YulSic : Miracle

39

YulSic : Miracle

 

GENDER-BENDER

 

****

 

Author’s POV

 

BRAK!

 

“Kau tidak pantas berada di sini.”ujar pria bertubuh tinggi bernama Tyler setelah melempar seorang pria yang lebih kecil darinya keluar dari sebuah café.

 

“K-Kenapa?”tanya pria kecil itu.

 

Di balik kacamata tebalnya, terlukis tatapan yang penuh dengan ketakutan.

 

Tyler menarik kerah pria itu.

 

“Dengar, Kwon Yul…seharusnya kau sadar dengan kondisimu. Kau itu…”Tyler tersenyum licik dan menghela nafasnya sebelum melanjutkan kata-katanya,”tidak normal. Bagaimana mungkin ada seorang laki-laki berusia 20 tahun dengan otak anak berusia 10 tahun? Kau itu cacat!”

 

Kata-kata Tyler sangat menusuk di hati pria bernama Yul itu. Ia akhirnya hanya berlari dan menangis meninggalkan Tyler yang tersenyum puas.

 

“Tyler..”

 

Tyler membalikan badannya,”Oh? Hi Jessie..”

 

“Aku melihat Yul saat aku keluar dari toilet..kemana dia?”

 

“Huh? Yul? Tidak ada..”bohong Tyler.

 

Jessica hanya mengangguk.

 

—–

 

Yul terus menangis di taman, tangannya memegang sebuah kayu dan ia terus menggambar sesuatu di tanah taman tersebut. Ia melempar kayu yang ia pegang ke arah semak-semak.

 

“Aduh!”

 

Yul terkejut, ia tidak menyangka di dalam semak-semak itu ada seseorang. Awalnya, ia ingin kabur. Tapi ia teringat perkataan ibunya agar menjadi orang yang bertanggung jawab.

Perlahan ia mendekati semak-semak itu.

 

“Siapa yang melempar ini?! Dasar bodoh!”

 

Seseorang tiba-tiba menampakan wujudnya dari semak-semak itu. Setelah marah, matanya bertemu dengan Yul. Mereka saling bertatap selama beberapa detik.

 

“HYAAAAA!”keduanya berteriak.

 

“Manusia?!”

 

“Alien?!”

 

Ujar mereka bersamaan.

 

Sekitar 10 menit mereka menenangkan diri, keduanya memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyian.

“Kau ini apa?”tanya Yul terlebih dahulu.

 

“Aku? Aku seekor anjing. Kau buta ya?”jawab makhluk itu dengan angkuh.

 

“Tapi…kau bisa bicara!”ujar Yul.

 

“Ceritanya panjang…Ngomong-ngomong, siapa namamu?”tanya anjing itu.

 

“A-Aku Kwon Yul. Dan kau…?”

 

“Aku Hani..Instingku sebagai seekor anjing berkata, kalau kau adalah manusia yang baik..”ujarnya sambil mengusap dagunya, layaknya manusia.

 

Yul terus memperhatikan Hani, menurut Yul anjing ini lucu. Tapi juga aneh…dan sombong.

 

“Hey, kenapa melihatku seperti itu!?”tukas Hani.

 

“Tidak apa-apa..kau lapar tidak?”tanya Yul.

 

“Sangat…”gumam Hani.

 

Yul berpikir sebentar lalu berkata,”ikutlah ke rumahku. Aku yakin di rumah ibuku sedang memasak sekarang. Tapi…bersikaplah seperti anjing pada umumnya.”

 

Mendengar itu, Hani yang tadinya berdiri dengan dua kaki, kini sudah berjalan dengan 4 kaki sambil menjulurkan lidahnya dan menggerakan ekornya.

 

“Aku terlihat bodoh, kan?”bisiknya pada Yul.

 

Yul hanya tersenyum.

 

——

 

“Ibu, aku pulang..”ujar Yul saat sampai di rumahnya.

 

“Oh? Masuklah dan makan- Yul? Anjing siapa itu?”

 

“Oh? Ini…aku tidak sengaja melukainya jadi aku bawa pulang..kita pelihara ya, Bu?”

 

Ibunya mengelus bulu Hani,”tentu, kenapa tidak? Hadiah untuk anak ibu yang bertanggung jawab..”

 

Mrs.Kwon tersenyum,”nah..sekarang kalian masuk dan makanlah..ibu akan menyusul..”

 

Yul dan Hani langsung berlari ke arah dapur.

 

“Ibumu pintar memasak..”bisik Hani.

 

“Tentu saja.”balas Yul.

 

Mereka menghela nafas saat selesai makan. Yul segera masuk ke kamarnya dan tentu saja membawa Hani. Sesampainya di kamar yang penuh dengan figure Mickey Mouse itu, ia meletakan Hani di kursi kecil miliknya.

 

“Nah sekarang…ceritakan padaku. Kau ini apa?”

 

“Aku seekor anjing..kan sudah kukatakan”ujar Hani seraya bermain dengan kukunya.

 

“Tapi kau bisa bicara..”

 

“Kau ini seperti anak kecil saja! Banyak bertanya!”bentak Hani. Tanpa sepengetahuan anjing itu, kata-katanya menusuk hati Yul.

 

Yul menundukan kepalanya,”Maaf…”

 

Pria itu langsung menidurkan tubuhnya dan membalutnya dengan selimut. Sedangkan Hani terdiam.

 

“Apa aku salah bicara?”pikirnya.

 

——

 

Hani terbangun dari tidurnya saat mendengar keributan di lantai bawah. Ia melihat ke arah tempat tidur Yul, dan ia tak menemukan pria itu di sana. Perlahan Hani membuka pintu kamar Yul , ia bersembunyi di balik vas bunga berukuran besar saat melihat Yul sedang berbicara pada ibunya. Lebih tepatnya berteriak.

 

“Kenapa aku dilahirkan seperti ini, Bu?! Tyler bilang aku cacat! Aku tidak normal dan bodoh! Tidak ada yang menyayangiku!”

 

“Kwon Yul! Ibu menyayangimu! Ayahmu juga! Kami semua sayang padamu!”

 

“Ayah sudah tidak ada, Bu!”ujar Yul dan berlari ke kamarnya.

 

Mrs.Kwon terduduk lemas di lantai dan menangis.

 

“Ya Tuhan..buatlah Yul menjadi lebih baik..aku mohon..”

 

Hani yang mendengar semua itu tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia sudah menduga ada yang tidak benar dari pria bernama Yul itu. Hani melangkahkan kakinya menuju kamar Yul. Saat itu, ia menemukan Yul duduk di tepi kasurnya sambil menangis. Hani duduk di hadapannya. Air mata membasahi kacamata Yul.

 

“Kau mendengar semuanya kan?”tanya pria itu.

 

“Maafkan aku…”

 

“Tidak perlu minta maaf..aku akan kembali tidur sekarang. Kau juga tidurlah..”

 

Hani terus memperhatikan punggung Yul yang sudah tertidur pulas. Ia melompat ke atas kasur Yul. Kini ia sudah berada tepat di depan wajah Yul.

 

“Semoga yang kulakukan ini benar…”ia menarik nafasnya dan meletakan tangannya di dahi Yul. Dan tangannya mengeluarkan cahaya yang sangat terang.

Setelah selesai, Hani menghela nafasnya dan tersenyum.

 

“Mulai sekarang duniamu akan berbeda, Kwon Yul…”bisiknya.

 

——

 

Yul membuka matanya, ia mengerjapkannya beberapa kali karena merasa pusing.

 

“Kepalaku sakit…”gumamnya.

 

Tangan Yul menggapai kacamatanya yang terletak di atas meja sebelah tempat tidurnya. Setelah memakai kaca matanya, ia berjalan keluar kamarnya dan menemui ibunya.

 

“Ibu..aku minta maaf yang semalam..”

 

Ibunya melihat ke arahnya,”tidak apa-apa, Yul..ibu mengerti.”ujar wanita itu dengan lembut.

 

Yul duduk di kursi, dan bersiap untuk makan. Tapi, ia akhirnya menyadari sebuah keanehan. Yul melepaskan kacamatanya, dan memakainya lagi secara berulang.

 

“Ibu..”

 

“Ya?”

 

“Aku bisa melihat…”ujarnya sambil terus memandangi kaca matanya.

 

“Tentu saja kau bisa melihat, Yul…”Mrs.Kwon mengelus kepala Yul.

 

“Tidak, Bu…aku bisa melihat tanpa kacamata…”

 

“Hm? Benarkah?”Mrs.Kwon mengerutkan alisnya.

 

“Baiklah, aku senang! Aku pergi dulu, Bu! Aku akan bermain bersama yang lain”ujar Yul seraya tertawa.

 

Saat Yul berdiri, Mrs.Kwon terkejut.

 

“Y-Yul!”panggilnya.

 

Tapi anak itu sudah pergi.

 

“Sejak kapan ia menjadi setinggi itu?”heran wanita paruh baya itu,”hmm..mungkin karena bermain terus”lanjutnya setengah bergumam.

 

Hani sudah memperhatikan Yul sejak tadi, ia bersembunyi di balik vas besar yang juga semalam ia gunakan sebagai tempat bersembunyi.

 

“Perubahannya sudah terjadi..”gumamnya. Ia memutuskan untuk menyusul Yul.

 

—–

 

PRANG!

 

“Lagi-lagi kau memecahkan kaca rumahku!”ujar seorang pria paruh baya. Ia keluar dari rumahnya dan menghampiri anak-anak yang sedang bermain lempar tangkap.

 

“Hey Kwon Yul! Apa yang akan kau lakukan dengan kaca rumahku sekarang?!”

 

Yul tertawa dan mendekati pria itu,”tenang saja paman, saat aku besar nanti aku akan mengganti semua kacamu.”ujarnya dengan polos.

 

Pria itu mengerjapkan matanya dengan mulut terbuka,”saat sudah besar katamu? Kau ini sudah setinggi pohon mau sebesar apa lagi? Menara Eiffel?”

 

Ia menggelengkan kepalanya dan masuk ke dalam rumahnya lagi.

 

“Hey, Yul..kau berani juga berbicara dengan paman itu.”ujar teman Yul, Sooyoung.

 

“Tentu, Soo! Kau juga harus berani seperti itu..kita kan sudah kelas 6 SD! Ayo, main lagi!”

 

——-

 

Yul menatap ke arah cermin. Ia tampak sangat takjub dengan perubahan yang dialaminya.

 

Badannya menjadi sangat berbentuk. Bahkan ia sekarang memiliki otot di perutnya.

 

Ia memutar badannya dengan tiba-tiba,”kau-“

 

“Tidak usah berterima kasih..”ujar Hani acuh tak acuh.

 

Yul mengangkat Hani di udara dan memutar anjing itu, ia sangat senang.

 

“Hey, turunkan aku!”ujar Hani.

 

“Terima kasih, Hani!”

 

“Tidak masalah..tapi ingat ya! Jangan kau salah gunakan! Aku tidak biasanya berbaik hati seperti ini!”Hani mengetukan cakarnya di dahi Yul.

 

Pria itu mengangguk.

