganguk.

 

“Baiklah..aku akan menjagamu.”ujarku sebelum mengikutinya.

 

“Yul, kau tidak lelah?”tanyanya.

 

Aku menggeleng dan memeluknya dari belakang,”aku tidak pernah lelah, Sica-baby”

 

“Sica-baby? Hahaha”ia tertawa keras.

 

“Kenapa? Panggilan itu lucu untukmu. Kau tidak suka ya?”

 

Ia menggeleng,”aku sangat menyukainya, hanya saja kita baru beberapa jam resmi menjadi kekasih, Yul. Aku belum memikirkan panggilan untukmu, dan kau sudah menemukannya. Jangan-jangan kau sudah memikirkannya sebelum menyatakan perasaan padaku?”

 

Tepat sekali.

 

“T-Tentu tidak, hehe”jawabku lalu memeluknya lagi.

 

Kami diam dan saling bertatapan. Aku berinisiatif untuk menarik dagunya dengan tujuan mempertemukan bibir kami. Tapi, ia menahannya.

 

“Whoa, kau mau apa?”tanyanya.

 

“Menciummu?”

 

Ia terkekeh,”bukankah vampire seharusnya tidak memiliki hasrat seperti itu?”

 

Aku tersenyum kecil.

 

“Aku tidak bisa tahan denganmu”kataku, lalu langsung mencium bibirnya.

Ia tampak terkejut dengan perlakuanku, tapi kemudian ia membalas ciumanku. Bahkan ia mulai melingkarkan tangannya di leherku. Membuatku mengeratkan pelukan tanganku di pinggangnya.

 

Tak lama setelah itu kami melepaskan bibir kami. Aku melihatnya yang terengah-engah dan wajahnya memerah. Membuatku mencium pipinya.

 

“Lain kali, kau harus ingat kalau aku manusia dan membutuhkan oksigen, Kwon Yuri”ujarnya dan mencubit pelan pipiku.

 

Aku memeluknya dan tersenyum,”I love you…

 

Love you too, vampire boy

 

TBC

 

STAY AWESONE! <3

 

-kaz

[1/?] We Are Meant To Be

52

[1/?] We Are Meant To Be

 

******

 

Author’s POV

 

“Arghh…”seorang pria berlari dengan seluruh tenaga yang tersisa seraya memegangi luka di sekitar perutnya. Ia terus berlari menghindari kejaran beberapa ‘makhluk’ yang ingin melakukan hal buruk terhadapnya.

 

Sesampainya di sebuah gang kecil, ia memutuskan untuk beristirahat sebentar karena makhluk yang mengejarnya sudah tidak terlihat. Tapi kemudian, ia tak sadarkan diri.

 

—–

 

Yul’s POV

 

“Hey! Kau sudah sadar? Taeng! Cepat ambil air hangat…!”

 

Aku membuka mataku perlahan dan pandanganku sedikit kabur, di depanku berdiri seorang wanita yang tampak sedikit panik. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Rupanya ada seorang pria juga. Si pria menyerahkan ember berisi air hangat dan handuk, lalu si wanita mengompresku dengan handuk yang telah dibasahi air hangat tersebut.

 

“Kau merasa lebih baik?”tanya si pria.

 

Aku hanya diam sambil memandangi mereka.

 

“Oh! Maafkan aku. Sebelumnya aku ingin memperkenalkan diri. Namaku, Kim Taeyeon. Dan ini sepupuku…Jessica Jung…”

 

Jessica?

 

Wanita bernama Jessica itu tersenyum sangat manis.

 

“W-Wajahmu memerah! Apa kau belum merasa baikan?”

 

Jessica mendekat ke arahku dengan wajah khawatir. Aku mundur untuk menghindari sentuhannya. Aku merasakan gejolak aneh. Perasaan apa ini? Aneh sekali.

 

BRUK!

 

Masih memandangi mereka, aku merasakan bokongku akan sakit sekali karena aku terjatuh dari kasur. Tapi untungnya, aku tak merasakan apa-apa.

 

Taeyeon terkekeh,”tenanglah, buddy. Kami bukan orang jahat…kami berdua adalah dokter.”

 

“M-Maaf…”ujarku.

 

“Tidak perlu meminta maaf. Karena kami hanya ingin kau beristirahat sampai keadaanmu pulih. Dan…lukamu sudah kami tangani..”ujar Jessica.

 

Aku langsung mengingat luka di sekitar perutku yang sekarang sudah tertutup perban.

 

“Siapa namamu?”tanya Taeyeon.

 

“A-Aku…Yuri…Kwon Yuri..”

 

“Yuri? Hm, nama yang unik. Senang berkenalan denganmu, Yuri”ujarnya lagi.

 

Mungkin aku bisa mamanfaatkan dua orang ini untuk menutupi jejakku. Yeah, mungkin aku bisa.

 

“Istirahatlah, aku akan meninggalkanmu sebentar untuk membeli beberapa persediaan obat…dan Taeyeon akan menjagamu”ujar Jessica lalu pergi.

 

Kini aku merasa sendirian di rumah yang tidak terlalu besar ini, karena Taeyeon sedang mandi.

 

30 menit setelah itu, aku mulai bosan dan memutuskan untuk melihat-lihat isi rumah ini.

 

Tidak ada yang menarik, hanya ada beberapa foto anak laki-laki dan perempuan. Yang perempuan sepertinya Jessica, karena senyumannya aku mengenalinya. Dan, yang laki-laki bisa dipastikan itu Taeyeon.

 

Aku terus menyelusuri foto-foto tersebut. Sepertinya mereka tumbuh bersama.

 

Tapi…hey, tunggu dulu.

 

Aku memandangi foto Taeyeon memeluk seorang wanita dengan erat. Senyum terlukiskan di wajah keduanya. Wanita ini…

 

Dia kan…

 

“Yuri?”

 

Suara Taeyeon mengejutkanku. Ia sudah berdiri di sebelahku.

 

“Oh? M-Maaf, Taeyeon. Aku tak bermaksud…”

 

“Tidak apa-apa, Yuri…aku tahu kau pasti bosan hahaha”ia tertawa seraya menepuk pundakku.

“Hmm, Taeyeon? Wanita ini…”

 

“Dia?”

 

Aku mengangguk saat ia menunjuk ke foto wanita itu.

 

Ia menarik nafas sebelum menjawab.

 

“Dia…adalah wanita yang paling sempurna yang kukenal dalam hidupku. Aku sangat bahagia memilikinya. Tapi, ia diambil dariku…”

 

“Diambil? Maksudmu?”

 

“Ya. Dia dibunuh, oleh-“

 

Kata-kata Taeyeon terputus saat mendengar suara Jessica dari pintu masuk. Ia langsung menghampiri Jessica dan membantunya, karena Jessica membawa banyak barang, Aku juga ikut membantunya.

 

“Terima kasih…”ia tersenyum padaku.

 

Itu terjadi lagi. Aku mematung. Pandanganku terpaku padanya.

 

Saat malam tiba, Taeyeon memasak makan malam untuk kami. Dan di sinilah aku. Di ruang makan, duduk berhadapan dengan Jessica. Tak ada satupun dari kami yang membuka pembicaraan. Tapi, keheningan itu mencair saat Jessica tertawa kecil.

 

“A-Ada yang salah?”

 

“Hmm tidak. Hanya saja, aku merasa kau sangat lucu.”

 

“A-Aku?”

 

“Wajahmu selalu terlihat gugup dan canggung. Dan kau selalu terbata saat berbicara.”ia tersenyum lagi.

 

Kau lah yang membuatku seperti ini, Jessica.

 

“Maaf…”

 

Ia tertawa lagi.

 

“Itu juga salah satunya. Kau selalu meminta maaf. Berhentilah melakukan itu, Yul…”

 

“Yul?”

 

“Well…Yuri terlalu panjang untukku.”ia menopang kepalanya dengan kedua tangannya. Membuatnya terlihat imut.

 

“Baiklah…Sica..”

 

“S-Sica?”

 

“Aku rasa itu cocok untukmu, hehe”

 

Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal.

 

“Uhm…aku suka hehe. Terima kasih.”

 

Sial.

 

Dia tersenyum lagi.

 

“Makanan siap…!”ujar Taeyeon.

 

Wow! Makanan yang dihidangkan tampak lezat.

 

“Darimana kau mendapat semua ini, Taeng? Jangan bilang kau-“

 

“Ssst..diamlah, princess..! Nikmati saja hasil kerjaku. Woops! Aku hampir lupa.”

 

Taeyeon menjentikan jarinya, dan seketika sebuah serbet muncul di pangkuanku dan Jessica.

 

Apa jangan-jangan…

 

“Makanlah, ini aman. Tenang saja, nona Jung. No magic used! Kkk”

“Maaf kalau kami membuatmu terkejut, Yul…”

 

“K-Kalian penyihir?!”ujarku dan segera bangkit dari tempat duduk.

 

“Hey, Yul! Tenang dulu! Kami bisa jelaskan…”ujar Taeyeon.

 

“K-Kalian kaum magissa?!

 

“Kami akan je- tunggu, darimana kau tahu nama kaum kami?”heran Taeyeon.