 

—–

 

“Mau kemana, Yul?”tanya Mrs.Kwon.

 

“Bertemu Jessica, Bu..”

 

Mrs.Kwon mengalihkan pandangannya dari koran yang ia baca. Ia tampak terkejut dengan penampilan putra satu-satunya yang kini sangat berbeda dari biasanya. Ia merasa putranya menjadi jauh lebih tampan.

 

“Baiklah, aku pergi dulu..”ujar Yul sebelum ibunya sempat berkata apa-apa.

 

—–

 

“Hey, Tyler…bukankah itu Yul?”ujar salah satu teman Tyler.

 

“Mau apa lagi dia?!”

 

Tyler bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar café untuk menemui Yul.

 

“Oh? Hi Tyler..”ujar Yul tanpa rasa takut.

 

“Kau! Anak bodoh! Masih berani datang kemari, huh?!”

 

Tyler memelayangkan tinjunya, tapi dengan cepat ditahan oleh Yul dan ia memutar tangan Tyler, membuat pria yang kini lebih pendek darinya itu berteriak kesakitan. Yul menghempaskan Tyler.

 

“Jangan pernah kau panggil aku bodoh lagi…dasar bodoh.”bisik Yul tepat di telinga Tyler. Yul meninggalkan Tyler yang masih mematung masuk ke dalam café.

 

“Yul?”panggil seseorang yang Yul cari.

 

“Sica..”

 

“Kau…bagaimana..”

 

“Aku akan jelaskan nanti..sekarang aku ingin mengajakmu jalan-jalan..ayo!”

 

Jessica hanya mengikuti Yul, wanita itu tidak mengerti apa yang terjadi padaYul. Tinggi badannya, sikapnya, bentuk tubuhnya. Semuanya berubah dan membuat Jessica bingung.

 

Akhirnya mereka pun sampai di sebuah jembatan yang menghadap langsung ke pantai.

 

“Kau ingin ke sana?”tanya Yul.

 

“Iya, tapi..jaraknya sangat jauh, Yul. Kita tidak membawa kendaraan apapun..”

 

Yul tersenyum dan merendahkan tubuhnya di hadapan Jessica.

 

“Naiklah..aku akan menggendongmu sampai ke sana..”

 

“Tapi…”

 

“Sudah, tidak apa-apa..”

 

Jessica pun menuruti permintaan Yul. Seperti yang pria itu katakana, ia menggendong Jessica hingga mereka tiba di pantai. Jessica sangat terkejut saat Yul berlari dengan sangat cepat.

 

“Bagaimana?”tanya Yul.

 

“Yul…kau-“

 

Kata-kata Jessica terputus saat Yul memeluknya.

 

“Ingat ucapanmu mengenai pria yang kau inginkan saat kita berada di taman?”ujar Yul seraya menatap Jessica. Tatapan Yul kali ini membuat Jessica merasa jantungkan akan melompat keluar.

 

“I-Iya..”

 

Flashback

 

“Sica..”

 

“Ya, Yul?”

 

“Kira-kira…pria seperti apa yang kau inginkan?”ujar Yul seraya menyembunyikan wajahnya karena malu.

 

“Hmm..dia harus..kuat, pintar, dan tentu saja sayang padaku..”

 

Yul semakin merendahkan kepalanya. Ia merasa sedih karena ia tidak kuat, dan pintar seperti yang Jessica harapkan. Yang ia miliki hanya rasa sayangnya pada gadis itu.

 

Flashback End

 

“Tubuhku kuat kan?”tanya Yul, masih menatap Jessica.

 

Jessica hanya mengangguk,”tapi kau-“

 

“Masih kecil secara mental?”potong Yul.

 

Jessica mengangguk lagi.

 

“Aku akan belajar…”ujar Yul seraya tersenyum. Membuat Jessica merasa ia akan meleleh.

 

——

 

“Kau harus lihat wajahnya saat aku memukulnya!”ujar Yul seraya tertawa keras. Ia sangat bahagia hari ini, dan itu semua berkat Hani.

 

“Kau ini…lalu bagaimana dengan gadis itu?”tanya Hani.

 

“Jessica? Wow, dia terpaku sekali melihat sikapku. Terima kasih, Hani!”

 

Tanpa sepengetahuan Yul, Hani tersenyum.

 

—–

 

Ini sudah 2 minggu Hani tinggal bersama Yul. Mereka sudah mulai berteman dengan baik dan saling mengerti.

 

DUARR!

 

Sebuah pesawat berukuran sedang menghantam jendela kamar Yul. Membuat si pemilik kamar terkejut, begitu juga anjing yang dipeluknya.

 

“A-Apa itu?”

 

“Tidak mungkin…”gumam Hani.

 

“Yul!”

 

Yul panic saat mendengar suara ibunya.

 

“Apa yang kau lakukan di atas sana?”

 

“T-Tidak ada, Bu! Aku hanya bermain game!”jawabnya.

 

“Benarkah? Kalau begitu..kecilkan suaranya, ini sudah malam!”

 

“B_Baik…!”

 

Pandangan Yul masih terpaku pada pesawat itu. Pintu bagian atas dari pesawat itu terbuka perlahan.

 

“Di sini kau rupanya!”ujar seekor anjing berwarna putih.

 

“Prince!”

 

Hani langsung melompat dari pelukan Yul dan menghampiri anjing yang dipanggilnya ‘Prince’ itu.

 

Tak lama, keluarlah seorang atau sesuatu yang berbentuk manusia. Ia menjatuhkan dirinya di badan pesawat dengan setengah tubuhnya masih di dalam pesawat. Tampaknya kondisinya tidak baik.

 

“Aku tidak akan membiarkan Prince dan Tiffany mengendalikan pesawat, lagi…”ujarnya.

 

“Aku juga…”ujar seekor anjing berwarna hitam, ia mengikuti apa yang dilakukan pria itu.

 

“Hey, kalian! Perkenalkan, ini Kwon Yul..dan kalian sudah merusak rumahnya!”ujar Hani.

 

Seorang wanita keluar dari pesawat. Berbeda dengan pria tadi. Wanita itu tampak sangat ceria dan segar.

 

“Tentu saja kami sudah mengenal Kwon Yul, Hani…kami sudah memantaunya..”ujar wanita itu dengan tenang dan mendekati Yul,”aku Tiffany, anjing putih ini Prince, dan yang pingsan di sana itu….Taeyeon dan Ginger. Ngomong-ngomong, biarkan aku memperbaiki kamarmu dulu.”

 

Tiffany menjentikan jarinya dan kamar Yul kembali rapi seperti semula. Sedangkan Taeyeon dan Ginger masih tergeletak lemas di lantai.

 

“Apa mereka…”

 

“Ya, mereka baik-baik saja..”jawab Tiffany, sebelum Yul menyelesaikan kata-katanya.

 

Taeyeon akhirnya pulih, ia dan Tiffany menjelaskan kalau mereka bukan berasal dari bumi dan mengapa Hani bisa berada di bumi. Ternyata saat mereka ke bumi untuk mengambil beberapa tumbuhan yang akan mereka gunakan untuk penelitian, Hani menghilang dan tertinggal oleh pesawat mereka.

 

“Oh..jadi begitu..”

 

“Dan tujuan kami ke sini..aku rasa kau sudah mengetahuinya, Kwon Yul..”ujar Taeyeon.

 

Yul mengangguk lemah.,”kalian akan membawa Hani kembali. Benar kan?”

 

Taeyeon dan Tiffany mengangguk.

 

“Dan sangat disayangkan apa yang telah Hani berikan untukmu, juga harus kembali bersama kami..dan setelah ini tidak ada yang mengingat apapun tentang perubahanmu, kecuali kau sendiri.”jelas Tiffany.

 

Yul mengepalkan tangannya.

 

“Tidak apa-apa…aku sudah senang dapat berteman dengan Hani.”

 

Tampak Yul menahan tangisnya, ia berpikir baru saja ia memiliki teman yang setia seperti Hani. Dan sekarang ia akan kehilangan teman baiknya.

 

Taeyeon dan Tiffany saling bertatapan, mereka merasa kasihan pada Yul. Setelah ini, ia akan kembali seperti semula. Ia akan dikerjai, dipukuli, dan dijauhi.

 

“Baiklah..aku rasa ini saatnya..”

 

Prince, Ginger, Tayeon, dan Tiffany sudah berada di dalam pesawat. Sedangkan Hani, ia masih belum siap berpisah dengan Yul.

 

“Jaga dirimu baik-baik…”ujar Hani.

 

Yul mengangguk.

 

Di saat yang sama, Yul merasa kepalanya pusing. Setelah itu ia tak mengingat apapun lagi.

 

——

 

Yul terbangun dari tidurnya. Pandangannya buram, ia meraih kacamata yang tergeletak di meja sebelah tempat tidurnya. Ia segera memandang cermin. Yul tak melihat tubuh indahnya lagi, yang ada hanya tubuh kurus dan kecil yang sebenarnya ia miliki. Ia menghela nafasnya, dan memutuskan untuk sarapan bersama ibunya.

 

—–

 

“Hahaha lihat dia…”

 

DUG!

 

Darah segar keluar dari mulut Yul.

 

“Jangan pernah dekati Jessica lagi…”ujar Tyler, lalu pergi bersama teman-temannya. Meninggalkan Yul yang tampak tak bernyawa.

 

Setelah merasa lebih baik, Yul memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Ia berjalan sepelan mungkin menuju kamarnya agar tak terlihat oleh ibunya. Saat ini, yang ia inginkan hanya tidur dan menenangkan dirinya.

 

—–

 

“APA?!”

 

Seorang gadis cantik berambut coklat bangkit dari kursinya saat mendengar cerita dari salah satu temannya, kalau Tyler memukuli Yul hingga babak belur.

 

“Baiklah..terima kasih telah menceritakannya padaku..”ujarnya lagi sebelum menutup teleponnya.

 

“Hey, di sini kau rupanya..”

 

Jessica membalikan badannya saat mendengar suara orang yang ingin ia temui. Ia menghindar saat orang itu ingin memeluknya.

 

“Jangan pernah temui aku lagi, Tyler. Aku sudah muak denganmu!”bentak Jessica seraya mengambil tasnya dan berjalan keluar.

 

“Apakah salah menemui kekasihku?”tanya Tyler.

 

Jessica menghentikan langkahnya, dan berbalik menatap pria yang menyeringai itu.

 

“Dengar ya, aku bukan kekasihmu dan aku tidak akan pernah menjadi kekasihmu.”ujar Jessica dengan penekanan di setiap kata-katanya.

 

“Lalu? Siapa kekasihmu, Ms.Jung? Si bodoh itu? Kwon Yul? Hahaha”

 

Tyler tertawa keras. Tapi tidak sampai Jessica mengatakan,

 

“Dia memang kekasihku, kau bajingan!”ujar Jessica lalu menampar keras Tyler. Gadis itu langsung berjalan pergi.

 

—–

 

Sesampainya Jessica di rumah Yul, ia disambut oleh Mrs.Kwon yang sedang memeluk seekor anjing.

 

“Anjing siapa itu, Bi?”tanya Jessica.

 

“Ini anjingnya Yul..namanya Hani”

 

“Aneh..Yul tak pernah bilang kalau ia memiliki seekor anjing..”

 

“Anak itu menolong anjing ini..bibi dengar ia melukai anjing ini, jadi ia bertanggung jawab dan memeliharanya..”

 

Jessica tersenyum mendengar cerita Mrs.Kwon. Ia sangat senang karena Yul memang baik.

 

“Ah ya, Bi. Dimana Yul?”tanya Jessica.

 

“Bibi rasa ia ada di kamarnya. Bawalah Hani, Jessica..Yul akan panic jika tidak melihat Hani saat ia bangun dari tidurnya.

 

Jessica mengangguk. Ia berjalan ke kamar Yul dan membuka pintunya perlahan agar tak membangunkan pria itu. Jessica tersenyum saat melihat wajah polos Yul yang sedang tidur.

 

Pria itu mengerjapkan matanya perlahan. Ia terkejut saat melihat Jessica di kamarnya. Tapi ia lebih terkejut lagi melihat apa yang dibawa Jessica.

 

“Hani?”gumamnya.

 

“Y-Yul…?”

 

“Ya? Sica?”

 

Pandangan Yul beralih pada Jessica yang wajahnya memerah. Ia memutuskan untuk mendekati gadis itu.

 

“Ada apa?”tanya Yul.

 

Jessica tidak menjawab, ia malah menutup matanya sekarang. Yul semakin mendekati Jessica.

 

“Kau sakit? Hey…”

 

Yul menyadari suaranya lebih berat dari sebelumnya. Ia segera berlari kea rah cermin. Ia bisa melihat tanpa kacamata, dan tubuhnya kembali menjadi six-pack terlihat sangat jelas karena ia tak memakai baju. Ia tersenyum dan melihat ke arah Hani yang sedang menjulurkan lidahnya dan menggoyangkan ekornya.

 

Ia lalu menatap ke arah Jessica yang masih memejamkan matanya. Ia berpikir untuk menggoda gadis itu sedikit. Ia berdiri di belakang Jessica dan memeluk gadis itu.

 

“Buka matamu, Sica…”bisiknya. Suara Yul membuat Jessica merasa seperti tersengat listrik.

 

Yul membalikan tubuh Sica secara tiba-tiba. Gadis itu masih memejamkan matanya. Ia merasakan nafas Yul semakin dekat di wajahnya. Tak lama kemudian ia merasakan sesuatu menempel di bibirnya. Dan benar saja, saat ia membuka matanya, wajah Yul yang sedang menciumnya adalah hal pertama yang dilihatnya. Jessica mulai menikmati ciumannya dengan Yul. Tangannya juga sudah mulai membelai perut hingga dada Yul yang sangat sexy di matanya. Ia memeluk leher Yul. Sedangkan Yul memeluk pinggang gadis itu dan menariknya lebih dekat. Merasa Jessica sudah sangat menikmatinya, Yul melepaskan ciumannya. Ia melihat wajah merah Jessica.

 

“Lihat kan? Kau menikmatinya kkk..”Yul mengacak rambut Jessica. Gadis itu tertunduk malu.

 

Yul mendekatkan wajahnya lagi. Kali ini bukan untuk mencium, melainkan memeluk Jessica.

 

“I love you, baby…Sica baby..”

 

“Love you too, my silly seobang…”

 

“Shall we do it again?”tanya Yul.

 

“PERVERT!”

 

Jessica menampar keras dada Yul, membuat pria itu berteriak kesakitan. Jessica lupa tujuan awalnya datang ke rumah Yul, karena pria itu tampak baik-baik saja. Sangat baik.

 

EPILOG

 

5 years later…

 

“Kenapa kau tidak cerewet seperti dulu?”ujar Yul pada Hani, yang akhir-akhir ini hanya menjulurkan lidah dan menggerakan ekornya layaknya anjing normal. Yul mendengus kesal. Tapi kemudian, ia menemukan sesuatu yang aneh. Yaitu, kalung yang dikenakan Hani. Yul menyentuh mata kalung itu dan menemukan surat di baliknya.

 

‘Hai, Kwon! Kami memutuskan untuk mengembalikan Hani padamu. Yah, dia sedih saat meninggalkanmu. Dan karena ia menjadi makhluk bumi sekarang, kami merubahnya menjadi anjing yang bisa dikatakan…cukup normal. Tapi, kami tidak mengambil kekuatan dan kepintaran otaknya. Hanya diberi gonggongan sedikit. Dan cuteness. Baiklah. Itu saja, berbahagialah!’

 

Salam,

 

Taeyeon & Tiffany.

 

P.S Ginger yang menulis ini. Salam, Ginger’

 

Yul tersenyum setelah membaca surat itu,”jadi begitu…”

 

“Oh?”

 

Yul terkejut saat ada yang memeluknya dari belakang.

 

“Mengapa kau tersenyum seperti itu, Yul?”

 

“Tidak ada, hanya sedang memikirkan istriku yang cantik ini..”Yul membalikan badannya dan mencubit pipi Jessica.

 

“Yoong sudah tidur?”

 

Jessica mengangguk.

 

“Bagus. Karena ini waktunya aku menikmati makan malamku…”ujarnya seraya menyeringai ke arah Jessica.

 

“KYAAA!”

 

Tanpa aba-aba, ia menggendong Jessica dan berjalan ke kamar mereka.

 

END

 

Follow me on twitter @pyj9789 and instagram @bebyirviny for more information.

 

That is ALL!

 

Peace out, and STAY AWE-SONE!

 

-kaz

YulSic : Time Travel 2

26

YulSic : Time Travel 2

 

 

*****

 

Author’s POV

 

“Yul! Kau bilang ingin belajar bersama! Tapi daritadi, hanya aku yang belajar dank au enak-enakan tidur!”

 

“Sica..aku mengantuk sekali, kau belajar saja sendiri..”

 

“Kwon Yul! Tapi kan kau yang bilang akan mengajariku PR matematika ini..”

 

“Ah! Kau ini mengganggu saja! Dasar bodoh! Bodoh!”ujar Yul sambil menjulurkan lidahnya dan berjalan meninggalkan Jessica yang menangis di kamarnya.

 

Di perjalanan Yuri terus berpikir, apa dia salah bersikap seperti tadi kepada Jessica. Bagaimanapun, Jessica adalah istrinya di masa depan. Tiba-tiba ia mendapat ide bagus. Yul segera berlari menuju rumahnya.

 

Sesampainya di rumah, ia langsung menuju laboratoriumnya dan menyalakan mesin waktu ciptaannya.

 

“Ke masa 7 tahun yang akan datang!”ujarnya semangat sebelum menekan tombol dari mesin itu.

 

Yuri sangat penasaran, apa yang terjadi antara dia dan Jessica saat sudah remaja. Apa mereka sudah mulai menjalin hubungan? Memikirkannya saja membuat Yuri tersenyum bodoh dengan sendirinya.

 

Tanpa ia sadari, ia sudah sampai di masa yang ia tuju. Dengan segera, Yuri membuka pintu mesin waktunya itu.

 

“Dimana aku? Sepertinya ini sekolah…di tempat sebesar ini bagaimana aku bisa menemukan mereka? Lagipula ini sepertinya sudah sore..murid-murid pasti sudah pulang”ucapnya pada diri sendiri.

 

“Hey! Bukan begitu caranya..kau ini bodoh sekali sih! Tadi kan sudah mengerjakan soal yang sama. Kenapa tidak mengerti juga sih?”

 

Yul menghentikan langkahnya saat mendengar seorang laki-laki yang sepertinya sedang marah. Ia mencari asal suara itu dan menemukan seorang laki-laki dan gadis di dalam ruang kelas. Tampak mereka sedang belajar bersama, tapi sejak tadi si pria hanya marah-marah saja.

 

“Ah..ketemu! itu adalah aku!”ujar Yul dalam hati,”dan gadis itu….”

 

Yuri tersentak.

 

Itu Jessica. Pikirnya.

 

Ia terus menatap ke arah Jessica. Ia berpikir, bahwa gadis yang disukainya itu benar-benar tumbuh dengan baik. Ia sangat cantik.

 

“Ah! Sudahlah! Kita pulang saja! Mau kuajari berapa kalipun kau tidak akan mengerti!”

 

Yul bersembunyi saat Yul melangkahkan kakinya keluar kelas.

 

Saat sampai di depan gerbang sekolah, Yul mendekati Yul yang sedang menunggu Jessica.

 

PLAK!

 

Yul memukul laki-laki itu.

 

“Aduh! Hey kau anak kecil! Kau in-“

 

Perkataan Yul terputus saat melihat anak kecil yang memukulnya.

 

“Kenapa? Kau kaget? Apa yang kau lakukan barusan huh? Jessica kan minta diajari! Bukan dimarahi!”

 

“Ish! Kau ini menasehatiku!”

 

Yul mengangkat tinjunya ke atas, ia tidak berniat memukul Yul. Hanya gertakan saja, tapi…

 

“HWAAAA!”

 

“Yul!”

 

Dengan segera Jessica menghampiri Yul dan mengusap kepala anak itu.

 

“Kwon Yul! Kenapa kau memukul anak kecil?!”

 

“A-Aku…”

 

“Sudahlah! Aku mau pulang! Ayo anak manis…ikut dengan noona ya..”

 

Yul terdiam mematung melihat mereka berdua. Tapi emosinya terbakar saat melihat Yul memutar kepalanya dan menjulurkan lidah ke arahnya.

“Berani sekali dia mencuri Sica-ku! Sial! Sial! Hey..tunggu dulu. Itu kan ‘aku’ hahh! Bodoh!”runtuk Yul pada dirinya sendiri. Ia pun pulang ke rumah dengan hati yang panas.

 

—–

 

Yul sekarang berada di rumah Jessica.

 

“Nah..kau tunggu di sini ya. Noona akan buatkan minuman untukmu…”ujar Jessica seraya mengelus kepala Yul dan berjalan ke arah dapur.

 

Yul mengangguk dengan polos. Ia terus melihat Jessica dengan tatapan kagum.

 

“Cantik sekali…”gumamnya sambil tersenyum.

 

“Eonnie! Aku pulang! Oh? Anak siapa ini?”

 

“Ini pasti Krystal. Tidak kalah cantik. Tapi, Jessica-ku masih lebih cantik!”pikir Yul.

 

Krystal berjongkok di hadapannya.

 

“Hmm..kau mengingatkanku pada seseorang. Tapi siapa ya? Ah! Tidak penting! Kau sangat lucu!”ujar Krystal seraya mencubit pelan pipi Yul.

 

“Soojung? Kau sudah pulang?”

 

Jessica kembali dengan membawa gelas berisi minuman.

 

Krystal mengangguk,”ngomong-ngomong, ini anak siapa, eonnie?”

 

“Eonnie juga tidak tahu..sepertinya ia tersesat. Aku bertanya tentang rumah atau orang tuanya pun ia hanya menangis.”

 

“Hmm..berhubung mommy dan daddy pulangnya 3 hari lagi. Dia menginap saja di sini. Bagaimana?”