 

“Karena aku sama seperti kalian…”ujarku.

 

“A-Apa..?” Taeyeon terperangah karena ucapanku.

 

“Tidak untukmu, Taeng! Kau seorang pencuri ulung!”ujar Jessica.

 

“Ssstt…diamlah, Jessie…”bantah Taeyeon

“Jadi…apa kemampuanmu?”tanya Jessica tanpa memperdulikan Taeyeon.

 

Aku tidak berkata apa-apa. Aku memusatkan pada ember berisi air yang terletak di sudut ruangan.

 

Seketika air dari dalam ember itu keluar, melayang di udara, lalu aku menjatuhkannya kembali.

 

“Kau…seorang bender..”ujar Taeyeon.

 

Aku hanya tersenyum.

 

“Apa kau dikejar sesuatu? Maksudku…malam itu..”tanya Jessica

 

“Sebenarnya kaum vrykolakas mengejarku malam itu…”

 

“Bajingan!”teriak Taeyeon. Seketika ia menjadi marah. Jessica berusaha menenangkannya.

 

Vampire-vampire bodoh itu selalu membuat ulah!”ujarnya lagi.

 

“Yul…”panggil Jessica.

 

“Ya?”

 

“Sebenarnya…apa yang membuat kau dikejar oleh mereka?”tanyanya.

 

“Hmm…itu…”

 

Bagaimana ini? Tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya. Ditambah lagi, sepertinya mereka sangat membenci vampire.

 

Flashback

 

Keputusan telah dijatuhkan. Memang susah berhadapan dengan The Great Vlad. Pimpinan kaum vrykolakas. Pimpinan para vampire.

 

“Tidak boleh ada darah campuran. Kaum kita harus bersih.”begitu katanya.

Semua vampire yang berdarah campuran diburu dan dibunuh. Berdarah campuran berarti dengan kata lain ada darah yang mengalir ditubuh kami, walau hanya sedikit. Dan…ibuku adalah seorang penyihir. Aku tidak bisa dikategorikan seorang darah campuran, karena aku tidak memiliki darah mengalir. Tapi, penyihir adalah musuh bebuyutan para vampire. Bisa dikatakan, akulah yang paling diburu. Dan aku juga satu-satunya yang berhasil lolos. Setidaknya untuk saat ini.

 

Flashback End

 

Aku tidak mungkin mengatakan kalau sebenarnya aku adalah vampire.

 

“Yul?”

 

Aku tersadar dari lamunanku saat Jessica memanggilku.

 

“Oh..maaf, Sica. Aku hanya teringat sesuatu…”

 

“Tidak apa-apa. Jadi…mengapa mereka mengejarmu?”tanyanya.

 

“Itu..uhm…yeah, kau tahu sendiri kalau mereka tidak menyukai para penyihir kan hehe.”

 

“Ya, aku tahu…tapi baru kali ini aku mendengar ada yang diburu…”ujarnya.

 

Sebenarnya, para vampire maupun penyihir tidak pernah saling membunuh kecuali dalam keadaan terdesak. Aku hanya tersenyum getir mendengar perkataan Jessica.

 

“S-Sudahlah, lebih baik kita makan hehe. Aku lapar…”aku memecah keheningan yang sempat terjadi.

 

——

 

Pikiranku berantakan. Dan merebahkan diri di sini adalah buang-buang waktu. Karena vampire, tidak butuh tidur.

 

Aku memutuskan untuk keluar sebentar. Tapi, pandanganku tertuju pada wanita yang duduk termenung di depan rumah seraya memandangi bintang yang tidak cukup terang.

 

“Hey…”sapaku.

 

Ia tampak terkejut. Wajahnya lucu sekali.

 

“Oh..Yul…”ia tersenyum. Ia semakin cantik di bawah sinar bulan.

 

“Apa yang dilakukan wanita sepertimu di larut malam seperti ini?”

 

Ia terkekeh,”wanita sepertiku?”

 

“Maksudku…w-wanita cantik sepertimu..”

 

Lagi-lagi aku merasa gugup.

 

Ia tertawa.

 

“Bagaimana denganmu?”ujarnya.

 

“Mungkin sama sepertimu…”

 

“Benarkah?”

 

“Mungkin…”aku tersenyum,”aku rindu pada ibuku…”lanjutku.

 

Ia menghela nafas lalu bersandar di bahuku. Rasanya jika aku punya jantung, jantungku ingin melompat keluar saat bisa sedekat ini dengannya.

 

“Aku juga merindukan ibu dan ayahku…”lirihnya.

 

Entah dorongan darimana, aku mengusap rambutnya.

 

“Yul…Kenapa kau dingin sekali? Apa kau sakit?”

 

menyadari itu, aku langsung menarik tanganku dari kepalanya.

 

“Sebaiknya kau tidur, Sica…”

 

Ia tidak menjawabku. Aku melihat ke arahnya.

 

“Dia sudah tertidur…cepat juga”

 

Aku terus memandanginya. Wajahnya yang sempurna benar-benar membuatku terhipnotis.

Aku bergerak perlahan agar tidak membangunkannya, lalu kugendong dia. Kuletakan ia di atas kasurku dan kututupi tubuhnya dengan selimut.

 

Sebaiknya aku berjaga.

 

Saat aku sedang duduk dan kembali menatap langit, aku merasa ada yang memasuki pikiranku.

 

 

“Yul, kau dimana? Kau bisa mendengarku? Apa kau selamat?”

 

Ini…Yoong?

 

Aku mengatakan bahwa aku baik-baik saja, dan ia bilang ia akan melacakku dan menyelamatkanku bersama yang lain. Kemampuan yang dimiliki Yoong sangat special, ia bisa melacak keberadaan seseorang dan melakukan telephaty.

 

—–
Sudah hampir 1 bulan aku menetap di kediaman Jessica dan Taeyeon. Hubunganku dengan Jessica semakin dekat. Dan malam itu, adalah hari dimana mereka harus tahu siapa aku.

 

Kami sedang menikmati makan malam, kini tak ada rasa canggung lagi di meja makan.

 

“Yul!”

 

Aku mendengar suara Yoong. Aku mengira itu hanya telephaty, dan Taeyeon berkata.

 

“Yul? Kau dengar? Ada yang memanggilmu…”

 

Itu benar Yoong.

 

Aku segera meninggalkan meja makan dan berlari keluar, begitu juga dengan Taeyeon.

 

“Kaum vrykolakas?! Mau apa mereka?!”emosi Taeyeon tak terkendali, sekarang ia memegang tongkat sihirnya dan bersiap menyerang teman-temanku.

 

“Taeyeon! Berhenti!”ujarku.

 

Taeyeon menatapku tajam,”kenapa, Yul?! Bukankah kau seharusnya senang?! Aku akan menyelamatkanmu!”

 

Ia bersiap untuk mengayunkan tongkat sihirnya.

 

“KIM TAEYEON! JANGAN SAKITI TEMAN-TEMANKU!”bentakku.

 

Suasana menjadi hening. Jessica menutup mulut dengan kedua tangannya, ia tampak terkejut. Sedangkan Taeyeon, kini tongkat sihirnya mengarah padaku. Aku dapat merasakan ujungnya, ia menekan tongkatnya di kepalaku.

 

“Maafkan aku, Taeng…aku hanya-“

 

“Kau brengsek!!!”ia menjatuhkan tongkat sihirnya dan memukuli wajahku.

 

Percuma. Aku tak merasa sakit. Tapi, aku biarkan ia melakukannya.

 

“Aku percaya padamu , Yul! Aku menganggapmu saudaraku! Tapi kenapa kau- AARRGH!”

 

Secara tiba-tiba Taeyeon menghentikan pukulannya dan tersungkur. Ia menggeliat, sepertinya ia merasakan sakit yang amat sangat. Dan aku rasa, aku tahu ulah siapa ini.

 

“Taeng!”Jessica dan aku menghampiri Taeyeon.

 

“Yoong! Lakukan sesuatu!”ujarku.

 

Yoong mengangguk,”Tiffany! Hentikan! Aku sudah bilang jangan ada kekerasan!”

 

Wanita berwajah paling dingin dan pucat itu muncul dari balik tubuh temanku, Sooyoung. Ia melihat tajam ke arah Taeyeon.

 

“T-Tiffany…?!”ujar Taeyeon dengan susah payah. Sedangkan Jessica, sepertinya ia sudah kehabisan kata-kata.

 

“Tiff, aku mohon hentikan sekarang! Apa kau tidak mengingatnya?!”ujarku.

 

Tatapan Tiffany melemah.

 

Dan Taeyeon sudah sedikit tenang,”uhuk!” ia terbatuk dan memegangi lehernya. Nafasnya tersengal-sengal.

 

Begitulah. Diantara kami, kemampuan Tiffany lah yang paling berbahaya. Ia dapat menyakiti orang hanya dengan pikirannya.

 

Taeyeon terus memandangi Tiffany.