 

Jessica mengangguk.

 

Yul sejak tadi hanya tersenyum. Ia membayangkan akan tidur dengan Jessica lalu Jessica akan memeluknya erat dan Yul dapat merasakan sentuhan dari dua gundukan yang sejak tadi ia perhatikan.

 

“Lihat senyumnya! Lucu sekali…”ujar Jessica.

 

Ia tidak tahu apa yang ada dipikiran Yul.

 

“Ah..kita belum berkenalan..namaku Jessica dan ini adikku, Krystal..”

 

Yul bingung harus menjawab apa, ia berpikir nama apa yang harus ia katakana pada Jessica.

 

“A-Aku…Kwon Yuri..”

 

“Kwon Yuri? Hmm..namamu sedikit mirip temanku..”ujar Jessica.

 

—–

 

“Kenapa aku tidak tenang begini ya…”ujar Yul, “bagaimana kalau anak itu macam-macam…”

 

Yul tidak bisa tidur dengan tenang. Ia terus membalik posisinya. Tak lama kemudian, ia mengacak rambutnya karena frustasi.

 

“Tenangkan dirimu…ia hanya anak kecil.”pikirnya.

 

—–

 

Apa yang Yul pikirkan benar terjadi. Jessica kini memeluknya.

 

“Noona…”

 

“Hm?”jawab gadis itu sambil tersenyum.

 

“Hyung yang tadi…apa dia pacarmu?”

 

“Maksudmu…Yul?”

 

Yul mengangguk.

 

Jessica tertawa kecil lalu ia menghela nafasnya,”bukan…dia hanya sahabatku..”

 

Yul terdiam.

 

“Lagipula…kami sudah punya orang yang kami sukai..”

 

Yul membelalakan matanya.

 

“N-Noona, menyukai seseorang?”

 

“Iya..kenapa kau terkejut begitu? Kau ini, lucu sekali..”Jessica memeluknya semakin erat.

 

“Kurasa Yul Hyung menyukai Noona…”

 

“Tidak mungkin…dia sering memarahiku saat kami belajar bersama. Mana ada orang yang memarahi seseorang yang disukainya..”

 

Yul kembali diam.

 

Si bodoh itu. Harus kuberi tahu. Pikirnya.

 

—–

 

“Hey..bangun”

 

“Paman..ini kan hari minggu..”

 

“Hey, bodoh..bangun. ini bukan paman Shin.”

 

Yul memukul Yul dengan keras.

 

“HYAAA! MAU APA KAU?”

 

Yul terperanjat kaget karena melihat Yul berada di kamarnya.

 

“Langsung ke intinya saja..”Yul menghela nafasya sebelum melanjutkan kata-katanya,”apa kau menyukai Jessica?”

 

Yul terdiam sebentar,”tidak…aku mencintainya.”

 

“Kalau begitu kejar dia! Kau tahu? Dia bilang padaku kalau dia sedang menyukai seseorang..!”

 

“APA?!”

 

“Karena itulah…kau harus cepat! Ia pasti mengira aku hilang sekarang, dan kembalikan aku padanya.”

 

Yul yang mendemgar itu langsung menuruti perintah Yul dan segera bersiap-siap menuju ke rumah Jessica.

 

—–

 

Jessica berjalan ke arah pintu rumahnya karena ia mendengar suara bell.

 

“Noona!”Yul langsung memeluk.

 

“Yuri? Kemana saja kau? Noona piker kau menghilang..”Jessica langsung memeluk Yul.

 

“Hai…”Yul menggaruk belakang kepalanya karena ia merasa canggung.

 

“Dia yang membawaku kemari..”ujar Yul pada Jessica.

 

Jessica langsung melihat ke arah Yul.

 

“Terima kasih…”ujar gadis itu dan bersiap menutup pintu. Tapi ditahan oleh Yul.

 

“Aku ingin bicara…”ujarnya.

 

Jessica terdiam sejenak,”masuklah..”ujarnya.

 

Yul duduk di sofa bersama dengan Jessica. Sedangkan Yul, ia sedang menonton acara TV. Sebenarnya ia tidak fokus ke acara yang ada di televise. Ia menunggu Yul menyatakan perasaannya pada Jessica.

 

Yul berdehem.

 

“Jadi…kau sudah punya orang yang kau suka?”

 

“Hmm..ya.”

 

“K-Kalau aku boleh tahu…siapa?”

 

Jessica langsung menatap Yul dengan tajam,”kenapa kau tiba-tiba ingin tahu?”

 

Yul berusaha menghindari tatapan Jessica, tapi ia tidak bisa. Pria itu menarik nafas dan menghembuskannya kuat-kuat. Ia membalas tatapan Jessica dan mulai mendekati gadis itu.

 

“Ingat saat aku bilang aku menyukai seseorang?”

 

“Ya, kau juga tidak memberitahukan siapa gadis itu padaku..”

 

“Kau ingin tahu? Kalau aku beritahu siapa yang aku sukai, apa kau juga akan memberitahukan siapa pria yang kau sukai?”

 

“Tentu.”

 

“Baiklah…tutup matamu.”

 

Jessica tampak ragu. Tetapi ia menuruti Yul. Tiba-tiba saja ia merasa hangat di sekujur tubuhnya. Ia membuka matanya dan mendapati Yul sedang memeluknya.

 

I love you, Sica…”bisiknya,”kau tahu? Saat mengetahui kau sedang menyukai orang lain, aku sangat kecewa…aku memang bukan pria romantis, aku juga suka melupakan janjiku dan aku suka memarahimu..tapi, aku harap kau memberikanku kesempatan..”lanjutnya.

 

Jessica tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia tersenyum simpul.

 

I love you too…idiot.”Jessica membalas pelukan Yul,”walaupun kau tidak romantic, sering melupakan janjimu, dan seringkali marah padaku. Aku tahu kau menjagaku dengan tulus. Dan karena itulah aku menyukaimu, Yul…”

 

Yul tersenyum mendengar pengakuan Jessica,”tugasku selesai…”ujarnya. Membuat Jessica dan Yul melepaskan pelukan mereka dan menatapnya.

 

“Terima kasih..”ujar Yul.

 

Yul mengangguk. Ia menekan sebuah remote dan seketika itu mesin waktunya mendarat dan ia masuk ke dalamnya. Tak lupa ia melambaikan tangannya untuk berpamitan pada Yul dan Jessica.

 

Dan mesin itu pun menghilang.

 

“Dia itu sebenarnya siapa?”tanya Jessica.

 

“Ah…”Yul menggaruk tengkuknya,”ceritanya panjang..”

 

Jessica tersenyum,”kalau begitu..ceritakan!”

 

“Nanti…kita masih punya banyak waktu untuk mendengar ceritaku tentang anak itu.”ujarnya,”tapi…sebelum itu aku ingin melakukan ini..”

 

“Ap-“

 

Kata-kata Jessica terpotong saat bibir Yul menyentuh bibirnya.

 

“Kwon Yul!”Jessica berteriak saat bibir mereka akhirnya terpisah.

 

Yul tertawa lalu memeluk Jessica lagi. Yang kini telah menjadi miliknya.

 

I love you Sica…baby”ia mengecup kening Jessica.

 

“I love you too, Kwon…Seobang?”

 

“Hm? Seobang? Aku suka itu..”ujar Yul sebelum mempertemukan bibir mereka lagi.

 

 

“Oh? Yul? Tidak biasanya malam hari kau berkunjung kemari…”

 

“Apa Jessica sudah tidur, mommy Jung?”

 

“Hmm..sepertinya belum. Ia masih belajar. Masuklah, temui dia di kamarnya..”

 

Yul mengangguk. Ia melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamar Jessica. Sebelum membuka pintunya, ia menarik nafasnya.

 

Ia mendapati Jessica yang masih duduk di depan meja belajarnya. Gadis kecil itu menangis sambil mengerjakan beberapa soal. Sepertinya ia tidak menyadari kalau seseorang masuk ke kamarnya.

 

Yul memegang tangan Jessica dari belakang, membuat gadis kecil itu terkejut.

 

“Ayo..kita belajar bersama. Aku sudah janji. Benarkan?”Yul tersenyum tulus ke arah Jessica.

 

Jessica mengangguk semangat, ia tersenyum dan menyeka air matanya.

 

Yul tidak dapat menahannya lagi, ia menarik Jessica ke pelukannya.

 

“Maafkan aku ya..aku berjanji tidak akan membuatmu menangis lagi seperti ini. Aku memang jahat..”

 

Tanpa ia sadari, air matanya mengalir.

 

Tangan mungil Jessica menyeka air mata di pipi Yul.

 

“Yul tidak jahat..”ujar gadis kecil itu.

 

Yul tersenyum,”terima kasih, Sica. Nah sekarang..aku akan mengajarimu..”

 

Mereka tertawa bersama dan mulai belajar bersama sesuai dengan janji Yul.

 

END

 

Hai! Masih inget FF Time Travel kemarin? Nah gw buatin versi lainnya. Dan seperti biasa, cetak miring adalah Yuri di future.

 

FOLLOW ME ON INSTAGRAM @bebyirviny AND FOLLOW ME ON TWITTER @pyj9789

 

THAT IS ALL!

 

STAY AWESONE!

 

-kaz

 

 

 

[4/?] We Are Meant To Be

39

[4/?] We Are Meant To Be

 

******

 

Author’s POV

 

“Bunuh saja aku!”tantang Tiffany. Tongkat sihir Taeyeon semakin kuat menekan kulit lehernya.

 

“Kau menantangku, huh?!”bentak Taeyeon.

 

Tiffany tidak suka dengan situasi seperti ini. Walaupun ia tak bisa merasakan apa-apa, tetap saja ia tidak suka kalau Taeyeon bersikap seperti itu padanya. Bahkan ia tak tahu apa alasannya.

 

Mereka terus bertatapan sengit. Jarak mereka sangat dekat. Tiffany sedang berpikir, bahwa mungkin ini adalah cara ia akan mati. Benar-benar mati. Ia sudah memejamkan matanya dengan rapat, bersiap menerima apapun yang akan Taeyeon lakukan terhadapnya. Tak lama setelah itu, Tiffany merasakan benda lembut menempel di bibirnya. Ia membuka matanya perlahan, dan menemukan Taeyeon sedang mencium bibirnya. Ditambah lagi, pria itu mulai mengeluarkan air mata. Tiffany segera melepas ciuman itu.

 

“Kenapa kau menangis?”ujarnya pada Taeyeon,”apa aku melukaimu?”lanjutnya karena Taeyeon hanya diam dan menatapnya. Kali ini ia menyentuh wajah pria yang kini tengah memeluk pinggangnya erat. Ia sangat ingin melakukannya.

 

“Ya..kau melukaiku”jawab Taeyeon,”kau sudah pergi terlalu lama ..Tiffany Hwang”lanjutnya seraya menempelkan bibirnya di bibir Tiffany lagi. Kali ini, Tiffany membalas ciuman Taeyeon. Mereka sudah tidak memperdulikan apapun, mereka hanya menikmati lumatan demi lumatan di bibir mereka.