 

Yeah…Tiffany-lah wanita yang dipeluk Taeyeon di foto yang kulihat itu. Aku tahu. Ia berbeda. Ia pucat, dan dingin. Ia bukanlah Tiffany yang Taeyeon cintai dulu. Tapi aku yakin, mereka pasti bersama. Entahlah, mungkin aku harus bertanya pada Hyoyeon yang dapat membaca masa depan.

 

Taeyeon bangkit dan berlari untuk memeluk Tiffany. Tapi ia dihadang oleh Sooyoung dan Hyoyeon. Aku merasa sakit, melihat sahabatku menangis. Ya, Taeyeon menangis seraya menyebut nama Tiffany.

 

Aku melihat kea rah Yoong dan disambut anggukan olehnya.

 

“Lepaskan dia…”

 

Sooyoung dan Hyo saling bertatapan dan melepaskan Taeyeon. Pria itu langsung menghambur ke arah Tiffany, dan memeluknya. Erat.

 

Tidak ada respon yang diberikan Tiffany. Ia hanya memasang wajah dinginnya. Tapi, tak ada perlawanan untuk melepas pelukan Taeyeon.

 

Aku yakin Tiffany bisa mengingat Taeyeon. Hanya butuh proses

 

“Yul…”

 

Aku menoleh ke belakang.

 

“S-Sica…”aku berjalan ke arahnya, tapi ia menjauh.

 

“Benarkah itu? Kau seorang vampire? T-Tapi aku melihatmu! Kau seorang bender!”

 

“A-Aku…Aku seorang darah campuran…maafkan aku. Seharusnya aku mengatakan itu dari awal…”

 

Jessica terus menghindari sentuhanku. Itu membuatku sakit.

 

“Maafkan aku…”

 

Ia hanya diam.

 

“Sica…aku mohon..”

 

Air matanya mulai mengalir.

 

I love you…”ujarku lirih.

 

Tak ada respon yang kudapatkan dari Jessica. Aku menunduk dan berbalik. Aku rasa ini pantas. Aku telah berbohong.

 

BRUK…!

 

Aku merasa sesuatu menabrak punggungku, dan sepasang tangan melingkar di pinggangku.

 

“Bodoh…”ujarnya.

 

Aku tersenyum kecil dan berbalik. Membalas pelukan Jessica.

 

“Jangan menangis…”ujarku. Aku menghapus air matanya.

 

I love you too, Yul…”

 

Aku terus memeluknya dan megecup puncak kepalanya.

 

TBC

 

STAY AWESONE! <3

 

-kaz

[ONESHOOT] Friend With Benefit

29

[ONESHOOT] FRIEND WITH BENEFIT

 

GENDER-BENDER

 

*****

 

“Aahhh..Y-Yul..!”

 

Aku meneriakan namanya saat aku mencapai puncak kenikmatanku.

Ia masih berada di atasku sambil mengatur nafasnya, begitu pula aku. Kami saling menatap satu sama lain, sampai ia tersenyum kecil dan mendaratkan bibirnya di keningku.

 

“Istirahatlah, Tae…kau pasti lelah. Terima kasih ya”ujarnya seraya mengecup bibirku dan membalut tubuhku dengan selimut miliknya.

 

Aku hanya tersenyum kecil menanggapinya.

 

Ah iya. Namaku Kim Taeyeon. Dan pria itu bernama Kwon Yul. Sahabatku, sex partner-ku, dan…orang yang aku cintai.

 

Kami sudah melakukannya selama 3 tahun terakhir ini. Awalnya tak disengaja, tapi lama-kelamaan kami merasakan kenikmatan yang sama.

 

Tak lama kemudian, aku melihatnya sudah berpakaian rapi.

 

“Kau mau kemana?”tanyaku.

 

“Aku ada kencan dengan Jessica. Bye, pendek!”ujarnya dan mengacak-acak rambutku.

 

“YA! Aku tidak pendek!!!”teriakku. Tapi, ia hanya tertawa dan melangkan keluar dari apartmentnya.

 

Yul sudah pergi. Bersama kekasihnya.

 

Kini tinggal aku sendiri. Aku memutuskan untuk membersihkan diri. Aku terus berpikir, apa yang kulakukan ini benar?

 

Aku membasuh tubuhku. Menyentuh “tanda” yang dibuat oleh Yul di leher dan di sekitar dadaku. Selama Yul bahagia, aku juga ikut bahagia. Aku…tidak keberatan.

 

Setelah itu aku memutuskan untuk membuat secangkir kopi. Aku duduk termenung di dapur sambil memandangi jam yang terletak di dinding. Waktu terasa sangat cepat, sekarang sudah menunjukan pukul 9 malam dan Yul belum juga pulang.

 

“Huft…”aku meletakan daguku di atas meja. Yang bisa kulakukan hanya menunggunya. Aku tidak bisa menyuruhnya pulang atau apapun yang bisa membuatnya berada di sini bersamaku. Karena aku hanya sahabatnya. Friend…with benefit. Kenyataan yang sangat menyakitkan.

 

 

Aku mendengar pintu terbuka. Itu pasti Yul.

 

Belum sempat aku menghampirinya. Ia sudah memelukku dari belakang. Nafas hangatnya terasa sangat nyaman di leherku.

 

“Kau menungguku, pendek? Kau wangi sekali…”ujarnya.

 

“Tentu saja aku wangi, tidak seperti kau..”balasku seraya menikmati ciumannya di leherku.

 

“Hmm…kalau begitu mandikan aku..”bisiknya.

Suaranya yang berat, terdengar sangat sexy.

 

“Tidak mau, pemalas!”

 

Aku mencubit pinggangnya.

 

“Awww aww..sakit, Kim Taeyeon..!”

 

Aku terkekeh dan melepaskan cubitanku.

 

“Kau ini…”ia mengacak rambutku,”baiklah aku akan mandi..”

 

Chu~

 

Ia mengecup bibirku lalu melangkah menuju kamar mandi.

 

Aku merebahkan badanku di atas kasur milik Yul. Tidak ada yang kulakukan, hanya merebahkan tubuh dan menatap langit-langit kamar ini.

 

“Hey…”

 

Aku menoleh ke arah kamar mandi. Yul berdiri di depan pintu hanya dengan celana pendek dan handuk yang bergantung di lehernya.

 

“Apa?”tanyaku.

 

“Tidak apa-apa..kamu tampak tidak baik. Ada masalah?”ia ikut merebahkan tubuhnya bersamaku.

 

“Tidak ada. Pakai bajumu cepat!”aku memukul dadanya dengan telapak tanganku.

 

“Aish! Kau ini, ringan tangan sekali…”ia mengerucutkan bibirnya.

 

Aku tersenyum karena ekspresinya sangat lucu menurutku.

 

Aku merubah posisiku. Kini aku berada di atasnya dan kukecup bibirnya.

 

Untuk sekilas, kami tampak seperti orang yang saling mencintai. Tapi, kenyataan lebih menyakitkan.

 

Yul membelai rambutku.

 

“Kenapa kau begitu lucu huh, Kim Taeyeon?”tangannya berpindah ke pipiku dan mencubitnya pelan. Aku hanya tersenyum dan terus menatapnya.

 

“Kau mengantuk?”

 

Aku menggeleng,”kenapa?”tanyaku.

 

Ia menatapku dengan lembut dan memelukku dengan erat,”kau tampak lelah..”

 

“Aku tahu..”

 

“Apa ini karena…kau tahu..”

 

“Bukan…”

 

“Maafkan aku, Taeng…”

 

Taeng…

 

Sudah lama sekali ia tak memanggilku seperti itu. Itu panggilan yang ia gunakan saat kami masih kecil.

 

“Hey, kenapa diam saja?”ujarnya.

“Sebaiknya kita tidur…”aku turun dari tubuhnya.

 

Saat aku hendak berjalan keluar untuk kembali ke kamarku. Yul menahanku.

 

“Tidurlah di sini..”

 

“Tapi…”

 

“Hey..ayolah..”ia menarik tanganku dengan lembut.

 

“Yul..aku sedang tidak bersemangat..”

 

“Siapa yang bilang aku sedang ingin melakukan sex denganmu?”

 

Aku terdiam dengan pertanyaannya.

 

“Apakah sekarang aku bukan sahabatmu lagi? Apakah aku sekarag hanya sex partner untukmu?”

 

Aku menggeleng dengan cepat.

 

“Tidurlah…”

 

Ia memelukku dengan erat.

 

“Aku menyayangimu, Tae…”ujarnya sebelum mengecup puncak kepalaku.

 

Aku juga menyayangimu, Yul..

 

Lebih dari sekedar sahabat..

 

Besoknya…

 

Saat aku bangun, aku tak menemukan sosok Yul di sebelahku. Hanya sebuah memo yang tergeletak di dekat kaca.

 

Selamat pagi, Taeng…

Aku pergi bekerja dan akan pulang terlambat karena pergi bersama Jessica..

Istirahatlah…Jangan menungguku..

 

Love,

Kwon Yul

 

Begitulah isinya.

 

Aku menghela nafasku setelah membacanya.

 

Bagaimana bisa?

 

Bagaimana bisa aku tidak menunggumu, Yul?