 

Taeyeon menggiring Tiffany ke lantai atas tanpa melepaskan bibir mereka, dan mereka pun masuk ke dalam kamar yang Tiffany gunakan.

 

Tiffany merasakan sesuatu di kepalanya. Sedikit demi sedikit, kenangannya bersama Taeyeon muncul. Walaupun tidak terlalu jelas. Ia juga merasakan hal aneh saat Taeyeon mencium lehernya dan menghisapnya sedikit. Aneh, tapi Tiffany menyukai setiap sentuhan Taeyeon.

 

Bahkan ia mulai mengerang kecil saat Taeyeon memijat payudaranya. Tanpa Tiffany sadari, ia membuka pakaian yang Taeyeon kenakan, begitu juga dengan Taeyeon. Dan kini mereka sudah tidak mengenakan apapun. Tiffany mengerti, dan Tiffany tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan ia merindukan perasaan yang ia rasakan saat ini. Perasaan dimana ia bersama Taeyeon.

 

I love you, Tiffany Hwang..”bisik Taeyeon saat kejantanannya mulai masuk ke dalam vagina Tiffany.

 

I love you too….TaeTae…”

 

Taeyeon tersenyum saat ia mendengar nama panggilan itu dari mulut Tiffany lagi. Ia sangat bahagia, begitu pula dengan Tiffany.

 

—–

 

“Kira-kira Taeyeon dan Tiffany sedang apa ya di dalam sana?”ujar Jessica seraya mendaratan kepalanya di bahu Yuri. Mereka kini tengah duduk di teras rumah. Melihat pemandangan serta teman-teman mereka yang masih bermain tanpa lelah.

 

“Kau ingin tahu?”tanya Yuri jahil Tentu saja Yuri sudah mengetahui apa yang terjadi antara Taeyeon dan Tiffany di dalam sana.

 

“Ada apa dengan tatapanmu itu, Kwon Yul?! Kau ingin mati, huh?!”

 

Jessica mejitak kepala Yuri.

 

“Ahh…sakit, Sica..”Yuri mengusap kepalanya.

 

“B-Benarkah? Aku minta maaf, Yul..aku hanya- YAH! KAU ITU VAMPIRE! JANGAN COBA-COBA MENIPUKU!”ujar Jessica dengan suara khasnya yang membuat telinga Yuri seakan ingin lepas.

 

Setelah dimarahi oleh Jessica, Yuri memutuskan untuk bergabung bersama teman-temannya. Tapi sebelum ia meninggalkan Jessica ia mengatakan,”dasar..nenek sihir”dengan suara kecil, lebih mirip seperti bergumam.

 

Sayangnya, hal itu di dengar oleh Jessica. Dan Jessica mengejar Yuri, hingga membuat Yuri berlari ketakutan. Sedangkan, teman-teman yang lainnya tertawa keras melihat kelakuan Yuri dan Jessica.

 

———

 

Taeyeon mengatur nafasnya sambil memeluk Tiffany.

 

“Tiffany…”

 

“Ya?”Tiffany tak berhenti tersenyum, ia sangat menikmati pelukan Taeyeon.

 

“Sepertinya kau harus mengubahku menjadi vampire…”

 

“K-Kenapa?”wanita itu mengangkat wajahnya untuk menatap wajah Taeyeon.

 

“Karena…”Taeyeon mendekatkan wajahnya pada telinga Tiffany,”jika aku menjadi vampire aku tak akan merasa lelah jika melakukan ini bersamamu terus-menerus..”

 

Suara Taeyeon membuat Tiffany menyunggingkan senyumannya. Tak dapat dipungkiri ia sangat senang.

 

“Dasar mesum!”Tiffany memukul pelan dada bidang Taeyeon. Pria itu hanya mengeluarkan tawa khasnya.

 

Mereka terdiam cukup lama. Taeyeon lah yang membuka suara terlebih dahulu.

 

“Apakah kita bisa terus seperti ini?”

 

“Apa maksudmu, Tae?”

 

“Maksudku…kau abadi. Kau akan hidup selamanya. Bagaimana denganku? Aku akan terus menua dan mati, baby..”Taeyeon menatap ke dalam mata Tiffany sambil mengusap pipi wanita itu,”aku tidak keberatan sama sekali jika kau menggigitku…”

 

“Aku tidak akan mengigitmu…”ujar Tiffany, ia merapatkan dirinya pada Taeyeon.

 

“Bukankah kau sangat menginginkan darahku beberapa waktu lalu, hm?”canda Taeyeon.

 

Tiffany hanya tersenyum kecil.

 

“Aku sudah tahu…Yuri menceritakan semuanya. Ia juga memperingatkanku untuk berhati-hati padamu..”Taeyeon mempererat pelukannya pada Tiffany.

 

“Lalu? Apa yang kau katakan setelah itu?”Tiffany memainkan jari-jari Taeyeon.

 

“Aku sudah katakan…aku tidak keberatan..”Taeyeon mengecup puncak kepala Tiffany.

 

Tiffany menggeleng,”kau tahu apa yang membuatku tidak menginginkan darahmu lagi, Kim Taeyeon?”

 

Taeyeon menatap ke arah Tiffany. Wanita itu meletakan telapak tangannya di dada bagian kiri Taeyeon. Tepat dimana jantung Taeyeon berada.

 

“Kau mendengarnya? Detak jantungmu…”

 

Taeyeon hanya diam, ia terus menatap Tiffany.

 

“Jika aku menggigitmu…kau memang akan berubah menjadi sama sepertiku dan hidup abadi selamanya. Tapi…”Tiffany menatap lekat Taeyeon,”aku tidak akan pernah bisa mendengar detak jantungmu yang seperti ini lagi..detakan yang terjadi hanya ketika kau bersamaku. Aku sangat menyukainya. Aku menyukai saat jantung ini berdetak kencang seakan mengatakan betapa besarnya kau mencintaiku, TaeTae…”

 

Taeyeon tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya tersenyum dan mencium bibir Tiffany.

 

I love you so much…”ujar Tiffany.

 

——

 

“Hwahhh…sudahlah Jessie..apa kau tak lelah? Hanya dengan melihatmu mengejar Yuri aku merasa seperti bisa merasakan lelah..”ujar Sunny.

 

“Benar…pakai ini saja.”ujar Yoona dengan anggukannya. Ia juga menyerahkan tongkat sihir milik Jessica.

 

“Ah benar juga…terima kasih Yoong!”ujar Jessica.

 

Jessica mengucapkan beberapa mantra dan Yuri sudah berada di hadapannya. Pria itu tertarik seperti besi yang ditarik oleh magnet.

 

“Baiklah…teman-teman. Ayo pergi…”ujar Hyoyeon yang mencium akan adanya perang besar.

 

“S-S-S-Sicaa…maafkan akuuu..”ujar Yuri. Ia memejamkan matanya. Saat ini ia sedang berpikir bahwa vampire tak bisa merasakan hal apapun termasuk rasa takut adalah bohong.

 

BRUKK!

 

Jessica melompat ke arah Yuri. Dan segera mencium bibir Pria itu.

 

Seobang…I love youuu”ujar Jessica dengan suara manjanya.

 

Yuri yang awalnya bingung, kini menatap gemas ke arah kekasihnya dan mengusap rambut wanita itu,”I love you too, Sica baby..”

 

TBC

 

HIDUP UPDATE PENDEK! ._.

 

OKAY!

 

STAY AWESONE!

 

-kaz

 

YulSic : Promise? (Time Travel)

26

YulSic : Promise? (Time Travel)

 

*****

 

Author’s POV

 

Seorang gadis kecil yang berusia 11 tahun melipat tangannya sambil menatap kesal pada anak laki-laki seusianya yang sedang menjelaskan sesuatu.

 

“Percayalah, Sica…aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku berjan-“

 

“Stop!”gadis yang dipanggil ‘Sica’ itu memotong ucapan lawan bicaranya,”sudahlah, Yul..jangan ucapkan itu lagi. Setiap kau bilang kau berjanji, pasti kau tidak akan menepatinya. Ingat pada hari ulang tahunku? Kau berjanji akan datang ke acara ulang tahunku, tapi kau malah hanya menitipkan kado untukku pada Taeyeon. Aku tidak ingin kado Yul! Harusnya kau mengerti! Lalu saat orang tua dan adikku pergi karena ada urusan mendadak di Amerika. Kau berjanji kau akan menemaniku. Tapi, kau membiarkan aku sendiri dan ketakutan di rumahku. Kau lebih peduli pada proyek-proyek dan percobaan ilmiahmu!”

 

Yul hanya menunduk dan diam. Ia tak berani membuat pembelaan, karena apa yang dikatakan oleh Sica itu adalah benar. Mereka terdiam cukup lama, sampai akhirnya keluar isakan dari bibir mungil Sica. Dan Yul mulai membuka suaranya.

 

“Jessica Jung…”panggilnya pada gadis di hadapannya itu,”kali ini aku bersungguh-sungguh. Aku berjanji, aku tidak akan pernah mengingkari janjiku..”

 

Bukannya menanggapi Yul, tangisan Jessica pecah dan ia segera berlari meninggalkan Yul.

 

Setelah kejadian itu, Yul berjalan gontai menuju rumahnya. Walaupun baru berumur 11 tahun, ia sangat mandiri. Di rumahnya, ia hanya ditemani seorang pelayan, karena kedua orang tuanya telah meninggal. Ia bersungguh-sungguh dan memutuskan untuk tidak manja pada pelayan yang ditinggalkan orang tuanya.

 

“Selamat datang kembali, Mr.Kwon..”sambut pelayannya yang usianya kira-kira sudah mencapai 50 tahun itu.

 

Yul hanya mengangguk dan berjalan menuju laboratoriumnya. Di dalam sana, terdapat banyak alat-alat yang ia ciptakan sendiri, karena Yul memang anak yang bisa dikatakan genius. Ia memeriksa satu-persatu alat-alat yang telah diciptakannya. Dan akhirnya ia sampai di sebuah mesin yang sangat besar. Itu adalah mesin waktu yang diciptakan olehnya. Yul heran karena mesin waktu ciptaannya ini gagal, karena belum ada satupun percobaannya yang gagal.

 

“Baiklah, machine…kita lihat dimana letak kesalahanmu.”ujarnya.

 

Yul terus memeriksa bagian dalam mesin itu sampai akhirnya ia menemukannya.

 

“Nah, ini dia..aku harus lebih teliti di lain waktu. Bagaimana bisa sekrup ini tidak terpasang dengan benar.”ia berbicara sendiri.

 

Setelah Yul keluar dari mesin itu. Tak berapa lama, mesin itu menyala dengan sendirinya.

 

“Whoa..apa ini?”ujar Yul.

 

Pintu dari mesin itu terbuka, dan keluarlah sosok lelaki yang tampan.

 

“Hwaaaa!”

 

Memang ia tampan, tapi tidak dalam keadaan kusut, menangis dan histeris seperti ini.

 

Pikir Yul.

 

“Hey, paman! Kau ini siapa?”Yul berusaha melepaskan pelukan pria yang masih menangis dan panic itu.

 

Setelah mencerna kata-kata Yul, pria itu melihat ke arahnya.