 

Aku selalu menunggumu…

 

—–

 

Seperti yang sudah kukatakan, aku menunggu Yul.

 

Walaupun aku sudah mencoba untuk tidur, tapi perasaanku tidak bisa tenang. Pikiranku berkecamuk saat aku memikirkan apa yang Yul dan Jessica lakukan sekarang. Apakah Yul akhirnuya melakukan itu dengan Jessica? Lalu ia tidak akan membutuhkanku lagi dan benar-benar hanya menganggapku sahabatnya dan perlahan ia melupakanku.

 

Aku mendengar suara pintu terbuka. Akhirnya, dia pulang.

 

“Yul, ak-“

Aku terkejut saat tiba-tiba Yul mencium bibirku. Cukup lama, lalu ia melepasnya dan menatapku.

 

“Ada apa?”tanyaku.

 

Ia membalasku dengan tersenyum getir.

 

“Aku…aku putus dengan Jessica..”

 

DEG

 

Aku tidak tahu, apakah aku harus senang atau sedih mendengarnya.

 

Sebagai sahabat, aku akan sangat sedih. Apalagi Yul sangat mencintai Jessica. Tapi diriku yang lain, sangat amat senang. Aku benar-benar jahat.

 

“K-Kenapa?”tanyaku.

 

“Aku….sadar aku mencintai orang lain.”

 

Rasanya aku lemas. Yul mencintai orang lain. Hatiku terasa lebih sakit daripada biasanya.

 

“Untungnya, Jessica menerima itu semua…”jelasnya sambil menunduk.

 

“Lalu…siapa..wanita itu?”

 

Ia melihat ke arahku lalu tersenyum jahil.

 

“Kau benar-benar ingin tahu ya?”bisiknya, tepat di telingaku.

 

Aku mengangguk.

 

“Seorang wanita yang cukup menyebalkan..kurasa. Terkadang ia bisa lebih cerewet daripada ibuku sendiri. Aku tahu dia mencintaiku juga..”jelasnya,”benarkan, Kim Taeyeon?”lanjutnya.

 

“A-Aku…”

 

“Busted…”ia terkekeh lalu memelukku.

 

“Aku sadar pada malam itu, Taeng…aku juga mencintaimu.”ia menangkup wajahku dengan kedua tangannya.

 

Aku tersenyum. Aku melepaskan tangannya dari wajahku.

 

“Siapa bilang…aku masih mencintaimu, Kwon?”tanyaku dengan jahil.

 

Ia hanya tersenyum.

 

Tanpa berkata apa-apa ia mengangkatku dan mengapitku di dinding lalu mendaratkan bibirnya di atas bibirku. Dan tentu saja aku membalasnya.

 

“Masih ingin berkata kalau kau sudah tidak mencintaiku?”tanyanya setelah melepas ciuman kami.

 

“Aku kan tidak bilang begitu. Hahh, kau ini dari dulu tetap saja bodoh..”

 

“Lebih baik bodoh daripada berhenti bertumbuh, dasar kau pendek!”ia menoyor kepalaku lalu tertawa dengan keras.

 

“Hey! Kwon Yul jangan lari!”

 

Begitulah..

 

Tidak ada lagi yang namanya Friend with Benefit…

 

Dan satu lagi pesanku,

 

Kau harus yakin saat kau benar-benar mencintai seseorang meskipun ia mungkin tak merasakan hal yang sama terhadapmu. Tapi yakinlah…it can be your true love.

 

END

 

Akhirnya jadi juga YULTAE/TAERI gw! wkwkwk

 

STAY AWESOME, SONEs!

 

-kaz

[DRABLE/SEQUEL] I LIKE YOU

22

[DRABLE/SEQUEL] I LIKE YOU

 

*****

 

 

Jessica’s POV

 

“Good night, Kwon Yul..”ujarku lalu masuk ke dalam kamar.

 

Aku bersandar pada pintu kamarku, dan meletakan tangan di atas dada kiriku. Merasakan detak jantungku yang sangat cepat. Aku menghela nafas. Selalu saja seperti ini setiap aku sedang bersama Yul.

 

Ya, aku memang menyukainya sejak awal aku bertemu dengannya.

 

Drrt..

 

Handphone-ku bergetar lagi.

 

Gara-gara adikku, Krystal. Ia terus-menerus mengirimiku pesan. Yul tampak terganggu, jadi aku memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.

 

Aku tak menghiraukan handphone-ku yang terus bergetar dan segera mematikannya. Lebih baik aku tidur sekarang.

 

Aku memang mengantuk, tapi entah kenapa yang kulakukan di atas kasur hanya mengubah posisiku. Aku benar-benar tidak bisa tidur.