 

“K-Kau…Kwon Yul?!”ujarnya dan memegang bahu Yul.

 

“I-Iya! Kau ini siapa?”

 

Bukannya menjawab pertanyaan Yul. Pria itu malah tertawa lebar.

 

“Hey, Paman! Aku bertanya padamu!”ujar Yul yang mulai kesal.

 

“Aku adalah…kau. Kwon Yul di masa 20 tahun yang akan datang”

 

Yul masih diam, ia melihat dari kepala hingga ujung kaki pria tinggi di hadapannya.

 

Ini adalah aku? Wow, tampan juga.

 

“Lalu…mau apa kemari?”tanya Yul dengan nada dingin menyembunyikan rasa kagumnya.

 

Yul (cetak miring = Yul dewasa) itu duduk di atas kursi yang biasa Yul gunakan.

 

“Sebenarnya aku ada masalah..”ujar Yul.

 

“Lalu…apa hubungannya denganku?”tanya Yul.

 

Yul menggeleng,”aku sedang ada masalah dengan istriku. Dia pulang ke rumah orang tuanya. Sepertinya ia marah padaku, karena aku melupakan kalau hari ini adalah anniversary kami. Dan aku berjanji membelikannya hadiah.”

Yul menghela nafasnya,”ternyata masih soal janji..”gumamnya.

 

Setelah mereka terdiam cukup lama, Yul menjitak kepala pria di hadapannya.

 

“Hey! Kau ini bodoh atau apa?! Bagaimana bisa kau melupakan hari penting seperti itu!”

 

“Apa kau lupa, huh? Kau adalah aku! Kita ini sama saja!”ujar Yul sambil mengusap kepalanya,”aku sebenarnya tidak lupa! Hanya saja…hadiahnya terkirim ke alamat yang salah!”

 

“Apa maksudmu?”tanya Yul.

 

Yul mengeluarkan kartu dari saku jasnya,”ini…ini adalah delivery card. Di masa yang akan datang semuanya sangat modern. Yang mengantar semua pesanan barang atau surat adalah robot yang bisa menjelajahi waktu. Jadi kau juga bisa mengirim pesan ke masa depan atau masa lalu. Dan di kartu milikku ini, aku salah menulis waktu. Jadi, hadiah yang aku kirimkan untuk istriku, akan dikirim oleh robot ke rumah orang tua istriku…di masa ini, masa mu..”

 

“Apa?! Kalau begitu kita harus cepat! Ayo! Kita cegat robot itu!”

 

Mereka pun segera menuju rumah istri Yul.

 

Tapi, satu hal yang Yul kecil lewatkan. Itu adalah…ia tak bertanya siapakah istrinya.

 

Sesampainya di rumah istrinya, ia terkejut.

 

“I-Ini kan…”

 

“Ah ya, aku belum mengatakannya padamu.”ujar Yul,”istrimu adalah Jessica Jung..”lanjutnya seraya menyetarakan tingginya dengan Yul dan menatap mata bocah itu.

 

Yul masih terdiam. Ia tak bisa percaya bahwa, gadis yang ia sukai akan menjadi pendampingnya di masa depan.

 

Lamunan Yul pecah saat ia mendengar suara alarm di atasnya.

 

“Itu dia robotnya..”ujar Yul.

 

“Lalu…sekarang apa?”tanya Yul.

 

“Bagaimana kalau coba bicara dulu?”

 

Yul mengangguk dan mengikuti Yul mendekati robot itu.

 

“Maaf…”kata Yul sebelum mendekati robot itu. Robot tersebut menoleh kea rah mereka berdua.

 

“Apa paket itu untuk Ms.Jessica Jung?”tanya Yul seraya menunjuk box kecil berwarna pink yang dipegang oleh robot itu,”apa bisa dikembalikan? Karena..tanggal tujuannya salah..”jelasnya.

 

Tidak bisa dikembalikan.”ujar robot itu.

 

“Kalau begitu berikan saja padanya!”ujar Yul kecil.

 

Saat Yul menyentuh robot itu, robot itu malah terbang dan membuat Yul ikut terangkat bersamanya. Yul menggenggam pergelangan kaki Yul. Kini ia juga ikut terangkat.

 

“Seharusnya kau tidak menyentuhnya!”

 

“Mana kutahu! Robot ini berasal dari masamu!”

 

Kain dari celana Yul tiba-tiba sobek, sehingga membuat genggaman tangan Yul terlepas dan pria itu pun terjatuh. Beruntung ia jatuh di sebuah kolam yang berada di taman. Sedangkan Yul kecil, ia masih memegang kuat robot itu, sampai akhirnya ia menabrak sebuah pohon.

 

“Dasar robot bodoh!”ujarnya seraya mengusap kepalanya. Ia memutuskan untuk mencari Yul.

 

—–

 

Yul keluar dari kolam itu dengan nafas tersengal-sengal. Ia merebahkan dirinya di atas rumput yang ada di pinggir kolam itu. Tapi tak lama kemudian ia mendengar isakan seseorang yang ternyata berasal dari gadis kecil yang duduk di atas rumput sambil membenamkan wajahnya di antara lututnya.

 

“Hey, gadis kecil…apa yang terjadi padamu? Kenapa kau menangis?”ia duduk di sebelah gadis itu.

 

Saat gadis itu mengangkat wajahnya, Yul terkejut.

 

Jessica?

 

Pikirnya.

 

“Paman..?”

 

“Y-Ya?”

 

“Kenapa paman basah kuyup?”tanyanya di sela isakannya.

 

Yul bingung harus menjawab apa.

 

“Ini paman..”Jessica mengulurkan sebuah sapu tangan.

 

“I-Iya…terima kasih..”

 

Saat Yul mengelap wajahnya dengan sapu tangan itu, Jessica tertawa kecil, membuat Yul menatapnya bingung.

 

“Maaf, paman…hanya saja wajahmu sangat mirip dengan temanku..”ujarnya diselingi kekehan.

 

Yul tahu, siapa teman yang dimaksud oleh Jessica kecil.

 

“Dia juga yang telah memberikan sapu tangan itu..”ujar gadis kecil itu lagi.

 

Yul menatap sapu tangan itu. Ia tersenyum, ia senang karena Jessica menghargai sapu tangan buatannya sendiri. Sapu tangan itu tampak tidak special, hanya ada tulisan ‘YulSic’ di tengahnya. Dan itu sangat berharga untuk Jessica, karena ia tahu Yul membuatnya dengan hati dan ia rela tangannya penuh dengan luka karena tertusuk jarum. Itu juga adalah, hadiah pertama yang Yul berikan secara langsung pada Jessica.

 

Yul beranjak dari duduknya,”ayo, paman antar kau pulang..”

 

Jessica kecil meraih tangan Yul dan bangkit dari duduknya. Mereka mulai berjalan ke rumah Jessica.

 

Di perjalanan mereka terus berbicara. Mereka bercerita tentang banyak hal. Yul juga telah menceritakan tentang istrinya, yaitu Jessica di masa yang akan datang.

 

“Paman..apa aku boleh bertanya?”

 

“Tentu..ada apa?”Yul mengusap kepala Jessica.

 

“Apa istri paman adalah wanita yang galak?”

 

“Hmm..bagaimana yah, ia sedikit galak. Tapi aku sangat mencintainya. Ia menjadi galak karena aku memang memiliki kesalahan. Bukan hanya asal memarahiku saja..”jelas Yul.

 

“Berarti ia wanita yang baik, paman..”

 

Yul mengangguk sambil tersenyum.

 

Akhirnya mereka sampai di depan rumah Jessica.

 

Sebelum Jessica kecil masuk ke dalam rumahnya, gadis itu berkata,”paman, baikan saja dengan istri paman..paman kan orang baik.”ia tersenyum dan masuk ke dalam rumahnya.

 

Yul tersenyum.

 

Terdengar suara langkah kaki mendekat. Ternyata itu adalah Yul.

 

“Kemana saja sih?”ujarnya seraya mengatur nafasnya yang hampir habis karena berlari.

 

“Astaga! Bagaimana aku bisa lupa dengan robot itu!”ujar Yul.

 

Suara alarm dari robot itu mendekat. Mereka berdua bersembunyi, dan berencana mematikan robot itu. Setelah robot itu sampai di depan pintu keluarga Jung. Yul dengan cepat melompat ke arahnya dan menahannya. Sedangkan Yul membuka bagian belakang robot itu dan menekan tombol off dan reset. Tidak lupa ia mengambil hadiah yang seharusnya ditujukan untuk Jessica Jung di masa depan.

 

Tugas mereka selesai. Kini mereka berdua sedang dalam perjalanan pulang ke rumah Yul.

 

“Aku ingin bertanya. Bolehkah?”ujar Yul.

 

“Ada apa?”

 

“Bagaimana bisa…aku dan- emm..maksudku kau dan…”Yul tampak kebingungan dengan kata-kata yang akan ia lontarkan.

 

“Ah…bagaimana aku dan Jessica menikah?”tebak Yul.

 

Yul mengangguk.

 

“Kau akan mengetahuinya sendiri nanti…”Yul menepuk pundak bocah itu.

 

Mereka sampai di rumah Yul. Bocah itu memeriksa mesin waktunya sebelum ia mengembalikan Yul. Setelah selesai, ia menyuruh Yul masuk ke dalamnya.

 

“Baiklah senang bertemu denganmu…”pria itu tersenyum dan melambaikan tangannya. Yul pun membalasnya.

 

Setelah Yul pergi, ia tersenyum kecil.

 

“Jadi begitu ya…”gumamnya,”mulai sekarang aku akan bersungguh-sungguh menjaga Jessica Jung…”lanjutnya.

 

——

 

Future…

 

Yul mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia menuju rumah kediaman keluarga Jung. Ia sangat buru-buru, bahkan ia tak sempat mengganti pakaiannya yang masih sedikit basah.

 

Sesampainya di depan rumah keluarga Jung. Ia menekan bell rumah itu.

 

Tunggu sebentar…”terdengar suara lembut dari orang yang dicintainya dari dalam sana.

 

Jessie..sebaiknya kau pulang ke rumah Yul..jangan bertengkar lagi..”ujar Mrs.Jung.

 

Kami tidak bertengkar, Mom..”jawab Jessica diiringi tawaan kecil.

 

Yul menunduk saat pintunya terbuka. Ia tak berani memandang kea rah Jessica.

 

“Ternyata kau..”ujar wanita itu.

 

Yul mengangkat wajahnya, dan disambut oleh senyuman Jessica.

 

“Aku ingin mengajakmu jalan-jalan di sekitar sini..bolehkan?”tanyanya seraya mengusap tengkuknya yang tak gatal.

 

Jessica mengangguk semangat,”Mom, aku pergi dengan Yul dulu!”pamitnya.

 

Selama 15 menit mereka berjalan, tak ada satupun yang mulai berbicara. Yul menghentikan langkahnya. Membuat Jessica kebingungan.

 

“Ada apa, Yul?”tanya wanita itu seraya mendekati suaminya.

 

“Sica…”Yul mengeluarkan hadiah yang ternyata adalah cincin dari sakunya,”happy anniversary…happy YulSic’s day, Sica baby..”ujarnya seraya memasangkan cincin itu di jari Jessica.

 

Jessica tak dapat membendung air matanya, ia langsung memeluk Yul.

 

“Apa kali ini aku melupakan janjiku?”tanya Yul, setengah bercanda.

 

“Hmm…hampir?”ujar Jessica.

 

Mereka melanjutkan jalan-jalannya. Yul menggandeng tangan Jessica, dan tangan satunya lagi dimasukan ke dalam saku jasnya. Ia merogoh sesuatu.

 

“Astaga…aku lupa mengembalikan ini..”Yul melihat ke arah sapu tangan milik Jessica kecil.

 

“Itu kan…”Jessica melihat ke arah sapu tangan itu.

 

Mereka membuka sapu tangan itu dan tulisan ‘YulSic’ terpampang di tengah kain itu.

 

Jessica tertawa kecil,”terima kasih telah mengembalikan ini…paman

 

Yul hanya tersenyum malu. Ia tak menyangka Jessica akan mengingat paman baik hati yang ia temui 20 tahun lalu. Dan kini, Jessica sadar bahwa paman baik hati itu adalah suaminya, Kwon Yul.

 

Yul menarik Jessica kepelukannya dan mengecup bibir mungil wanita itu.

 

“I love you, Sica baby..”

 

“Love you too, Kwon seobang..”

 

 

 

END

 

Okeeee…saya kembali dengan FF ini..sebenernya FF We Are Meant To Be udh selesai. Cmn blm siap upload wkwk. FF ini cuman selingan yah, guys. FF selingan akan diupdate setiap minggu! Well, jalan ceritanya not purely mine. FF ini terinspirasi dari…………kalau tahu hebat loh wkwk.

 

OKAY! STAY AWESONE!!

 

-kaz

[3/?] We Are Meant To Be

58

[3/?] We Are Meant To Be

 

*****

 

Tiffany’s POV

 

Aku sangat menginginkan darah manusia bernama Kim Taeyeon itu. Aku hampir saja mendapatkannya kalau Yoong dan Hyoyeon tidak datang. Pikiranku tidak boleh terbaca oleh Yoong. Mereka pasti akan langsung menjauhkanku dari Kim Taeyeon itu.

 

“Tiffany?”

 

Aku langsung membalikan badanku saat mendengar suaranya.

 

“Taeyeon? Ada apa?”

 

Ia sedikit tercengang melihatku, karena aku memakai pakaian tidur yang sedikit tipis. Kata Jessica, dulu pakaian di kamar ini adalah milikku.

 

“M-Maaf, aku seharusnya mengetuk dulu.”

 

Wajahnya berubah merah.

 

“Tidak apa. Ngomong-ngomong, apa yang kau butuhkan?”aku berjalan mendekatinya.

 

Lucu juga wajahnya saat gugup. Tak ada salahya aku bermain-main sedikit. Aku mulai mengalungkan tanganku di lehernya.

 

“T-Tiff, apa yang-“

 

Karena ia lebih tinggi dariku, aku berjinjit untuk mengecup pipinya lalu memeluknya. Membenamkan wajahku di lehernya.

 

Ia wangi sekali.

 

Aku membuka mulutku sedikit dan mengeluarkan taringku. Aku rasa ini kesempatan bagus.

 

Tapi, tiba-tiba aku merasakan tangannya melingkar di pinggangku dan ia menarik wajahku agar menatapnya. Tatapannya sangat serius, apa niatku terbaca olehnya?

 

Kami saling menatap sampai akhirnya ia menempelkan bibirnya di bibirku. Aku tak memberi respon, sampai akhirnya aku tergoda untuk membalas lumatan bibirnya. Entahlah, tapi aku merasa aku harus melakukannya. Maksudku, membalas ciumannya.

 

Saat aku sudah larut dalam permainan bibirnya, ia melepasnya dan menatapku sebentar.

 

I miss you…”ujarnya lirih.

 

Tatapannya menghipnotisku. Tapi, aku tak bisa ingat. Aku sudah dibutakan oleh aroma darahnya yang membangkitkan jiwa vampire-ku. Aku bukan setengah vampire seperti Yuri. Aku juga bukan seperti teman-temanku yang lainnya, yang bisa membedakan musuh atau bukan. Bagiku semua manusia adalah makananku. Tapi, sejak aku merasakan bibirnya tadi…

 

Tidak. Tidak boleh seperti ini. Aku harus mendapatkan Kim Taeyeon. Aku harus merasakan darahnya!

 

“Kau kenapa?”

 

“Hm?”aku tersadar dari pikiranku.

 

“Kau tampak seperti berpikir. Apa yang kau pikirkan?”

 

“Benarkah? Aku tidak memikirkan apapun”ujarku.

 

“Aku ingin bertanya padamu.”ia mulai menatapku dengan serius, lagi.

 

“Tanyakan saja..”ujarku seraya mengelus pipinya.

 

“Apa yang kau rasakan…saat aku menciummu?”

 

Aku terdiam. Aku bahkan tidak tahu apa yang kurasakan. Aku merasa…aneh. Rasa yang tak dapat aku gambarkan sebelumnya.

 

“Aku…entahlah, Taeyeon. Aku tidak-“

 

Ia memotong ucapanku dengan menempelkan bibir kami lagi.

 

“Kau tidak perlu menjawab sekarang. Aku akan menunggu…”ia tersenyum lalu meninggalkanku di kamar ini.

 

Aku benar-benar bingung sekarang. Aku merasakan aku akan kehilangan akalku. Tapi tidak. Di saat yang bersamaan aku merasakan haus darah yang amat sangat, tapi aku tidak boleh meminum darahnya.

 

“Tiffany!”

 

Mendengar suara Sooyoung, aku segera melihat ke jendela.

 

“Turunlah! Yang lain sedang bermain! Kau ikut?”ujarnya.

 

“Baiklah! Sebentar!”ujarku padanya.

 

Aku mengganti bajuku dan menuju ke rumah bagian bawah untuk bergabung bersama yang lain.

 

Mereka berada di halaman belakang. Memanah.

 

Aku terus memperhatikan Taeyeon. Ia cukup pandai dalam memanah.

 

“Kim Taeyeon”panggilku.

 

Ia langsung menoleh tanpa kupanggil dua kali,”ya?”

 

Aku menggulung lengan bajuku,”lawan aku.”

 

Semua menatapku dengan tatapan apa-kau-bercanda.

 

Aku tidak memperdulikan mereka, melainkan langsung mengambil busur dan anak panah.

 

“Jangan menyesal, Tiffany Hwang.”ujar Taeyeon aku hanya menanggapinya dengan tersenyum kecil.

 

—–

 

“Tidak menyangka kau sehebat itu.”

 

“Aku sudah katakana. Jangan menyesal.”ujarnya seraya tertawa kecil.

 

“Apa dulu selalu seperti ini?”

 

Well…dulu kau sama sekali tidak bisa memanah.”ia terkekeh.

 

“Benarkah? Perubahan bagus bukan?”aku bertanya dengan penuh semangat. Ia hanya mengangguk lalu tersenyum. Kami sama-sama memalingkan pandangan kami untuk melihat halaman rumah Taeyeon yang cukup luas. Dan teman-teman yang lainnya sedang tertawa seraya mengejar satu sama lain. Aku tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan.

 

Taeyeon menghela nafasnya,”yeah..”

 

Ia tersenyum, tapi aku melihat kesedihan di balik senyumnya itu. Apa dia tidak menyukai wujudku yang sekarang? Kenapa aku seperti merasa khawatir? Di kepalaku penuh dengan pikiran-pikiran aneh, bagaimana kalau sebenarnya ia tidak bisa menerimaku? Aku benar-benar bingung.

 

“Tiffany..”

 

Aku menoleh ke arahnya. Ia menarikku ke pelukannya.

 

“Apa yang kau rasakan kalau aku melakukan ini padamu?”tanyanya.

 

Aku menelan ludahku. Aroma darahnya benar-benar segar. Tapi, aku tidak bisa bergerak. Aku merasa sangat nyaman di posisi ini.

 

“Nyaman..”gumamku.

 

Ia memelukku semakin erat. Aku menyukainya. Hanya saja, aroma darahnya benar-benar menggugah seleraku. Aku sangat ingin mencicipinya, sedikit saja.

 

“Hey, kalian ini benar-benar..”ujar Yuri saat melewati kami. Taeyeon segera melepas pelukan kami. Aku melihat ke arah teman-temanku. Sepertinya Yul memberitahukan apa yang terjadi. Tampak semuanya tertawa seraya menatapku. Awas kau Kwon Yuri!

 

“Taeyeon-ah, aku mau masuk.”ujarku. seperti yang kuduga, ia mengikutiku ke dalam.

 

Inilah saatnya.

 

Aku memeluk Taeyeon dan menenggelamkan wajahku di lehernya.

 

“Whoa..”ujarnya karena terkejut akibat gerakanku yang tiba-tiba. Aku bersiap untuk menggigitnya.

 

BRAK!

 

Sial. Tubuhku terpental ke dinding rumahnya.

 

“Tch, ternyata Yuri benar..”ujar Taeyeon. Sambil mencengkram erat tongkat sihirnya dan berjalan mendekatiku.

 

Ia mencondongkan tubuhnya ke arahku. Wajah kami sangat dekat saat ia mengangkat daguku.

 

New born..”ujarnya seraya tersenyum.

 

Ia menempelkan ujung tongkatnya ke leherku,”aku rasa kau butuh sedikit pelajaran, Ms.Hwang…”bisiknya, tepat di telingaku.

 

TBC

 

SORRY FOR SHORT UPDATE! HEHE

 

STAY AWOSONE!!!

 

-kaz

[2/?] We Are Meant To Be

51

[2/?] We Are Meant To Be

 

*****

 

Prolog

 

6 July 1999

 

Taeyeon akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumahnya, mencari Tiffany. Wanita itu belum pulang ke rumah bahkan di waktu selarut ini. Taeyeon khawatir karena jam kerja Tiffany sudah sangat lewat.

 

Ia menyusuri daerah sekitar tempat kerja Tiffany dan terus mencari dengan panic.

 

“T-Taeyeon…K-Kim…Taeyeon…”

 

Taeyeon mendengar itu. Itu suara wanitanya, Tiffany Hwang. Tanpa pikir panjang Taeyeon segera mencari sumber suara. Tapi sesampainya di tempat yang dituju, ia melihat pemandangan yang membuatnya lemas. Ia mengeluarkan tongkat sihirnya, bersiap untuk menyerang. Tapi ia tak sanggup berkata apa-apa.

 

Tiffany tergeletak tak berdaya di jalanan dan berlumuran darah. Seseorang, atau Taeyeon menyebutnya ‘sesuatu’ itu mengeluarkan geraman, matanya bersinar. Hanya itu yang Taeyeon lihat sebelum makhluk itu pergi membawa Tiffany dengan kecepatan yang sangat tidak masuk akal.