 

Tak lama setelah itu, pintu terbuka.

 

Itu pasti Yul.

 

Dengan cepat aku menutup mataku. Berpura-pura tidur.

 

Yuri menaiki kasur dengan perlahan. Mungkin ia takut membangunkanku. Mungkin hanya perasaanku. Tapi, aku mearasakan dia sedang melihatku sekarang.

 

“Dia sudah tidur? Wah, cepat sekali..”gumamnya.

 

Ah, aku mengira ia sedang mengagumi kecantikanku.

 

Berpikir apa kau ini, Jung?

 

Sekitar 30 menit berlalu, nafas Yuri menjadi teratur. Sepertinya ia sudah tertidur pulas.

 

Aku membalik badan perlahan, dan aku sangat terkejut karena Yul tidur dengan mengarah padaku. Aku dapat melihat wajahnya dengan jelas sekarang.

 

Dia sangat…

 

 

Aku terus menatap wajahnya sampai aku tertidur.

 

——

 

Hari ini, aku bangun lebih pagi dari biasanya. Dan, yang lebih mengejutkan adalah aku dan Yuri tidur sambil berhadapan satu sama lain.

 

Berhubung aku bangun lebih pagi, aku memutuskan untuk mandi lebih awal juga.

 

Saat aku tengah menikmati air hangat.

 

Pintu kamar mandi terbuka.

 

Itu adalah Yuri.

 

Kami sama-sama terdiam. Ia terus memandangiku, sama terkejutnya denganku.

 

“Oh?! I-I’m so sorry, SIca…”ujarnnya saat tersadar dari lamunannya dan segera menutup pintu.

 

Wajahku merah padam sekarang, aku yakin. Yuri baru saja melihatku…naked?

 

Semenjak kejadian pagi itu, aku maupun Yuri, tak ada yang memulai pembicaraan diantara kami. Sampai akhirnya Yuri berbcara duluan.

 

“Soal tadi pagi…Sica, maafkan aku. Aku tak bermaksud untuk-“

 

“Tidak apa-apa, Yul…”aku memotong ucapannya.

 

“B-Benar tidak apa-apa?”ia tampak terkejut. Aku mengangguk.

 

Drrt…

 

Ah, Krystal.

 

Benar-benar mengganggu momenku dengan Yuri.

 

Hello? Aku di sekolah. Baiklah. I love you…”

 

Aku kembali memasukan handphone-ku ke dalam saku.

 

“Pacarmu?”

 

“Huh? Bukan..itu adikku.”

 

Ia mengangguk.

 

“Aku belum memiliki pacar…”ujarku.

 

 

Kenapa aku mengatakan hal yang tidak penting? Memangnya dia tertarik padamu, Jung?

 

“A-apa? Oh haha”

 

Benar kan?

 

Ia tampak kebingungan dengan ucapanku.

 

“Kalau begitu…”

 

Aku langsung menoleh padanya.

 

“Aku punya kesempatan?”ia membalas tatapanku.

 

“M-Maksudmu?”

 

“Aku mencintaimu, Sica…Aku sudah merasakannya di awal kita bertemu..”

 

Aku terdiam.

 

Senang? Lebih dari itu!

 

Ini sangat luar biasa.

 

“Sica? Hello?”

 

Yuri melambaikan tangannya di depan wajahku, membuatku tersadar.

 

Oh God…

 

Jangan bilang itu hanya khayalanku saja.

 

“Kau mendengarku?”

 

“M-Maaf, Yul..bisa kau ulangi?”

 

Ia tersenyum.

 

“Aku bilang…”

 

Aku menelan ludahku saat ia mendekatkan wajahnya.

 

Apa ia akan menciumku?

 

Aku menutup mataku dan merasakan hembusan nafas hangat Yul.

 

“Aku mencintaimu..”bisiknya.

 

Aku membuka mataku. Dan mendapatinya tersenyum padaku.

 

“Bagaimana?”

 

“A-Aku…juga…mencintaimu..”

 

 

Kenapa aku jadi gugup begini?

 

“Benarkah?”

 

Ia terlihat sangat senang. Aku memeluknya dan ia membalasnya.

 

Di tengah pelukan kami, ia berkata…

 

“Would you be mine, Sica baby?”

 

“Yes I would, Kwon seobang..”

 

Lalu ia memlukku semakin erat dan berbisik,”by the way…I’d like to see you naked…again..”

 

Wajahku terasa panas.

 

Ia terkekeh,”kau lucu sekali, Sica baby! I love you!”

 

I love you too, Seobang..”

 

END

 

STAY AWESOME, SONEs!

 

-Kaz