 

Prolog End

 

Author’s POV

 

Taeyeon dan Yuri duduk termenung di teras rumah Taeyeon. Yuri terus memperhatikan pria di sebelahnya yang kini tengah mencengkram rambutnya. Ia tak henti-hentinya menangis.

 

Yuri akhirnya melakukan apa yang ingin ia lakukan sejak tadi. Akhirnya ia menepukan tangannya di pundak Taeyeon. Sedangkan yang lainnya hanya diam dan melihat. Termasuk Tiffany. Wanita itu diam seakan tak mengerti apa yang terjadi.

 

“Sudah siap mendengarkan cerita sebenarnya?”tanya Yuri.

 

Taeyeon menghela nafasnya, ia mencoba menenangkan dirinya. Ia merasa sangat kacau sekarang. Ia sangat bahagia saat mengetahui wanita yang paling ia cintai masih hidup, tapi ia sangat sedih karena walaupun Tiffany hidup, jiwanya tidak bersamanya.

 

“Baiklah…”ujarnya.

 

Yuri mulai bercerita.

 

Flashback

 

“KYAAAA!”

 

Yuri mendengar teriakan seorang wanita saat ia sedang menikmati malam. Ia langsung bergegas untuk mencari tahu apa yang terjadi. Dan ia melihat semua itu, seorang wanita sedang mencoba melepaskan diri dari beberapa orang yang mabuk. Awalnya Yuri hanya mengawasi dari jauh, sampai salah satu dari orang-orang itu menusukan pisaunya pada Tiffany berkali-kali dan meninggalkan wanita malang itu begitu saja.

 

Yuri mengejar orang-orang itu dan membunuhnya satu persatu. Dan pada saat ia kembali, ia hampir saja kehilangan wanita itu. Yuri menatapnya dengan iba, melihat wanita dihadapannya tergeletak tak berdaya dan terus menyebut nama yang tak terlalu jelas di telinga Yuri. Ia mendekati wanita itu dan membisikan sesuatu padanya. Ia sempat melihat name-tag yang digunakan oleh wanita itu.

 

‘Jadi namanya Tiffany Hwang…’pikir Yuri

 

“Aku harap kau punya kesempatan…Tiffany Hwang”bisiknya.

 

“T-Taeyeon…K-Kim…Taeyeon…”

 

Mata Yuri menyala merah dan ia menggigit Tiffany.

 

“KYAAAA!”Tiffany berteriak, merasakan taring Yuri yang tajam seolah mengoyaknya.

 

Dan saat itulah seorang laki-laki datang, Yuritidak melihat jelas wajahnya, tapi Yuri melihat jelas apa yang dibawanya. Sebuah tongkat sihir. Ia mengangkat Tiffany dan membawanya pergi.

 

Flashback End

 

“Kenapa kau melakukan itu?”tanya Taeyeon dingin.

 

“Karena aku melihat ia punya kesempatan…”jawab Yuri.

 

“Hey,pendek…seharusnya kau senang Tiffany ada di hadapanmu sekarang…”ujar Sooyoung yang sedaritadi memang terlihat muak dengan semua ini.

 

 

Taeyeon beranjak dari tempat ia duduk dan menekankan tongkat sihirnya di leher Sooyoung.

 

“Lebih baik aku juga mati, dibanding melihat Tiffany seperti ini. Tidak punya jiwa, dingin, dan pucat”ujar Taeyeon dengan penekanan disetiap kata-katanya.

 

“Tch…dasar manusia, tidak tahu diuntung. Hey, Kwon Yuri, seharusnya kau tidak usah menyelamatkan Tiffany. Biarkan saja dia mati kehabisan darah saat itu”Sooyoung menyeringai lalu menyingkirkan tongkat sihir Taeyeon. Tapi Taeyeon malah langsung menyerang Sooyoung dengan tembakan yang keluar dari tongkatnya. Sooyoung terpental karena hal itu.

 

Taeyeon menginjak Sooyoung,”jangan pernah kau berkata seperti itu lagi”ujarnya lalu masuk ke dalam rumahnya.

 

Yuri yang melihat itu hanya meremas rambutnya, menandakan ia sangat frustasi. Jessica memeluk Yuri, berusaha menenangkan pria yang baru saja menjadi kekasihnya.

 

Tiffany berdiri dari tempatnya,”aku akan menyusulnya…”ujarnya.

 

Semua hanya melihat ke arah Tiffany.

 

“Apa yang kau lakukan, Soo?”tanya Yoong.

 

“Tidak ada..hanya menguji seberapa cintanya pada Tiffany.”ujar Sooyoung enteng.

 

Taeyeon’s POV

 

“Uhm..Hai..”

 

Aku dikejutkan oleh suara wanita dan mengalihkan pandanganku dari jendela.

 

“Tiffany?”ujarku.

 

Berbeda dengan Tiffany yang aku lihat tadi, dingin. Kali ini ia tampak lebih…manusia. Kini ia sedang meremas-remas jarinya. Dulu ia melakukan itu saat ia gugup. Mungkin tidak banyak yang berubah.

“Dengar, Tae…Yeon? Mungkin kita saling mengenal dulu..tapi aku bukanlah Tiffany Hwang yang dulu kau kenal. Sekarang aku…berbeda.”jelasnya.

 

Aku hanya diam.

 

“Aku tidak yakin apa itu, tapi aku merasakan hal yang berbeda saat kau memelukku. Tapi…aku bukanlah Tiffany Hwang. Tubuhku memang tubuhnya. Tapi aku bukan dia. Aku berbeda…”lanjutnya. Kalau ia manusia, mungkin ia sudah menangis sekarang.

 

Aku menarik nafas dalam lalu menghembuskannya. Aku mulai mendekatinya perlahan. Tanganku kini menyentuh wajah pucat dan dinginnya.

 

“Bagiku kau tetap sama. Matamu, hidungmu, bibirmu..bahkan pipimu ini”aku mencubit pelan pipinya.

 

Ia tersenyum. Senyum yang sangat aku rindukan. Senyum yang membuat matanya seolah menghilang dan membuatnya bertambah manis. Dan tiba-tiba saja ia memelukku. Aku tersenyum kecil, dan perlahan mengelus rambutnya.

 

“As…taga…” “Oh my God…”

 

Dengan cepat kami melepaskan pelukan kami dan melihat siapa yang datang.

 

Itu teman Yuri yang bernama Yoong dan Hyoyeon.

 

“Kau lihat itu, Hyo?”tanya Yoong dengan wajah terperangah.

 

Hyoyeon mengangguk,”Tiffany tersenyum. After all this year.”

 

Aku melihat ke arah Tiffany yang kini sudah memasang kembali wajah dinginnya.

 

Aku berdehem dan menyadarkan mereka berdua’”sebaiknya kalian menetap di sini dulu..”ujarku lalu berjalan melewati mereka yang masih terkejut.

 

Aku bisa mendengar suara Hyoyeon yang berkata,”Hey, Tiffany Hwang! Kenapa kau tidak pernah tersenyum seperti itu pada kami?!”

 

Aku menghampiri Yuri yang kini tengah duduk berdampingan dengan Jessica.

 

“Yuri”

 

“Taeyeon? Ada apa? Hey Soo, cepat minta maaf!”ujarnya.

 

“Tidak perlu. Aku hanya ingin memberitahukan kalau kalian sebaiknya menetap di sini dulu.”

 

“Di sini?! Di rumah kec-emph!”kata-kata Sooyoung terputus saat gadis bertubuh kecil, kalau tidak salah namanya Sunny membekap mulutnya.

 

“Terima kasih, Taeyeon”ujar Sooyoung lagi.

 

Kami semua masuk ke dalam rumahku.

 

“Taeyeon, maafkan aku..tapi sepertinya kami tidak akan muat di sini.”ujar Yoong.

 

“Jangan melihat dengan mata vampire-mu”ujarku.

 

Aku mengeluarkan tongkat sihirku dan mengetukkannya pada dinding rumahku yang terbuat dari batu bata.

 

Tak lama kemudian sebuah tangga muncul.

 

“Ikuti aku…”

 

Mereka semua mengikutiku naik ke atas.

 

Yuri’s POV

 

Kami semua mengikuti Taeyeon. Dan, dikejutkan oleh pemandangan mewah yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

 

“Pilihlah kamar kalian. Aku tahu kalian tidak butuh tidur. Tapi mungkin kalian ingin menggunakannya untuk yang lain, aku tidak tahu.”Taeyeon meninggalkan kami.

 

“Aku mencintai sihir.”ujar Hyoyeon dengan wajah kagum.

 

“Aku juga..”gumam Yoong.

 

Aku segera menyusul Taeyeon. Sedangkan Jessica menunjukan kamar-kamar yang ada.

 

“Taeyeon. Terima kasih..”ujarku.

 

Ia melihat ke arahku,”tidak, Yul.”

 

Ia mendekatiku dan menyentuh pundakku,”terima kasih.”

 

Aku membalas senyumnya dan menganggukan kepalaku.

 

Saat aku hendak naik, aku bertemu Jessica di tangga.

 

“Hai”ujar kami bersamaan.

 

Aku menggaruk tengkukku,”kau ingin tidur?”

 

Ia menganguk.

 

“Baiklah..aku akan menjagamu.”ujarku sebelum mengikutinya.

 

“Yul, kau tidak lelah?”tanyanya.

 

Aku menggeleng dan memeluknya dari belakang,”aku tidak pernah lelah, Sica-baby”

 

“Sica-baby? Hahaha”ia tertawa keras.

 

“Kenapa? Panggilan itu lucu untukmu. Kau tidak suka ya?”

 

Ia menggeleng,”aku sangat menyukainya, hanya saja kita baru beberapa jam resmi menjadi kekasih, Yul. Aku belum memikirkan panggilan untukmu, dan kau sudah menemukannya. Jangan-jangan kau sudah memikirkannya sebelum menyatakan perasaan padaku?”

 

Tepat sekali.

 

“T-Tentu tidak, hehe”jawabku lalu memeluknya lagi.

 

Kami diam dan saling bertatapan. Aku berinisiatif untuk menarik dagunya dengan tujuan mempertemukan bibir kami. Tapi, ia menahannya.

 

“Whoa, kau mau apa?”tanyanya.

 

“Menciummu?”

 

Ia terkekeh,”bukankah vampire seharusnya tidak memiliki hasrat seperti itu?”

 

Aku tersenyum kecil.

 

“Aku tidak bisa tahan denganmu”kataku, lalu langsung mencium bibirnya.

Ia tampak terkejut dengan perlakuanku, tapi kemudian ia membalas ciumanku. Bahkan ia mulai melingkarkan tangannya di leherku. Membuatku mengeratkan pelukan tanganku di pinggangnya.

 

Tak lama setelah itu kami melepaskan bibir kami. Aku melihatnya yang terengah-engah dan wajahnya memerah. Membuatku mencium pipinya.

 

“Lain kali, kau harus ingat kalau aku manusia dan membutuhkan oksigen, Kwon Yuri”ujarnya dan mencubit pelan pipiku.

 

Aku memeluknya dan tersenyum,”I love you…

 

Love you too, vampire boy

 

TBC

 

STAY AWESONE! <3

 

-kaz